Masjid merupakan tempat yang representatif dan akomodatif untuk anak melakukan aktivitas. Karenanya, masjid harus memberikan perhatian lebih untuk fasilitas anak bermain, agar anak semakin mengenal masjid di usia dini.
Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia (DMI) Dr H Imam Addaruqutni, MA mengatakan, DMI memiliki program unggulan bernama Masjid Ramah Anak, di antara tujuannya yaitu untuk mendekatkan anak ke masjid.
“Kreativitas pengurus masjid menjadikan program ramah anak menjadi tantangan tersendiri di tengah membanjirnya permainan pada gadget anak,” ungkapnya kepada Majalah Gontor saat ditemui di kampus PTIQ Jakarta Selatan, Kamis (19/1).
Imam mengatakan, masjid bisa menjadi play ground atau pusat bermain anak. Jangan sampai ada pengumuman anak-anak dilarang bermain di masjid. “Jika ada masjid yang melarang anak bermain di area lingkungannya maka masjid itu tidak ramah anak,” tuturnya.
Berikut kutipan wawancara wartawan Majalah Gontor, Fathurroji NK, bersama Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia (DMI) Dr H Imam Addaruqutni, MA yang juga Wakil Rektor PTIQ Jakarta Selatan, dan Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat.
Apa yang melatarbelakangi program masjid ramah anak?
Era pembangunan yang sangat pesat berbarengan dengan budaya digital secara massif, internet yang tidak asing, dan penggunaan gadget yang tinggi, sementara dunia internet yang begitu bebas, menjadikan masjid mengalami semacam keterputusan generasi sehingga masjid jauh dari anak.
Sementara anak asyik dengan permainan di gadget, tingkat kriminalitas di luar yang cukup tinggi sehingga anak terisolasi dari masjid. Bahkan terkadang orang tua melarang keluar. Berlatar belakang itu, maka masjid dalam pemikiran DMI perlu direvitalisasi perannya, dalam konteks ini menjadikan masjid ramah anak.
Bagaimana konsep sederhana masjid ramah anak?
Konsep ramah anak itu, seperti umumnya tingkah laku anak itu cenderung sembrono, kurang memikirkan akibatnya. Padahal masih banyak masjid yang lantainya licin, instalasi listrik yang kurang rapi yang bisa membahayakan anak, atau sarana masjid yang belum memiliki play ground untuk anak.
Bagaimana tanggapan Anda terhadap masjid yang melarang anak bermain?
Justru sebaiknya anak bermain di masjid. Bagaimana bisa mendatangkan generasi masjid, jika anak dilarang bermain di masjid? Ketika kami keliling ke beberapa masjid, masih ada papan pengumuman di masjid yang bertuliskan anak-anak dilarang bermain. Semoga masjid bisa lebih memperhatikan anak-anak yang sudah mau di masjid.
Kami beranggapan bahwa transformasi budaya yang semakin pragmatis, jika tidak difilter akan berbahaya bagi anak. Itu semua akan mempengaruhi kehidupan anak, dalam jangka panjang bisa berbahaya untuk anak. Karena itu, gagasan DMI ingin menyambungkan kembali atau menghidupkan kembali regenerasi masjid. Dengan menghadirkan play ground atau tempat bermain anak di masjid, sehingga anak bisa bermain dengan leluasa dan menyenangkan.
Kira-kira apa manfaat jika masjid ada play ground?
Revitalisasi terhadap fungsi masjid ini, jika ini diadakan lagi in syaa Allah masjid menjadi tempat yang paling aman untuk bermain. Bisa menjadi tempat yang paling menyenangkan bagi keluarga untuk membawa anaknya ke masjid. Baru-baru ini, kami ke Kalimantan Tengah meresmikan masjid baru, yang dilengkapi play ground dan bisa diakses free. Dan itu bisa mendekatkan anak dan orangtua ke masjid. DMI juga sudah menghidupkan 3500 PAUD berbasis masjid. Ketika anak di PAUD sudah ada tempat untuk bermain anak.
Anak-anak itu memiliki dunia bermain, tapi jangan tanpa isi, untuk itu masjid harus merancang untuk melibatkan anak-anak milenial yang juga sebagai remaja masjid untuk ikut serta dalam menjembatani anak ke masjid. Bahkan masjid hendaknya juga memberikan akses wifi gratis.
Manfaat lain dari masjid untuk anak-anak?
Masjid tempat sosialisasi yang paling efektif, karena di sana ada orangtua, ada teladan-teladan, tokoh-tokoh, anak-anak juga diperkaya spiritual dan pengalamannya. Dan ini harus dihidupkan pada saat ini, jika tidak dihidupkan anak-anak akan menjadi generasi yang sesuai budaya sekarang, yang semuanya terkooptasi dengan sistem yang tercerabut dari nilai-nilai ajaran Islam.
Untuk menyiapkan masjid yang ramah anak, apa yang dilakukan DMI?
DMI selama ini telah mengadakan pelatihan, baik pelatihan manajemen masjid yang berlangsung secara bertahap di masjid-masjid. Pelatihan manajemen program-programnya, saya sendiri juga melatih masjid-masjid. Masjid juga harus membuat program yang menarik untuk remaja, dengan mengundang pembicara yang mengerti tentang remaja, ustadznya harus benar-benar memahami karakter anak sehingga tidak asing dalam menyampaikan.
Bagaimana Nabi Muhammad memperlakukan anak di masjid?
Suatu saat Nabi yang rumahnya menempel dengan masjid, masjid semakin penuh dan kemudian Nabi membuat tsaqifah yang bicara tentang politik, tsaqifah yang bicara bisnis, tsaqifah tentang pemberantasan buta huruf. Kalau sudah selesai shalat, dari masing-masing tsaqifah banyak bertanya tentang apa saja. Nah, tiba-tiba ada anak-anak bermain, salah satunya anak Yahudi, yang tiba-tiba kencing di masjid. Melihat anak kencing di masjid, Umar bin Khattab berdiri mau memukul anak itu, tapi Nabi melarang memukulnya.
Berapa jumlah masjid ramah anak saat ini?
Kami sudah menjadikan ini menjadi Gerakan DMI. Saat ini jumlah masjid yang menerapkan masjid ramah anak masih jauh dan sedikit. Karena kami baru mulai. Begitu juga manajemen masjid masih jauh dari ideal. Karena tidak melakukan manajemen yang bagus.
Selama ini pengelolaannya asal ada yang dituakan, ada yang adzan, kran tidak bocor, tapi bagaimana memikirkan bagaimana manusianya, padahal itu semua bisa tumbuh kalau masjid berbasis program, dan berbasis pada masyarakat banyak. Jadi kalau anak-anak bisa masuk ke masjid, secara tidak langsung orangtua ikut mengawasi.
Apa imbauan DMI menjelang datangnya Ramadhan?
Menjelang puasa Ramadhan, remaja masjid banyak yang meramaikan masjid. Remaja ini karena posisinya antara out going dan young generation harus dikelola dengan baik. Masjid juga harus memikirkan internetisasi masjid.
Masjid ramah anak ini kalau boleh menjadi program unggulan di semua masjid yang ada di Indonesia, maka masjid akan lebih makmur, sejahtera dan lebih bagus. Anak akan membutuhkan tempat yang paling akomodatif, dan itu ada di masjid. Para DKM, orangtua, takmir, harus memikirkan percepatan program masjid ramah anak ini. []



















