Bulan Ramadhan menjadi bulan yang berkah bagi umat Islam di dunia. Bagaimana tidak, secara ekonomi, bulan Ramadhan menjadi momentum penting bagi seluruh masyarakat di dunia.
Bagi umat Islam, Ramadhan bukan saja berkah dalam ekonomi, tapi lebih dari pada itu, merupakan momentum untuk merevolusi diri dari seorang Muslim-Mu’min menjadi seorang Muttaqin-Mukhlishin.
“Keshalihan ritual yang didapatkan seorang individu pastilah berdampak pada keshalihan sosial seseorang,” kata Wakil Pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 1 Mantingan, Ngawi, Ustadz Ahmad Suharto, kepada Majalah Gontor.
“Dalam Islam, ada kewajiban-kewajiban yang sifatnya individual dan juga sosial. Banyak tugas agama yang tidak mungkin ditunaikan tanpa berjamaah,” imbuhnya.
Berangkat dari hal itu, wartawan Majalah Gontor, Mohamad Deny Irawan, berkesempatan mewawancarai pria kelahiran Balun Saudagaran, Blora, Cepu, 30 Oktober 1965, itu terkait keutamaan dan cara terbaik seorang Muslim menyikapi bulan Ramadhan. Berikut kutipan wawancaranya:
Bagaimana seharusnya seorang Muslim menyambut datangnya bulan Ramadhan?
Seorang Muslim yang memahami keutamaan bulan Ramadhan pasti akan gembira, penuh suka cita dan antusias dalam menyambut kehadiran bulan Ramadhan. Dia tidak ingin melewatkan momentum menggapai rahmah, maghfirah serta ‘itqun minannar melalui ibadah Ramadhan. Bahkan dia akan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyongsong kehadiran Ramadhan bak sambutan seorang yang mengetahui kedatangan tamu mulia nan terhormat ke rumahnya. Sudah tentu, dia akan menyiapkan segala sesuatu untuk menghormati tamunya tersebut.
Di antara persiapan diri dalam menyongsong Ramadhan yaitu dengan melunasi hutang puasa tahun lalu jika ada tanggungan, memperbarui tobat dan istighfar dengan penyesalan yang tulus atas semua dosa dan perilaku tercela, mempersiapkan kesehatan badan agar kuat menunaikan ibadah puasa, mempersiapkan dana untuk banyak berinfaq dan bershadaqah, mempelajari fiqih puasa dan hal terkait lainnya agar puasa kita lebih berkualitas karena didasari ilmu yang nyata.
Perbaikan ibadah sudah tentu menjadi tema umum dalam bulan Ramadhan. Cukupkah demikian?
Tentu saja tidak. Perlu diketahui bahwa ibadah ibarat akar bagi pohon iman kita. Bila akarnya sehat dan kuat menghujam ke dasar tanah, pertumbuhan batang, cabang, ranting, daun hingga buah pohon akan tertopang.
Ramadhan adalah momentum untuk merevolusi diri, proses bermetamorfose dari ulat menjadi kupu-kupu, dari Muslim-Mu’min menjadi Muttaqin-Mukhlishin. Maka demi memaksimalkan manfaat Ramadhan hendaknya kita meningkatkan diri dari semua aspek baik dari segi akidah, syariah maupun akhlak. Akidah kita tingkatkan dengan kajian-kajian keilmuan agar segala macam syubhat dan keraguan hilang. Syariah dikuatkan karena akan menjadi jalan dan cara hidup kita, baik berupa ibadah maupun muamalah, demikian pula akhlak kita kepada Allah, sesama manusia, alam semesta dan diri kita sendiri.
Sebuah hadis menyampaikan bahwa bulan Ramadhan terbagi menjadi tiga waktu: 10 hari pertama rahmat (rahmah), kedua ampunan (maghfirah), dan ketiga terbebas dari api neraka (‘itqun minannār). Tapi, masyarakat memplesetkannya menjadi: 10 hari pertama di masjid, 10 hari kedua di pusat perbelanjaan, dan 10 hari ketiga di perjalanan. Pendapat Anda?
Hal itu merupakan fenomena jamak yang kita temukan di masyarakat, kita bisa memahami karena memang budaya dan kultur yang menjadi mainstream kehidupan mereka. Maka kita mesti mempunyai strategi untuk menyongsong Ramadhan, seperti yang diajarkan Nabi. Bulan Rajab mulia mempersiapkan diri dengan memperbanyak puasa, baca al-Qur’an, ibadah malam dan lain-lainnya, bulan Sya’ban semua aspek ditingkatkan, baik ibadah, amal shalih maupun keilmuan dan keimanan, sehingga pada bulan Ramadhan kita sudah benar-benar on fire, dan tidak gamang lagi berpuasa dengan rangkaian ibadah ramadhaniyah-nya, bahkan semakin ke belakang akan semakin mencapai puncak kondisi spiritual kita, terutama pada sepuluh hari yang terakhir. Itulah yang dilakukan Nabi dan para sahabat, beri’tikaf penuh pada sepuluh hari terakhir hingga menggapai lailatul qadar.
Apa yang perlu dibenahi seseorang di bulan Ramadhan?
Hablun minallah dan hablun minnnas, hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia. Jika hubungan dengan Allah dilakukan melalui pintu keimanan dan ibadah, maka hubungan dengan manusia dapat dilakukan dengan berbagai bentuk amal shalih yang memberikan manfaat kepada sesama.
Bagaimana ‘cara’ bulan Ramadhan merevolusi seseorang?
