pesanan-majalah-edisi-khusus
31 °c
Pecenongan
Thu
Fri
Wednesday, 9 September, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Tadabbur Tafsir

Sehat, Selamat, dan Bermartabat dengan Makanan Halālan Thayyiban

Oleh Prof Dr H Sofyan Sauri MPd, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
31 October 2025
in Tafsir
0
Sehat, Selamat, dan Bermartabat dengan Makanan Halālan Thayyiban

Foto: LPPOM MUI

Landasan Teologis

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai manusia makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata. (QS Al-Baqarah: 168)

Asbabun Nuzul

BACA JUGA

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Berbagai Situasi dan Kondisi

Kemerdekaan Sejati dalam Perspektif Al-Qur’an

Teguhkan Adab (Akhlak) untuk Masa Depan Pendidikan

Penegakan Hukum yang Adil: Wujudkan Keamanan dan Harmoni

Asbabun nuzul dari surat Al-Baqarah ayat 168 menurut Imam Al-Alusi al-Baghdadi dalam kitab Ruhul Ma’ani bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kaum musyrikin dari kaum Tsaqif, Bani Amir bin Sha’sha’ah, Khuza’ah, dan Bani Mudlij yang mengharamkan untuk diri mereka memakan hewan ternak seperti unta bahiirah, saaibah, washiilah, ham, dan susu (yoghurt). Mereka juga mengharamkan hasil panen seperti kurma.

Ibnu Jarir dan Ibnu Abbas RA mengatakan ayat tersebut turun untuk Abdullah bin Salam dan kelompoknya ketika mereka mengharamkan daging unta sebagaimana sebelumnya daging tersebut juga dihukumi haram dalam agama Yahudi.

Interpretasi Para Mufasir

Dalam Tafsir Al-Qurtubiy disebutkan bahwa kata “thayyib” (baik) di sini menurut Imam Malik bermakna halal. Sedangkan Imam Asy-Syafi‘i berpendapat bahwa “thayyib” berarti sesuatu yang lezat atau menyenangkan, sehingga maknanya bersifat variasi. Karena itu, beliau melarang memakan hewan yang najis atau menjijikkan.

Kata ”halalan” di sini dapat berfungsi sebagai hal (keterangan keadaan), dan ada pula yang mengatakan sebagai maf‘ul bih (objek langsung). Disebut halal karena telah terlepas dari ikatan bahaya (dosa atau ancaman).

Sedangkan dalam tafsir Ibnu Katsir, Allah menyebutkan bentuk nikmat dan karunia-Nya, yaitu bahwa Dia menghalalkan bagi mereka untuk makan dari apa yang ada di bumi dalam keadaan halal, yang dihalalkan oleh Allah dan thayyib, yakni sesuatu yang baik, enak, dan tidak membahayakan tubuh maupun akal.

Kemudian Allah melarang mereka mengikuti langkah-langkah setan, yaitu jalan dan cara yang digunakan setan untuk menyesatkan para pengikutnya, sebagaimana yang terjadi pada kaum jahiliyah ketika mereka mengharamkan hewan-hewan seperti bahirah, saibah, dan washilah  serta hal-hal yang dihiasi oleh setan dalam agama mereka yang rusak.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan oleh para ulama salaf tentang makna “langkah-langkah setan”: 1) Qatadah dan As-Suddi berkata: “Setiap perbuatan maksiat kepada Allah merupakan bagian dari langkah-langkah setan.” 2) Ikrimah berkata: “Langkah-langkah setan adalah bisikan-bisikan dan godaannya.” 3) Mujahid berkata: “Langkah-langkah setan adalah jejak-jejak atau dosa-dosanya.” 4) Abu Majliz berkata: “Yang dimaksud adalah nazar (sumpah atau janji) dalam perkara maksiat.”

Sementara itu Tafsir As-Sa’di menyebutkan, ayat ini merupakan seruan kepada seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kafir. Allah telah menganugerahkan nikmat kepada mereka dengan memerintahkan agar mereka memakan segala sesuatu yang ada di bumi berupa biji-bijian, buah-buahan, hasil tanaman, dan hewan dalam keadaan halal, yaitu yang diperbolehkan untuk dimakan, bukan hasil dari perampasan, pencurian, transaksi yang haram, cara yang terlarang, ataupun sesuatu yang membantu perbuatan dosa.

