Abuja, Gontornews — Presiden terpilih Gambia, Adama Barrow, telah melakukan perjalanan ke ibukota Mali untuk bertemu dengan para pemimpin yang menghadiri KTT yang diselenggarakan bersama dengan Prancis di Mali karena ketidakpastian muncul dalam krisis politik di Gambia.
Kunjungannya ke Bamako dilakukan setelah upaya terakhir pada hari Jumat (13/1) oleh tim mediasi regional yang dipimpin oleh Presiden Nigeria Muhammadu Buhari untuk membujuk pemimpin lama Gambia Yahya Jammeh untuk mundur gagal.
Jammeh awalnya mengakui kekalahan pemilu di bulan Desember dengan 1 suara, namun kemudian membalikkan posisinya, dan membawa persoalan hasil pemilu ini ke Mahkamah Agung. Tujuannya untuk membatalkan hasil pemilu dan menggelar pemilu baru.
Barrow dijadwalkan dilantik sebagai Presiden Gambia pada tanggal 19 Januari, namun Jammeh telah bersikukuh tidak akan menyerahkan kekuasaan sebelum ada putusan Mahkamah Agung. Keputusan itu tidak mungkin terjadi sebelum Mei ini.
Satu sumber diplomatik Prancis mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa Presiden Francois Hollande “bermaksud untuk bertemu” Barrow.
Sementara Masyarakat Ekonomi Negara Afrika Barat (ECOWAS), sebuah blok beranggotakan 15 negara, telah berulang kali menyerukan Jammeh untuk menghormati hasil pemungutan suara dan mundur setelah 22 tahun berkuasa.
ECOWAS sebelumnya telah mengatakan akan melakukan intervensi militer, dipimpin oleh Senegal, jika Jammeh tidak mau melepaskan kekuasaannya.
“Taruhannya sangat tinggi,” kata Bakary Darbo, mantan Wakil Presiden Gambia. Ia menambahkan, kekuatan militer yang mendukung Jammeh kemungkinan adalah pemimpin pemberontak.
“Semua indikasi menunjukkan akan adanya intervensi militer dalam beberapa hari ke depan,” tulis Aljazeera dari ibukota Nigeria, Abuja. [Rusdiono Mukri]




















