Singapura, Gontornews — Sebuah penelitian di jurnal ilmiah Cell, Selasa (18/10/2022), mengungkap bahwa nyamuk tertarik pada aroma tubuh tertentu manusia. Penelitian ini sekaligus menjawab pertanyaan seputar adanya beberapa orang yang menarik kawanan nyamuk dengan yang tidak pada satu waktu.
Penelitian yang juga dilansir oleh Channel News Asia menemukan bahwa nyamuk tertarik dengan aroma seseorang dengan asam karboksilat tinggi. Asam ini mengacu pada asam organik seperti asam amino dan asam lemak, yang diproduksi di sebum, yakni zat berminyak dan lilin yang ditemukan di kulit manusia. Asam ini berfungsi untuk melindungi dan menjaga kelembaban kulit seseorang.
Para peneliti merancang eksperimen yang membedakan aroma kulit seseorang dengan orang lain. Setidaknya 64 relawan berpartisipasi dalam penelitian ini. Mereka dipinta untuk menggunakan stoking nilon di sekitar lengan mereka guna ‘menyimpan’ aroma khas tubuh masing-masing para relawan.
Peneliti lantas menempatkan dua stoking berbeda ke sebuah wadah tertutup yang menampung nyamuk Aedes aegepty betina. Eksperimen ini digunakan untuk melihat stoking mana yang menarik lebih banyak nyamuk.
Hasilnya, profil aroma paling menarik bagi nyamuk berasal dari aroma kulit seseorang yang menghasilkan kadar asam karboksilat yang lebih tinggi ada kulit. Sementara kulit yang tidak mengandung asam karboksilat tinggi cenderung tidak menarik bagi nyamuk betina.
Penelitian ini juga mengungkap alasan di balik ketertarikan nyamuk Aedes pada aroma kulit tertentu. Hal ini terjadi karena sebagian besar bakteri kulit yang hidup berada di pori-pori. Bakteri kulit tersebut mendapat perlindungan secara eksternal seperti kebiasaan kebersihan dan perubahan cuaca musiman.
“Memahami penyebab seseorang menjadi magnet bagi nyamuk akan mendorong cara merancang intervensi rasional seperti manipulasi mikrobiota kulit untuk membuat orang tersebut kurang menarik bagi nyamuk,” ungkap peneliti.
“Kami mengusulkan bahwa kemampuan untuk memprediksi individu dalam komunitas dengan daya tarik tinggi akan memungkinkan penyebaran sumber daya efektif untuk memerangi penyebaran patogen yang dibawa oleh nyamuk,” tutup peneliti. [Mohamad Deny Irawan]





















