Gaborone, Gontornews — Pemerintah Bostwana, Afrika Tengah, mengonfirmasi kematian massal 330 gajah sepanjang tahun 2020. Temuan tersebut menyimpulkan kematian ratusan gajah tersebut akibat keracunan cyanobacteria dalam air yang mereka minum.
“Pada tes terbaru, kami mendeteksi kandungan neurotoksin cyanobacterial sebagai penyebab kematian (masal gajah),” ungkap Koordinator Kedokteran Hewan Departemen Satwa Liar dan Taman Nasional Bostwana, Mmadi Reuben, mengutip Anadolu.
Neurotoksin cyanobacteria merupakan organisme berukuran mikroskopis dan terkandung dalam air dan tanah.
“Seekor gajah terlihat berjalan berputar-putar dan tidak dapat mengubah arah sekalipun telah dipandu oleh kawanannya,” kata sebuah yayasan konservasi Elephants Without Borders.
“Beberapa gajah tampak lemah, lesu dan terlihat kurus. Mereka menunjukkan tanda-tanda disorientasi hingga kesulitan saat berjalan atau pincang,” sambung keterangan tersebut.
Habitat gajah di Afrika dan Asia kini terancam seiring dengan perubahan peta agribisnis berskala internasional seperti kepala sawit.
Sementara populasi gajah Afrika menurun drastis menyusul maraknya aksi pemburuan. Empat negara, Zimbabwe, Afrika Selatan, Bostwana dan Namibia gagal melobi Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Terancam Punah pada Agustus silam terkait penjualan gading gajah.
Keempat negara tersebut ingin penjualan gading berguna untuk mendanai konservasi serta pengembangan masyarakat setempat. Namun, 32 negara Afrika menolak usulan tersebut seraya meminta seluruh negara untuk mengakhiri perburuan gajah. [Mohamad Deny Irawan]





















