La Paz, Gontornews — Presiden Bolivia, Evo Morales, mengundurkan diri dari posisinya, Senin (11/7), waktu setempat, menyusul kekacauan yang terjadi akibat sengketa pemilihan umum yang mendera negaranya.
Sebelumnya, pengawas internasional menyerukan agar hasil pemilu dibatalkan karena mereka menemukan manipulasi dari pemilihan umum yang diselenggarakan pada 20 Oktober yang lalu.
Menanggapi laporan tersebut, Presiden Morales mengumumkan niatnya untuk mengadakan pemilihan baru setelah merombak susunan badan pemilihan umum negara. Alhasil sejumlah pihak seperti politisi, militer dan kepolisian mendesak Morales untuk mengundurkan diri.
Dalam pidato pengunduran dirinya, Morales menyebut langkah ini dilakukan demi kebaikan negara yang telah dipimpinnya selama 14 tahun. Morales juga menyebut ada “penumpang gelap” yang telah menghancurkan sistem demokrasi di Bolivia.
“Pasukan gelap telah menghancurkan demokrasi,” ungkapnya dalam pidato yang disiarkan oleh Televisi lokal.
The Guardian melaporkan bahwa pengunduran Morales tidak lama setelah Panglima Angkatan Bersenjata Bolivia, Williams Kaliman, mendesaknya untuk turun dari kursi Presiden demi menjaga keamanan serta menjaga stabilitas negara.
“(Pengunduran diri Morales dari) kursi Preiden memungkinkan pengamanan serta stabilitas untuk kebaikan Bolivia,” kata Kaliman.
Selain Morales, Wakil Presiden Bolivia, Alvaro Garcia Linera, juga mengundurkan diri.
Sementara itu, pesaing Morales, Carlos Mesa, mensyukuri kekalahan Morales. Ia pun menyebut bahwa pemilihan umum yang baru rawan kecurangan dan penipuan.
“Saya tidak akan pernah melupakan hari bersejarah ini. Tiranipun berakhir. Saya bersyukur sebagai warga Bolivia atas pelajaran bersejarah ini,” katanya menanggapi pemunduran diri Morales dan Alvaro Garcia Linera.
Sebelum hari Ahad, Mesa mengatakan Morales dan Garcia Linera harus didiskualifikasi karena berpartisipasi dalam pemilihan baru karena telah melakukan penipuan. [Mohamad Deny Irawan]






