Dan juga dalam keadaan thayyib (baik), yaitu bukan sesuatu yang kotor atau menjijikkan seperti bangkai, darah, daging babi, dan segala sesuatu yang najis.

Tafsir As-Sa’di juga menyebutkan bahwa dalam ayat ini terdapat petunjuk untuk makan sekadar menjaga kekuatan tubuh merupakan kewajiban, dan orang yang meninggalkannya berdosa karena bertentangan dengan perintah Allah.

Allah memerintahkan mereka untuk mengikuti perintah-Nya yang merupakan inti dari kebaikan bagi umat manusia. Allah juga melarang mereka mengikuti langkah-langkah setan, yaitu jalan dan cara yang setan perintahkan, mencakup semua bentuk maksiat seperti kekafiran, kefasikan, dan kezaliman.

Inti Reflektif

Ayat ini mengandung pesan spiritual dan etis yang mendalam tentang kesucian konsumsi dan moralitas kehidupan manusia. Allah menyeru seluruh manusia bukan hanya orang beriman agar hidup berdasarkan kesadaran moral dalam memilih rezeki. Seruan untuk memakan yang halalan thayyiban bukan sekadar aturan fiqh, tetapi juga panggilan untuk menjaga kesucian hati, kesehatan tubuh, dan integritas sosial. Makanan yang halal menumbuhkan keberkahan, sementara yang thayyib (baik) menumbuhkan tazkiyah an-nafs (penyucian jiwa). Keduanya menjadi fondasi bagi terbentuknya manusia yang bersih dari kecurangan, kezaliman, dan kerakusan.

Nilai-nilai Pedagogis

Surat Al-Baqarah ayat 168 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan (pedagogis). Di antaranya, pertama, Nilai Akidah. Ayat ini menegaskan bahwa manusia harus menyadari setan itu sebagai musuh yang nyata. Oleh karena itu manusia harus menanamkan kesadaran dan akidah yang kuat dengan menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Manusia akan waspada terhadap bisikan yang menjerumuskan ke dalam dosa.

Penting bagi guru atau orangtua mendidik peserta didik agar menjaga kesucian hati, amal yang ikhlas, memilih sesuatu yang halal, menumbuhkan rasa syukur atas rezeki Allah dan berhati-hati terhadap segala bisikan setan agar mereka tidak tertipu daya oleh setan.

Kedua, Nilai Moral dan Akhlak. Allah memerintahkan agar manusia hanya memakan yang halal dan baik (thayyib). Artinya ayat ini mengajarkan kejujuran dan tanggung jawab dalam mencari rezeki yang halal dan baik serta menumbuhkan akhlak mulia dengan menghindari yang haram dan syubhat, serta mendidik kesadaran bahwa makanan yang halal dan baik berpengaruh terhadap perilaku dan spiritualitas seseorang.

Karena itu pendidik dan orangtua harus menanamkan kejujuran dan tanggungjawab kepada peserta didik agar mereka dapat memperoleh akhlak mulia, keselamatan  dan martabat yang luhur.

Ketiga, Nilai Kesehatan dan Etika Konsumsi. Ayat ini mendidik manusia untuk memilih makanan yang baik untuk tubuh dan jiwa. Tidak berlebihan, serta memperhatikan kebersihan dan kesehatan dengan menjaga pola makan yang seimbang, tidak mengonsumsi yang membahayakan tubuh, dan tidak boros.

Oleh karena itu, pendidik dan orangtua harus mengajari peserta didik agar memilih makanan yang baik dan halal untuk tubuh sebagai bekal ibadah. Guru harus memberikan edukasi tentang kesehatan dan etika konsumsi agar peserta didik sehat, selamat dan gemilang di masa depan.

Landasan Teoretis

Secara bahasa, halālan thayyiban merupakan dua gabungan kata dalam bahasa Arab. Berdasarkan kamus Al-Ma’ani, halal berarti sah menurut hukum, yang dibolehkan. Sedangkan Thayyiban berasal dari kata Thayyib yang artinya baik. Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menyebutkan dalam karyanya Jami’ Al Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an menyebutkan bahwa maksud kata Thayyiban adalah suci, tidak najis lagi tidak haram.

