Bogor, Gontornews — Memperingati Hari Pangan se-Dunia, Guru Besar IPB Prof Dr Made Astawan mengingatkan telah terjadi ketimpangan pada pola konsumsi pangan Indonesia, yang bertumpu pada satu sumber karbohidrat utama, yakni beras.
Padahal sejatinya Indonesia memiliki keragaman tinggi bahan pangan sumber karbohidrat (lebih dari 30 jenis pangan), dengan komposisi gizi yang tidak kalah dengan beras dan sagu. “Perlu pemberdayaan pangan lokal dalam rangka ketahanan pangan dan Indonesia,” katanya seperti dilansir antaranews.
Dia mengusulkan tiga strategi yang dapat dilakukan pemerintah dalam menghadapi jebakan pangan itu dan mengembalikan kecintaan masyarakat terhadap pangan dalam negeri.
Pertama, perlu evaluasi terhadap kebijakan pemerintah berupa pemberian raskin kepada rakyat yang membutuhkan, tanpa mempertimbangkan budaya dan pola pangan kedaerahan yang telah ada.
Kedua, perlu menghidupkan kembali optimalisasi budidaya pangan setempat. Ketiga, perlu program diversifikasi produk berbasis pangan setempat.
“Diversifikasi pangan berbasis pangan setempat dapat dimulai dari teknologi penepungan. Seperti makanan tradisional masyarakat Jawa Barat, Cireng, kini dibuat dengan beragam model dan juga rasa, ini contoh sederhana yang bisa dilakukan,” katanya.
Ia menjelaskan penepungan dibanding bahan segar memiliki keunggulan seperti lebih awet, mudah disimpan, mudah dalam transportasi, dan penjualan, serta lebih mudah dan praktis dalam aplikasinya pada pembuatan berbagai produk, di antaranya mi, beras analog, aneka kue, dan lainnya.
“Dengan bentuk tepung, maka orientasi pengguna pangan setempat akan menjadi lebih luas, dengan konsep dari pertanian ke meja makan menjadi dari pertanian ke pasar sehingga petani termotivasi menghidupkan perekonomian daerah,” katanya. [Fathurroji/Rus]





















