Ide “One Pesantren One Product” digagas oleh Pendiri dan Pemilik HPA International Malaysia Tuan Haji Ismail bin Haji Ahmad. Dengan gagasan ini ia ingin membantu pondok pesantren di Indonesia membangun kemandirian secara finansial. Seperti apa gagasan itu?
Sejumlah pengurus Forum Pesantren Alumni Gontor (FPA), Forum Bisnis Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor (Forbis), dan Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Pondok Modern Gontor (YPPPM), dipimpin Ketua Umum FPA Dr KH Zulkifli Muhadli, melakukan kunjungan ke sejumlah tempat di Malaysia atas undangan HPA International Malaysia, 9-12 April 2018.
Mereka antara lain mengunjungi kantor marketing HPA di Glen9, Shah Alam, Selangor Darul Ehsan, dan pengilangan atau pabrik produk-produk HPA di Arau, Perlis.
“Ini bukan kunjungan bisnis semata, tapi kunjungan bisnis yang dimotivasi dan dilandasi oleh niat Lillahi Ta’ala untuk perjuangan yang awalnya didasari oleh niat yang visioner dari Tuan Haji Ismail untuk memberi pengkhidmatan kepada umat di bidang halal food dan halal medicine yang kurang banyak disadari oleh tokoh-tokoh umat,” ujar Zulkifli kepada Majalah Gontor yang ikut serta dalam kunjungan itu.
Tuan Haji Ismail adalah pendiri dan pemilik HPA International yang berkantor pusat di Perlis, Malaysia. Saat ini HPA memiliki 25 perusahaan mulai dari agribisnis, produsen obat-obat herba, sampai produksi makanan halal.
Lebih jauh Zulkifli menuturkan, tidak banyak tokoh umat atau ulama yang mempunyai pengetahuan di bidang halal food dan halal medicine. “Tuan Haji Ismail mempunyai kelebihan yang tak dimiliki oleh ulama lain, yaitu di bidang pengobatan halal,” paparnya.
Ia mengakui, semula ia datang ke Malaysia untuk menjajagi kemungkinan kerjasama bisnis halal food dengan HPA. Tapi, setelah memperoleh penjelasan dari Tuan Haji Ismail, niat awal itu berubah.
“Sesampai di sini, ternyata kita akan ikut berjuang bersama-sama dengan HPA untuk menghilangkan keragu-raguan umat akan halal food, medicine food, dan Tibbun Nabawi,” ujarnya.
Kerjasama dengan HPA, lanjut Zulkifli, akan menimbulkan harapan bagi tumbuhnya kekuatan ekonomi umat Islam dengan cara memproduksi barang-barang dan jasa secara mandiri, sebagaimana telah dilakukan oleh HPA.
Menurut alumnus Gontor itu, kerjasama FPA dengan HPA paling tidak mencakup empat hal. Pertama, mewujudkan One Pesantren One Product, dan ini dimulai dari transfer teknologi, baik di bidang teknologi pertanian, teknologi industri, teknologi pengolahan dan lainnya.
Kedua, agar di setiap pesantren anggota FPA ada klinik pengobatan cara nabi atau klinik Tibbun Nabawi.
Ketiga, mewujudkan agar produk-produk halal buatan pesantren itu bisa sampai ke umat. Karena itu melalui kerjasama ini,
“Kita akan mewujudkan satu pesantren satu halal mart. Bukan sekedar mart tapi halal mart. Kita menjamin semua barang yang tersedia di dalamnya itu halal.”
Keempat, melalui kerjasama ini diharapkan akan ada trasfer atau alih teknologi dari HPA kepada pesantren-pesantren di Indonesia, khususnya anggota FPA.
Sementara itu Ketua Forbis H Agus Maulana SS mengatakan, kerjasama antara Forbis, FPA, dan YPPPM Gontor, dengan HPA International bukan untuk menjadikan pesantren sebagai pasar bagi produk-produk HPA.
“Kerjasama ini bukan untuk menjadikan pesantren sebagai market, tapi bagaimana agar pesantren atau pengusaha alumni (Gontor, Red) bisa mendapatkan transfer teknologi untuk pengembangan produk, penyediaan bahan baku, pengelolaan, dan pengemasannya,” ujar Agus Maulana.
Menurutnya, pondok pesantren sangat membutuhkan teknologi untuk pengembangan produk yang dibutuhkan oleh santri. Sebab, dengan cara itu pesantren bisa mandiri memenuhi kebutuhannya. “HPA mempunyai teknologi itu dan siap untuk mengajari kita,” paparnya.
Alumnus Gontor itu menyebutkan, melalui program One Pesantren One Product yang digagas oleh HPA, pondok pesantren akan dibantu dengan teknologi untuk membuat suatu produk dan memasarkannya.
Begitu pula dengan pengusaha anggota Forbis akan dibantu agar menghasilkan produk yang mempunyai kualitas standar manufaktur. “Bukan lagi kualitas home industry,” terang pengusaha ban asal Subang itu.
Hulu sampai hilir
Tuan Haji Ismail mengatakan, program One Pesantren One Product tidak dimaksudkan untuk membuat seseorang menjadi kaya, tidak untuk kepentingan individu. Program ini juga tidak untuk mencari keuntungan (benefit) dari pondok pesantren. “Sangat malu kita, kalau itu yang kita cari. Guru-guru kita di Gontor tidak digaji. Semua bekerja karena ikhlas,” papar pria 55 tahun itu.
HPA, kata Tuan Haji Ismail, akan membantu pesantren untuk membuat produk-produk yang dibutuhkan santri. Untuk itu HPA akan melakukan transfer ilmu dan teknologi kepada pesantren. “Transfer ilmu itu tak perlu bayar. Kami ikhlas. Kita harus melayani umat, menjadi khadam,” paparnya.
Menurut Tuan Haji Ismail, pondok pesantren bisa menguasai teknologi dari hulu hingga hilir. Untuk memproduksi saus misalnya, selain membuat saus, pesantren juga harus membuat botolnya. Memproduksi sendiri labelnya dan memasarkan produk sausnya sendiri melalui outlet-outlet yang ada di pondok pesantren.
Ia menuturkan, dengan menguasai teknologi dari hulu sampai hilir, maka kita bisa menjamin kehalalan suatu produk. Karena itulah HPA memproduksi sendiri cangkang kapsul demi menjamin kehalalan produk-produknya.
Demi mendukung program One Pesantren One Product HPA saat ini sedang membangun International Halal Park di Dusun Sidosari, Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Sleman, Yogyakarta. Di sini nanti akan dibuka pusat pelatihan pengobatan cara Nabi atau Tibbun Nabawi untuk kalangan pesantren. []





