Dalam Mu’jam al Wasith disebutkan bahwa keharaman bisa dibagi menjadi dua aspek, yaitu: Pertama, haram secara zat atau secara materi telah dinyatakan haram oleh syariat, seperti babi, bangkai, dan darah. Kedua, haram bukan secara zatnya, tapi bisa dari cara membeli, memperoleh, atau mengolah barang tersebut.

Halālan thayyiban adalah prinsip yang harus terus dipegang agar kita dijauhkan dari segala keburukan apa yang kita makan, minum, barang yang dimiliki dan perbuatan syubhat serta haram. Allah berfirman dalam surat Al-Ma’idah ayat 88 agar kita memakan dari apa yang Allah anugerahkan yang halal dan baik.

وَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اَنْتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ

“Makanlah apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu sebagai rezeki yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah yang hanya kepada-Nya kamu beriman. (QS Al-Maidah: 88)

Dampak utama prinsip halālan thayyiban bagi kehidupan adalah peningkatan kesehatan fisik dan mental serta keberkahan spiritual dan ketenangan jiwa. Dengan mengonsumsi makanan yang tidak hanya halal tetapi juga bersih, bergizi, dan tidak berbahaya, prinsip ini berkontribusi pada kesejahteraan hidup secara menyeluruh, termasuk dalam menjalankan ibadah.

Sahal al-Tusturi berkata dalam kitab Ainul Yakin: “Seseorang tidak akan mencapai hakikat iman sehingga ia melaksanakan empat hal yaitu menunaikan segala kefardhuan dengan mengikuti tuntunan sunnah, mengonsumsi yang halal dengan mengikuti prinsip wara’, menjauhi larangan agama lahir dan batin, serta sabar dengan semua itu hingga meninggal dunia.”

Sahal al-Tusturi juga berkata: “Barangsiapa mengonsumsi barang haram, anggota tubuhnya akan terdorong berbuat maksiat dengan disengaja atau tidak disengaja, dikehendaki atau tidak dikehendai. Namun jika makanannya halal ia akan diikuti anggota tubuhnya dan dibimbing oleh Tuhan kepada kebaikan.”

Prinsip halālan thayyiban menuntun umat manusia untuk memilih makanan sehat, bergizi dan baik dikonsumsi. Mengomsumsi yang halal dan baik membuat hati selamat dari perkara dosa serta maksiat dan juga melahirkan para generasi bermartabat yang baik, shalih dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta menegakkan syariat.

Keutamaan Makanan yang Halālan Thayyiban

Lalu apa keutamaan makanan yang halālan thayyiban? Pertama, Menjadi Pendorong Terkabulnya Doa. Jika ingin doa-doa yang kita panjatkan terkabul, kunci utamanya yaitu mengisi perut dengan makanan dan minuman yang jelas kehalalannya. Rasulullah SAW bersabda:

يَا سَعْدُ، أَطِبْ مَطْعَمَكَ تَكُنْ مُسْتَجَابَ الدَّعْوَةِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ الْعَبْدَ لَيَقْذِفُ اللُّقْمَةَ الْحَرَامَ فِي جَوْفِهِ مَا يُتَقَبَّلُ مِنْهُ عَمَلَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا

“Wahai Sa‘d, perbaikilah makananmu, niscaya doamu mustajab (dikabulkan). Demi Zat yang menggenggam jiwa Muhammad, sesungguhnya seorang hamba yang melemparkan satu suap makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak diterima amalnya selama 40 hari.” (HR At-Thabrani)

Kedua, Menjernihkan Hati. Mengonsumsi makanan halal juga berfaedah menjernihkan hati. Kejernihan hati dapat melebur segala penyakit hati serta dapat memunculkan berbagai jawaban atas segala kegundahan yang sering dialami. Dalam hadis dijelaskan:

مَنْ أَكَلَ الْحَلَالَ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً، نَوَّرَ اللهُ قَلْبَهُ وَأَجْرَى يَنَابِيْعَ الْحِكْمَةِ مِنْ قَلْبِهِ عَلَى لِسَانِهِ

“Barangsiapa memakan makanan halal selama 40 hari, maka Allah akan menerangkan hatinya dan akan mengalirkan sumber-sumber ilmu hikmah dari hatinya pada lisannya.” (HR Abu Nu’aim)

