Tokyo, Gontornews — Sekelompok tim ahli Jepang memprediksi 400.000 orang tewas akibat COVID-19 di Jepang andai pemerintah tidak mengambil langkah tegas guna meredam virus tersebut. Sebagaimana diketahui, Jepang membentuk sebuah tim untuk membantu menghentikan COVID-19.
Dalam kajiannya, mereka memprediksi bahwa kasus COVID-19 di Jepang akan mencapai puncaknya dalam 60 hari ke depan. Pada puncaknya, 200.000 orang berusia 15-64 tahun akan terinfeksi COVID-19. Sementara 650.000 pasien berusia 65 tahun ke atas berada dalam pemantauan khusus karena berada dalam kondisi serius. Secara total, ada sekitar 850.000 membutuhkan ventilator.
NHK melansir jika penelitian tersebut juga dikuti dengan prediksi kematian pasien akibat minimnya ketersediaan ventilator.
Salah seorang anggota tim peneliti, Profesor Nishiura Hiroshi dari Hokkaido University mengatakan bahwa mengurangi kontak antar warga menjadi cara paling efektif dalam membendung penyebaran COVID-19. Ia pun meminta agar warga mengurangi kontak antar warga dan meminimalisir kontak dengan orang lain.
Pemerintah Jepang pun didesak untuk melakukan segala daya untuk membatasi interkasi antar warga hingga 70 Persen. Pemerintah pun mempertimbangkan permintaan dari mitra koalisi Komeito untuk memberikan 100.000 Yen per orang selama pembatasan diberlakukan. Bantuan setara dengan 14,6 Juta Rupiah per orang tersebut diharpakan dapat meringankan beban ekonomi warga maupun kalangan bisnis.
Berdasarkan data John Hopkins University, Jepang mengonfirmasi 8.100 kasus penularan COVID-19 pada 15 April 2020 dengan 145 diantaranya meninggal dunia. [Mohamad Deny Irawan]






