Puasa melatih seseorang agar dapat mengendalikan diri. Orang yang kuat yaitu orang yang mampu mengusai dan mengendalikan nafsunya untuk ketaatan dan kebaikan. Puasa membiasakan muraqabatullah, yaitu kondisi seorang hamba yang selalu merasakan kehadiran Allah. Muraqabatullah mendorong seseorang untuk selalu berbuat yang terbaik di hadapan Allah, sekaligus menghindari hal negatif karena malu dengan Allah. Puasa juga merombak kebiasaan buruk dan negatif menjadi baik dan positif. Contoh, kebiasaan bangun di waktu sahur, menghadiri shalat berjamaah lima waktu, berpuasa, memperbanyak tadarus al-Qur’an, menghadiri majelis taklim, hingga memperbanyak infaq dan shadaqah. Efeknya, seseorang akan menjadi pribadi yang produktif dan efektif dalam hidupnya.
Apakah refleksi bulan Ramadhan hanya bersifat individual?
Seharusnya tidak. Sebagai makhluk sosial, seseorang manusia pasti berinteraksi dengan orang lain dan tidak bisa hidup sendirian. Keshalihan ritual yang didapatkan seorang individu pastilah berdampak pada keshalihan sosial seseorang. Dalam Islam, ada kewajiban-kewajiban yang sifatnya individual dan juga sosial. Banyak tugas agama yang tidak mungkin kita tunaikan tanpa dilaksanakan secara berjamaah.
Fakta di masyarakat, bulan Ramadhan meningkatkan transaksi penjualan, jumlah penonton televisi hingga iklan di media cetak maupun elektronik. Pendapat Anda?
Itu bagian dari keberkahan di bulan Ramadhan. Ramadhan tidak identik dengan kemalasan dan kelesuan. Justru Ramadhan merupakan bulan produktivitas. Banyak kemenangan umat Islam diraih pada bulan Ramadhan, seperti perang Badar, Fathu Makkah hingga kemerdekaan Indonesia. Efek domino dari aktivitas Ramadhan juga menggerakkan sektor ekonomi, industri dan lain-lainnya.
Sebaiknya, umat diarahkan agar produktivitas yang mereka lakukan tidak mubadzir dan sia-sia, apalagi untuk berfoya-foya atau hura-hura. Bazar-bazar sembako yang diadakan haruslah dilakukan demi membantu fakir miskin. Sembako berharga murah sekaligus diniatkan shadaqah. Acara televisi dan konten internet juga harus diperbanyak dengan kajian keislaman, kegiatan keagamaan, social, dan keilmuan.
Masyarakat juga cenderung melaksanakan ibadah umrah di bulan Ramadhan. Apa pendapat Anda?
Ramadhan merupakan keutamaan dan umrah juga keutamaan. Jika dua keutamaan ini bisa dipadukan maka nilai keutamaannya akan berkali lipat. Kita perlu mengapresiasi mereka yang semangat untuk berumrah di bulan Ramadhan. Namun, kita juga berharap agar mereka tidak bersikap egoistis yang hanya membelanjakan hartanya untuk ibadah bersifat individual saja. Semoga mereka juga bersemangat untuk mengentaskan kemiskinan, menyantuni anak-anak yatim dan terlantar, serta memajukan lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Apakah ada kegiatan yang ringan dan produktif di bulan Ramadhan?
Ada dan sangat banyak serta variatif. Kegiatan produktif yang bisa kita lakukan selama Ramadhan yaitu: introspeksi diri (muhasabah nafsi) untuk meningkatkan diri di tahun-tahun selanjutnya, memperbanyak khataman al-Qur’an, mengkhatamkan al-Qur’an minimal sekali sebulan, syukur bisa tiga kali, lima kali atau enam kali. Mempelajari arti (tarjamah) al-Qur’an komplit, memelihara shalat berjamaah lima waktu, rawatib (qabliyah dan ba’diyah), shalat dhuha di pagi hari dan tarawih di malam hari, menghidupkan malam dengan tilawah dan shalat malam (qiyamullail), shadaqah setiap hari, terutama memberi makan untuk buka puasa, membagikan mushaf al Qur’an kepada jamaah dan jenis-jenis shadaqah yang manfaatnya terus mengalir, silaturrahim dengan orangtua dan kerabat dekat, membaca buku-buku agama dan pengetahuan, menulis artikel dan buku, i’tikaf, memperbanyak wirid, dzikir dan doa.
Apa pesan Anda kepada umat Muslim di bulan Ramadhan?
Mari kita syukuri karunia dan nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita berupa bulan Ramadan ini dengan memanfaatkan setiap detiknya untuk melipatgandakan kebaikan. Anggaplah Ramadhan kali ini seolah-olah Ramadhan terakhir bagi kita, karena tidak ada jaminan kalau kita masih akan bertemu dengan Ramadhan berikutnya. Jangan sampai Ramadhan datang dan pergi namun tidak ada bekas kebaikan yang tertinggal dalam diri kita; iman tidak bertambah kuat, ibadah tidak bertambah semangat, amal shalih tidak meningkat, sifat dan perilaku masih seperti dulu. Hal itu sangat disayangkan.
Mari berdoa agar kita dipertemukan dengan Ramadhan, dan kemudian bermujahadah untuk memanfaatkan secara maksimal dengan berbagai ibadah dan amal shalih. Semoga Allah menerima semua kebaikan kita, mengampuni kesalahan dan dosa-dosa kita, serta memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Aamiin. []






