Ketiga, Sebagai Obat dari Beragam Penyakit. Mengonsumsi makanan halal membawa faedah yang bersifat lahiriah dan dapat dirasakan oleh tubuh secara langsung sebagai obat dari beragam penyakit. Salah satu sufi golongan tabi’in, Yunus bin Ubaid berkata:

لَوْ أَنَّا نَجِدُ دِرْهَمًا مِنْ حَلَالٍ لَكُنَّا نَشْتَرِيْ بِهِ قُمْحًا وَنَطْحَنُهُ وَنَحُوْزُهُ عِنْدَنَا. فَكُلُّ مَنْ عَجِزَ الأَطِبَاءُ عَنْ مُدَاوَاتِهِ دَاوَيْنَاهُ بِهِ فَخَلَصَ مِنْ مَرَضِهِ لِوَقْتِهِ

“Kalau saja kami memiliki uang satu dirham dari yang halal, tentu akan kami belikan gandum yang akan kami tumbuk dan kami sajikan untuk kami. Setiap orang sakit yang dokter tidak mampu mengobatinya, maka kami obati dengan gandum yang kami dapatkan dari uang halal, lalu ia pun sembuh dari penyakitnya saat itu juga.” (Kitab Tanbîhul Mughtarrîn)

Keempat, Menjadi Sebab Diberi Keturunan Shalih Shalihah. Berkaitan dengan hal ini Wali Qutbul Ghauts, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, dalam kitabnya Al-Ghunyah menyatakan: “Tatkala tampak tanda-tanda kehamilan wanita, hendaknya suami menjaga makanannya dari yang haram dan yang syubhat agar anaknya dapat terbentuk atas fondasi yang setan tidak dapat menjangkaunya. Alangkah baiknya jika kebiasaan menghindar dari makanan haram dan syubhat dimulai saat prosesi pernikahan dan terus berlangsung sampai kelahiran anak, agar suami, istri dan anak-anaknya nanti selamat dari godaan setan di dunia dan selamat dari neraka di akhirat kelak. Dengan melakukan hal tersebut, anak akan lahir sebagai anak yang shalih, berbakti pada kedua orangtua dan taat kepada Tuhannya. Semua itu karena barokah menjaga makanan (dari yang haram dan syubhat).” (Abdul Qadir al-Jilani, Al-Ghunyah, Beirut, Dârul Kutubil ‘Ilmiyyah: 1997)

Kelima, Menjadikan Lebih Bersemangat dalam Ibadah. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh seorang sufi terkemuka, Sahl At-Tustari:

مَنْ أَكَلَ الْحَرَامَ عَصَتْ جَوَارِحُهُ، شَاءَ أَمْ أَبَى، عَلِمَ أَوْ لَمْ يَعْلَمْ. وَمَنْ كَانَتْ طَعْمَتُهُ حَلَالًا أَطَاعَتْهُ جَوَارِحُهُ وَوُفِّقَتْ لِلْخَيْرَاتِ

“Barangsiapa mengonsumsi makanan haram, maka anggota tubuhnya akan tergerak melaksanakan kemaksiatan, baik ia berkenan ataupun tidak, baik ia mengetahui ataupun tidak; dan barangsiapa makanannya halal, maka anggota tubuhnya akan tergerak untuk melaksanakan ketaatan, dan akan diberi pertolongan untuk melakukan kebaikan.” (Al-Ghazali, Ihyâ’ Ulûmiddîn, Beirut: Dârul Fikr, halaman 104)

Cara Menjaga Prinsip Halālan Thayyiban

Berikut ini cara menjaga prinsip halālan thayyiban yang menuntun pada menu sehat, hati selamat, dan generasi bermartabat. Pertama, Bersikap Wara’. Sifat ini menjadi salah satu ciri orang yang bertakwa karena mereka menjaga diri dari perkara yang tidak jelas kehalalannya. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat (samar), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa menjaga diri dari perkara syubhat, ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kedua, Memperhatikan Makanan yang akan Dimakan. Islam sangat memperhatikan makanan yang kita makan karena makanan dan minuman mempunyai pengaruh besar bagi kehidupan seseorang. Allah SWT berfirman:

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓۙ

”Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS Abasa: 24)

Dalam Tafsir Li Yaddabru Ayatih dikatakan sudah berapa kalikah kamu telah memperhatikan makanan yang kamu konsumsi ? Lakukanlah hal itu, sungguh kamu akan merasakan sesuatu yang lebih dalam hatimu. Renungkanlah bagaimana agungnya ciptaan Allah yang satu ini. Sesungguhnya untuk memperhatikan dan mengamati ciptaan Allah ini sangat mudah, akan tetapi pengaruhnya terhadap hati sangat besar.

