Virginia, Gontornews – Sebuah penelitian dari National Science and Frick Postdctoral Fellowship in Museum of Paleontology menunjukkan bahwa rahasia kecepatan ceetah berada pada organ pendengarannya. Periset berusaha untuk menyelidiki kemampuan sensorik ceetah dari organ penjaga keseimbangan tubuh yaitu telinga. Peneliti sepakat bahwa telah terjadi evolusi pada organ pendengaran ceetah di masa lampau dengan ceetah di masa kini.
“Jika melihat ceetah lari dalam gerakan lambat, anda akan melihat gerakan yang luar biasa: kaki, punggung dan otot-oto ceetah bergerakan secara terkoordinasi. Tapi kepalanya hampir tidak bergerak sama sekali,” kata penulis utama Camille Grohe sebagaimana dilansir scietechdaily.
“Telinga bagian dalam ceetah rupanya mengambil peran penting dalam memudahkan ceetah menjaga stabilitas visual dan postur saat berlari dan menangkap mangsa dengan kecepatan hingga 65 mil per jam. Hingga saat ini, belum ada penelitian yang membahas tentang peran telinga pada hewan tercepat di dunia ini,” tambah Grohe.
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan terhadap 21 tengkorak ceetah yang terdiri dari 7 ceetah modern (Acinonyx jubatus) dan seekor ceetah purba (Acinonyx pardinensis) yang hidup di masa Pleistosen dengan menggunakan pemindaian X-Ray beresolusi tinggi. Data pemindaian yang dihasilkan kemudian dibuat secara terperinci melalui gambar tiga dimensi yang fokus pada pengamatan alat pendengaran masing-masing spesies.
Hasilnya, mereka menemukan bahwa telinga bagian dalam ceetah purba berbeda dengan ceetah yang hidup di masa kini. Telinga ceetah masa kini memiliki sistem vestibular dan kanal semisirkular anterior dan posterior yang lebih panjang daripada ceetah masa lalu.
“Anatomi telinga bagian dalam mencerminkan sensitivitas yang disempurnakan dan respon yang lebih cepat terhadap kepala telah menjelaskan kemampuan luar biasa yang dilakukan ceetah selama ini. Ceetah mampu menjaga stabilitas visual dan menjaga pandangan mereka tetap terfokus pada mangsa saat berburu meski berada pada kecepatan yang sangat tinggi,” ungkap John Flynn dari the Frick Curator of Fossil Mammals in the Museum’s Divison of Paleontology.
“Dengan menggunakan peralatan berteknologi tinggi untuk melihat tengkorak spesies kucing modern maupun fosil ini, kami telah menemukan bahwa ada semacam sistem lokomotor dan sensorik yang digunakan pada ceetah saat berburu baik di zaman modern maupun di zaman purba,” ujar Grohe dalam tulisan berjudul Recent inner ear specialization for high-speed hunting in cheetahs yang dipublikasikan pada jurnal Scientific Reports.
“Nenek moyang ceetah telah ‘mewarisi’ tulang ramping yang memungkinkan mereka berlari sangat cepat dan memiliki telinga yang sangat peka terhadap gerakan kepala sekaligus menahan kepala mereka tetap pada posisinya,” pungkas Grohe menambahkan. [Mohamad Deny Irawan]





















