Hari ini, Ahad (26/6/2022), sebanyak 3.683 jamaah diberangkatkan ke Tanah Suci, Mekkah. Mereka akan menyusul 68.774 jamaah haji Indonesia yang sudah diberangkatkan terlebih dahulu ke Tanah Suci. Setiap jamaah menerima uang living cost atau biaya hidup sebesar 1.500 riyal atau setara dengan Rp5,8 juta sebelum meninggalkan Tanah Air. Uang ini diharapkan menjadi bekal mereka selama melaksanakan prosesi ibadah haji. Cukupkah uang itu sebagai bekal? Apakah ada bekal lain yang lebih baik?
Ibadah haji merupakan salah satu syiar-syiar Allah, syiar-syiar Islam. Allah SWT berfirman:
(٣٢) ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ
(٣٣) لَكُمْ فِيهَا مَنَٰفِعُ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ مَحِلُّهَآ إِلَى ٱلْبَيْتِ ٱلْعَتِيقِ
Artinya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati (32). Bagi kamu pada binatang-binatang hadyu itu ada beberapa manfaat, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah) (33). (QS. Al-Hajj [22]: 32-33)
Dalam Tafsir Al-Wajiz dijelaskan bahwa surah Al-Hajj ayat 32 mengandung perintah Allah. Barangsiapa mengagungkan syiar-syiar agama dan hukum Allah yaitu petunjuk, cara berhaji, masjid-masjid dan ibadah, maka sesungguhnya itu adalah rasa takut kepada Allah yang timbul dari ketakwaan hati, yang dilakukan orang-orang yang bertakwa.
Sedangkan pada ayat 33 berisi syariat-syariat Allah yang memiliki beberapa manfaat. Yaitu binatang-binatang ternak yang menjadi tanda keagungan-Nya. Yang dapat diambil berbagai manfaat darinya, baik untuk kendaraan, peranakan, diambil bulunya dan lainnya hingga sampai kepada waktu yang ditentukan yaitu hari Nahar. Kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah).
Hewan yang disembelih pada hari-hari Nahar biasa disebut Hadyu. Hadyu adalah hewan atau selain hewan yang ‘dihadiahkan’ ke Tanah Suci. Yang dimaksud hewan di sini adalah hewan yang sah digunakan untuk berkurban, yaitu unta, sapi dan kambing (domba). (Tahriru Alfazhi At-Tanbih, hlm. 156). Hadyu disembelih pada hari nahar sebagai sarana mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.
Pemilihan hewan yang dijadikan hadyu sebagaimana hewan untuk kurban pada umumnya dipilih hewan yang sebaik-baiknya. Hewan kurban dipilih yang tidak memiliki cacat pada fisiknya. Dipilih yang paling baik kualitasnya. Dengan harapan, Allah ‘azza wajalla membalas dengan kualitas takwa yang sebaik-baiknya.
Allah ‘azza wajalla berfirman:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ
Artinya: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj [22]: 37)
Ayat-ayat di atas mengandung nilai-nilai pendidikan bagi manusia, khususnya bagi umat Islam. Nilai-nilai pendidikan itu di antaranya: Pertama, mendidik kita menjadi orang yang bertakwa kepada Allah SWT. Kedua, mendidik kita agar senantiasa beramal hanya semata-mata karena Allah SWT. Ketiga, mendidik kita menjadi hamba Allah yang tawadhu’, tidak sombong dan tidak berbuat zalim. Keempat, mendidik kita agar senantiasa menegakkan syariat Allah SWT.
Ibadah Haji
Berangkat ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji merupakan impian setiap insan beriman, mewujudkan titah Allah Yang Maha Rahman, sebagaimana firman-Nya:
وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ
Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari kewajiban haji maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali-Imran [3]: 97)
Dalam mengerjakan ibadah haji (dan juga ibadah-ibadah yang lain), kita harus totalitas karena hajat tertinggi kita untuk berjumpa dengan Allah. Totalitas dalam beribadah harus menyertakan batin. Allah SWT berfirman:
وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالٗا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٖ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٖ
Artinya: “Dan serulah manusia untuk berhaji (berjumpa Tuhan) niscaya mereka akan datang kepadamu (wahai Muhammad) dengan berjalan kaki atau menaiki onta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. Al-Hajj [22]: 27)
Seruan Bertakwa
Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Mâidah [5]: 35)
Kata takwa secara etimologi berasal dari waqa-yaqi-wiqoyah yang artinya hati-hati, waspada, mawas diri, memelihara keimanan yang diwujudkan dalam pengamalan ajaran agama Islam secara utuh, dan konsisten (istiqamah). Sedangkan pengertian takwa secara terminologi memiliki definisi yang beragam. Meskipun beragam, semua definisi itu mengarah kepada satu pengertian, yaitu sikap penjagaan diri seorang hamba terhadap kemurkaan Allah dan siksa-Nya dengan menjalankan semua yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang.
Takwa merupakan sebaik-baik pakaian yang dikenakan. Allah SWT berfirman:
يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَٰرِى سَوْءَٰتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Artinya: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf [7]: 26)
Imam Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali memadahkan bahwa takwa adalah penjagaan yang dilakukan oleh seorang hamba untuk dirinya terhadap sesuatu yang ditakuti dan dikhawatirkannya, supaya dia terjaga darinya. Penjagaan itu ialah menaati semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Takwa menjadi bekal utama bagi orang yang beribadah haji agar mengantarkannya meraih haji yang mabrur. Haji yang diterima oleh Allah SWT.