Ketiga, Memperbanyak Doa agar Terhindar dari Makan yang Haram.

اَلَّلهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَاغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan kehalalan-Mu, sehingga tidak memerlukan keharaman-Mu, dan jadikanlah aku kaya dengan karunia-Mu sehingga tidak butuh kepada selain-Mu.” (HR Tirmidzi, No. 3486)

Kisah Teladan

Diceritakan ada seorang tokoh ulama besar bernama Abu Yazid al-Busthami. Beliau menjadi tokoh ulama besar dan terkenal karena selalu dijaga makanannya oleh orangtuanya. Ibundanya selalu hati-hati, tidak makan kecuali dari rezeki yang halal semenjak mengandung, menyusui, hingga dewasa.

Hingga suatu ketika masa Abu Yazid awal-awal mencari ilmu, ia sering lupa dengan pelajaran ilmu yang telah diperolehnya kala itu. Ia berpikir, apa kira-kira penyebabnya. Akhirnya, ia memberanikan diri bertanya kepada ibundanya. “Ibu, mungkinkah dulu aku pernah makan makanan yang syubhat. Sejak ibunda melahirkanku atau mungkin waktu menyusuiku?” Lalu kata ibundanya, “Ibu tidak pernah memberimu makanan syubhat nak, apalagi yang haram.”

Abu Yazid berkata, “Tapi kenapa aku kok sering lupa ya bu?” Sang ibunda kembali menegaskan, “Ibu tidak pernah makan makanan yang syubhat atau yang haram Nak. Tapi, ibu pernah satu kali berjalan dan ketika itu ada seorang penjual keju. Saat itu, Ibu sedang ngidam saat mengandung kamu, atau mungkin atau saat menyusui kamu. Waktu itu ibu mencicipi sedikit keju tanpa sepengetahuan si penjual keju. Tapi, Ibu kenal dengan penjual keju itu dan pasti ia rela Nak.”

Mendengar hal itu, Abu Yazid bergegas menemui penjual keju itu. Setelah bertemu penjual keju itu, Abu Yazid berkata, “Maaf Pak, dulu Ibu saya pernah mencicipi keju milik Bapak waktu mengandung saya. Nah, sekarang saya meminta kehalalan dari bapak. Atau kira-kira berapa yang harus saya tebus?”

Penjual keju itu berkata, “Wah, andai aku tahu, ibu kamu mengambil lebih dari itu pun tidak apa-apa Nak! Saya sudah pasti rela.”

Abu Yazid pun bersyukur atas kerelaan itu. Dan mulai saat itu, Abu Yazid menjadi pelajar yang sangat cerdas, bahkan semua ilmu yang didengarnya, langsung dapat dihafalnya. Semoga kita dapat menjaga makanan yang kita konsumsi. Senantiasa makanan yang halal dan baik untuk kesehatan lahir batin kita.

Demikian seseorang yang menjaga dari segala hal yang syubhat (ketidakjelasan antara yang haram dan halal) dan menjauhi yang haram maka Allah akan menjadikannya hamba yang shalih, cerdas, mudah menghafal, sehat, hatinya penuh ketenangan dan kehidupannya bermartabat karena Allah bersamanya.

Kisah teladan lainnya datang dari Abu Bakar Ash-Shidiq melalui riwayat Imam Al-Bukhari, yaitu:

Dari Aisyah RA, dia berkata: “Dahulu, Abu Bakar mempunyai seorang pembantu yang bertugas mengambil pajak untuknya. Abu Bakar pernah memakan dari bagian pajak itu. Pada suatu hari pembantunya itu datang dengan membawa makanan, lalu Abu Bakar memakannya. Maka pembantunya itu berkata kepada Abu Bakar: Apakah engkau mengetahui tentang apa yang engkau makan itu?

