Budapest, Gontornews — Mayoritas rakyat Hungaria yang memilih dalam referendum hari Ahad (2/10) telah menolak rencana Uni Eropa untuk memindahkan pengungsi dan migran di antara negara-negara anggota.
Namun, referendum itu tidak sah karena hanya diikuti oleh 43,9 persen rakyat yang berhak memilih. Ambang batas 50 persen untuk suara sah.
Referendum diikuti lebih dari 3,2 juta pemilih. Dari jumlah itu, 98,3 persen memberikan suara dukungan kepada pemerintah. Dengan kata lain mereka menolak rencana Uni Eropa tentang pengungsi dan migran.
Pemerintah mengklaim “kemenangan besar”. Sementara para analis mengatakan, hasil ini sangat memalukan, tapi bukan bencana kekalahan bagi Perdana Menteri Viktor Orban.
Hasil referendum yang tidak sah karena jumlah pemilih yang rendah, akan membuat Orban membujuk Brussels agar memberi kuota pengungsi yang lebih sedikit untuk Hungaria.
Namun dalam pidato โkemenanganโ pada hari Ahad (2/10), Orban mengatakan suara rakyat Hungaria harus diperhitungkan oleh para pembuat keputusan Uni Eropa.
“Tiga belas tahun setelah sebagian besar rakyat Hungaria memilih referendum untuk bergabung dengan Uni Eropa, hari ini rakyat Hungaria membuat suara mereka didengar lagi dalam masalah Eropa,” kata Orban dalam konferensi pers.
seperti dirilis Aljazeera.com, Orban akan mengajukan amandemen konstitusi Hungaria untuk menempatkan hasil plebisit menjadi undang-undang.
Referendum itu menanyakan kepada rakyat Hungaria, “Apakah Anda ingin Uni Eropa dapat memukimkan kembali warga non-Hungaria di Hungaria bahkan tanpa persetujuan dari Parlemen?”
Sebelum referendum, Orban mengatakan bahwa “tidak ada” orang yang menyukai kedaulatan dan kemerdekaan Hungaria.
Menurutnya, jika mayoritas pemilih setuju, Parlemen Hungaria akan meloloskan hasil referendum itu menjadi Undang Undang.
Meskipun referendum tidak memiliki konsekuensi hukum yang mengikat untuk Uni Eropa, namun Orban berharap hasil referendum ini akan meningkatkan tekanan pada Brussels.
“Kami bangga bahwa kami adalah yang pertama” katanya.
“Kami adalah satu-satunya di Uni Eropa yang berhasil memiliki referendum untuk masalah migran.”
Di sisi lain, tahun lalu Pemerintah Orban juga telah menggugat keputusan Uni Eropa untuk memindahkan 160 ribu pencari suaka yang membebani Yunani dan Italia, di Pengadilan Eropa. Berdasarkan rencana awal, 1.294 pencari suaka akan dipindahkan ke Hungaria.
Jajak pendapat juga menunjukkan xenophobia dan anti-Islam telah meningkat di Hungaria.
Beberapa oposisi dan kelompok-kelompok sipil telah meminta warga untuk tinggal di rumah dan memboikot pemungutan suara.
Hampir 400 ribu migran melewati Hungaria tahun lalu, sebelum mereka menuju Eropa Barat.
Namun pagar kawat berduri yang didirikan di sepanjang perbatasan dengan Serbia dan Kroasia, serta kebijakan pengusiran, telah mengurangi ย jumlah migran secara signifikan tahun ini. [Rusdiono Mukri]



