Bekal utama ibadah haji ialah takwa. Allah SWT berfirman:
ٱلۡحَجُّ أَشۡهُرٞ مَّعۡلُومَٰتٞۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلۡحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي ٱلۡحَجِّۗ وَمَا تَفۡعَلُواْ مِنۡ خَيۡرٖ يَعۡلَمۡهُ ٱللَّهُۗ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ .
Artinya: “Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, maka barangsiapa yang mewajibkan (atas dirinya) untuk berhaji di dalamnya (bulan-bulan itu), maka tidak ada rafats (bercampur dengan istri, cumbu-rayu, dan berkata cabul), tidak ada kefasikan (berucap atau berbuat sesuatu yang melanggar norma-norma susila dan agama) dan tidak ada bantah-bantahan di dalam haji. Dan apa pun yang kamu kerjakan berupa kebaikan, (pasti) Allah mengetahuinya. Berbekallah kamu! Maka, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal bersih, murni, dan cerah. (QS. Al-Baqarah [2]: 197)
Imam Syuraih berkata, “Jamaah haji sejati itu sedikit, sementara orang-orang yang (rekreasi) naik kendaraan itu banyak (Al Haj wa’l Hujjaaj, hlm. 35). Takwalah yang menuntun seseorang dalam melaksanakan ibadah mulia ini. Melaksanakan ibadah haji dengan niat suci dan hati yang bersih, semata-mata ingin meraih ridha Ilahi, Allah SWT, sehingga kita terhindar dari penyakit riya’ (pamer) dan sum’ah (pencitraan).
Takwa yang hakiki akan melahirkan sifat mujahadah (kesungguhan) dalam beragam sisi. Takwa dapat memotivasi jamaah haji untuk bersungguh-sungguh dalam menunaikan semua bentuk kegiatan ritual ibadah yang menunjang kemabruran hajinya.
Selain berbekal takwa, melaksanakan ibadah haji juga harus berbekal niat ikhlas, ilmu, material, serta bekal kesehatan jasmani dan rohani. Lalu apa hubungan haji dengan takwa? Hubungan haji dan takwa adalah takwa sebagai sempurnanya haji, dan haji sebagai wujud dari takwa. Karena takwa itu kinerja batin, sedangkan haji hasil dari takwa dalam rangka perjumpaan dengan Allah SWT.
Sinergi haji dan takwa ini akan mendatangkan manfaat, yaitu ketika haji dan takwa ini diraih oleh seseorang maka Allah akan menyempurnakan lahir dan batin orang itu sehingga menjadi Mukmin yang baik karena hatinya dipelihara oleh Tuhannya.
Terpeliharanya hati artinya hati senantiasa mendapat taufik dan hidayah untuk bertindak dan berkata secara baik dan terhindar dari perilaku sebaliknya. Saat hati terpelihara inilah kita akan merasakan ketenteraman dan kebahagiaan. Terkait hal ini sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib memberikan tausiyahnya. Menurutnya orang-orang yang bertakwa mempunyai empat sifat utama. Pertama, Al-Khaufu minal-Jalil, orang yang bertakwa akan senantiasa merasa takut kepada Allah SWT, yang mempunyai sifat Maha-Agung.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِٱلْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al-Mulk [67]: 12) 
Kedua, Al-‘Amalu bi At-Tanzil, manusia yang beramal sesuai dengan apa yang diwahyukan oleh Allah SWT.
Ketiga, Ar-Ridha bil-Qalil, merasa cukup dan ridha dengan pemberian Allah meskipun hanya sedikit. Mereka juga memiliki sifat senang bersyukur. Allah berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)
Keempat, Al-Isti’dadu li Yaumir-Rahil, yaitu orang yang senantiasa mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian dan kembali menghadap Allah SWT.
Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (QS. Al-Hasyr [59]: 18)
Lalu bagaimana cara memperoleh ketakwaan dalam diri? Paling tidak ketiga cara ini bisa kita lakukan. Pertama, bersegera mencari ampunan Allah SWT. Allah berfirman:
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ
Artinya: “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali-Imran [3]: 133)
Kedua, menaati Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
Artinya: “Barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. An-Nur [24]: 52)
Ketiga, berbuat kebaikan. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan mereka yang muhsin (berbuat kebaikan).” (QS. An-Nahl [16]: 128)
Keutamaan Bertakwa Saat Haji
Mereka yang melaksanakan ibadah haji akan memperoleh sejumlah keutamaan. Pertama, mendapat pujian Allah, janji pembalasan dan karunia-Nya. Bayangkan betapa gembiranya seseorang saat mendapat sanjungan dari makhluk dan nama baiknya disebut-sebut di hadapan khalayak. Lantas bagaimana jika mendapat sanjungan dari Zat Yang Mahakuasa? Allah berfirman:
يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُؤْمِنِينَ
Artinya: “Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (QS. Ali-Imran [3]: 171).
Kedua, hatinya selalu terang dengan cahaya, petunjuk, rahasia Allah, hikmah, dan ilmu. Allah berfirman:
وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
Artinya: “Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 282)
Ketiga, memperoleh kemenangan yang agung. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Artinya: “Dan siapa saja yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzaab [33]: 71)
Keempat, Allah mencintainya, sebagaimana firman-Nya:
بَلٰى مَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ وَاتَّقٰى فَاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ
Artinya: “Sebenarnya barangsiapa menepati janji dan bertakwa, maka sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali-Imran [3]: 76). []






















Alhamdulillah barokallah pa kyai setiap aktifitasnya