Abu Bakar bertanya: Apakah itu? Pembantunya berkata: Dahulu pada zaman Jahiliyyah aku orang yang pernah meramal untuk seseorang. Padahal aku tak pandai dalam perdukunan kecuali aku menipunya. Kemudian aku bertemu orang tersebut, lalu dia memberikan (hadiah) kepadaku (yaitu) makanan yang Anda makan ini.” Maka, Abu Bakar spontan memasukkan jarinya ke dalam mulutnya hingga memuntahkan segala sesuatu yang ada di dalam perutnya. (HR Al-Bukhari No. 3554)

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang aku lakukan dan dari kejelekan apa yang belum aku lakukan.” (HR Muslim No. 2716) []

Tags: HalalHalālan ThayyibanHaram
Share67Tweet42Send
Previous Post

Santri Preneur Ummul Quro Gelar Study Tour di Empat Destinasi di Jakarta

Next Post

Kado Intelektual untuk Pesantren

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

3 September 2026
Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

6 September 2026
60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Ikuti Haflah Tilawatil Qur’an Ke-5

60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Ikuti Haflah Tilawatil Qur’an Ke-5

5 September 2026
Lulus Tahsin, 60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Naik Level ke Program Tahfizh

Lulus Tahsin, 60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Naik Level ke Program Tahfizh

6 September 2026
Gontor Gelar GIHES 2026 di Jakarta

Gontor Gelar GIHES 2026 di Jakarta

30 August 2026
Kunci Sukses dalam Hidup

Kunci Sukses dalam Hidup

0
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

0
PBNU Berharap Hubungan NU-Gontor Kian Harmonis di Usianya yang Ke-100

PBNU Berharap Hubungan NU-Gontor Kian Harmonis di Usianya yang Ke-100

0
Kiai Fatwa: Pendidikan Holistik Darul Amanah Lewat Prestasi Nasional dan Sudah Berkarir di Berbagai Sektor

Kiai Fatwa: Pendidikan Holistik Darul Amanah Lewat Prestasi Nasional dan Sudah Berkarir di Berbagai Sektor

0
JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

0
Kunci Sukses dalam Hidup

Kunci Sukses dalam Hidup

9 September 2026
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

6 September 2026
JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

6 September 2026
Kiai Fatwa: Pendidikan Holistik Darul Amanah Lewat Prestasi Nasional dan Sudah Berkarir di Berbagai Sektor

Kiai Fatwa: Pendidikan Holistik Darul Amanah Lewat Prestasi Nasional dan Sudah Berkarir di Berbagai Sektor

6 September 2026
PBNU Berharap Hubungan NU-Gontor Kian Harmonis di Usianya yang Ke-100

PBNU Berharap Hubungan NU-Gontor Kian Harmonis di Usianya yang Ke-100

6 September 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah.  Alumni Gontor 2007 wakaf 100 unit sepeda untuk guru-guru di Gontor
Insya Allah akan diserahkan secara simbolis pada acara peringatan 100 tahun Gontor.#majalahgontor #gontornews #gontor #pondokmoderngontor @risang.wijanarko @pondok.modern.gontor
  • Global Islamic Holistic Education Summit.
Lokasi : Hotel Borobudur Jakarta, Indonesia
Tanggal : 5 - 6 September 2026Akhir Pendaftaran : 27 Agustus 2026Dalam rangka Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, kami mengundang Bapak/Ibu untuk berpartisipasi dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026.GIHES 2026 merupakan forum Internasional yang mempertemukan pimpinan pesantren, lembaga pendidikan Islam, akademisi, pembuat kebijakan, dan tokoh pendidikan untuk berbagi perspektif, membahas tantangan strategis, serta membangun sinergi dan kolaborasi bagi kemajuan pendidikan dan generasi mendatang.#gontornews #majalahgontor #gihes
  • Dari Los Angeles, California, Amerika Serikat, tepatnya di Hollywood Sign dengan jarak kurang lebih 14.000 kilometer dari pondok Modern Darussalam Gontor. Doa-doa kebaikan disampaikan kepada Pondok Modern Darussalam Gontor dan Keluarga Besar Gontor.#majalahgontor #gontornews #100tahungontor #gontorponorogo

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result