Jakarta, Gontornews — Cendekiawan Muslim, Prof Dr Din Syamsuddin, menilai demonstrasi yang disertai aksi anarkis dan penjarahan merupakan permainan serta rekayasa politik untuk menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto. Karenanya, ia meminta semua pihak, khususnya umat Islam, untuk menahan diri agar tidak terjebak dalam permainan pihak lain.
“Saya membaca yang terjadi ini merupakan sebuah permainan politik, rekayasa politik dari pihak-pihak yang ingin menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto,” kata Prof Din kepada wartawan di kediamannya Jalan Margastawa Raya Nomor 27 Pondok Labu Jakarta Selatan, Rabu (3/9/2025).
Dalam pertemuan yang dihadiri sejumlah tokoh, pimpinan organisasi masyarakat maupun akademisi tersebut, Prof Din tidak segan menyebut ada loyalitas ganda dalam susunan kabinet pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini. Untuk itu, ia menyerukan penggantian kabinet di pemerintahan Prabowo yang terindikasi memiliki loyalitas ganda.
“Saya meminta Presiden untuk segera mengambil sikap tegas dan cepat, untuk mengatasi keadaan ini, dengan mengganti para pembantunya yang selama ini menampilkan loyalitas ganda, baik pada Presiden (Prabowo Subianto) dan juga pada Presiden sebelumnya,” tandas Din.
“Cepat, selamat. Lambat, dibabat!” tegasnya menambahkan.
Sementara itu, Pakar Hukum Tata Negara, Prof Dr Jimly Asshidqie, yang juga hadir di Pondok Labu, meminta Presiden untuk berdiskusi sebanyak mungkin dengan elemen bangsa. Pasalnya, dalam pembentukan kebijakan atau public policy, yang menyangkut hajat hidup orang banyak memerlukan masukan dari banyak pihak.
“Presiden harus belajar dan mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Jangan mentang-mentang sedang menjabat di DPR atau duduk di pemerintahan, sombong, tidak mau mendengar. Saya rasa ini jadi pelajaran. In syaa Allah bisa diselesaikan,” ungkap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut. [Mohamad Deny Irawan]
























