Moskow, Gontornews — Polisi Rusia telah menangkap sedikitnya 29 demonstran oposisi di pusat kota Moskow karena ‘melanggar ketertiban umum’.
Penangkapan ini terjadi hanya seminggu setelah ratusan orang ditahan saat unjukrasa anti-korupsi menuntut pengunduran diri perdana menteri.
Kantor berita Rusia Interfax mengatakan, jumlah demonstran hari Ahad (2/4) itu hanya sekitar 100 orang. Jauh lebih kecil dari demo pekan lalu.
Sebelum demonstrasi, akses ke beberapa situs yang mempromosikan apa yang pemerintah katakan sebagai “protes ilegal anti-pemerintah” telah diblokir.
Konstitusi Rusia memungkinkan adanya unjukrasa atau demonstrasi, tapi peraturan terkini telah mengkriminalisasi aksi unjukrasa. Pemerintah sering menolak untuk memberikan izin bagi unjukrasa oleh para kritikus Kremlin.
Seperti dirilis Aljazeera, penyelenggara demo hari Ahad itu telah membantah memiliki hubungan dengan pemimpin oposisi Alexei Navalny, yang menjalani hukuman penjara 15 hari karena perannya dalam mengorganisir protes 26 Maret lalu itu.
Ia mengatakan, demo itu direncanakan oleh “orang-orang muda dan mahasiswa dari Moskow”.
Navalny, seorang kritikus Kremlin dan tokoh anti-korupsi, menggelar aksi unjukrasa pekan lalu setelah menerbitkan laporan rinci yang menuduh Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mengendalikan bisnis properti melalui jaringan bayangan dari organisasi non-profit.
Medvedev, yang sejauh ini tidak mengomentari pernyataan Navalny, dituduh mengumpulkan kekayaan pribadi berupa rumah-rumah, yacht dan kebun-kebun anggur. [Rusdiono Mukri]




















