Montreal, Gontornews — Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Selasa (6/12/2022), mengecam langkah perusahaan multinasional yang mengubah ekosistem dunia menjadi permainan keuntungan. Guterres pun mengingatkan kegagalan dalam memperbaiki arah kebijakan bisa menyebabkan hasil berupa sebuah bencana.
“Dengan selera kita yang tidak berdasar untuk pertumbuhan ekonomi yang tidak terkendali dan tidak seimbang, manusia hari ini telah menjadi senjata kepunahan massal,” ungkap Guterres saat membuka UN Biodiversity Conference (COP15) di Montreal Kanada.
Sejak menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBB, mantan Perdana Menteri Portugal tersebut telah menjadikan isu perubahan iklim sebagai isu andalannya. Guterres, dalam pembukaan konferensi ini, mengungkapkan penderitaan tumbuhan dan hewan yang terancam punah dari planet ini.
Sebelum Guterres berpidato, lusinan pengunjuk rasa menyela pidato Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau. Para demonstran mengibarkan spanduk bertuliskan “Genosida Pribumi = Ekosida” dan “Untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati berhenti menyerang tahan kami” serta meneriakkan beberapa kata sebelum dikawal keluar oleh pihak keamanan.
“Seperti yang Anda lihat, Kanada adalah tempat kebebasan berekspresi, di mana individu dan komunitas bebas mengekspresikan diri mereka secara terbuka dan kuat. Kami berterima kasih kepada mereka karena telah berbagi perspektif mereka,” kata Trudeau sebagaimana dilansir Arab News dari AFP.
Setidaknya 200 negara hadir dalam pertemuan yang berlangsung mulai 7 hingga 19 Desember 2022 tersebut. Penyelenggara berharap pertemuan ini dapat menuntaskan “Paris Moment” untuk alam. Beberapa tantangan mengerikan yang dunia hadapi saat ini adalah terancamnya kepunahan satu juta spesies, hilangnya tanah subur dan degradasi semua tanah di dunia serta polusi dan perubahan iklim yang mempercepat degradasi lautan.
Guterres mencatat sejumlah bahan kimia, plastik dan polusi udara telah merusak tanah, air dan udara. Sementara itu, pada saat yang bersamaan, pemanasan global terus terjadi akibat pembakaran bahan bakar fosil yang menyebabkan kekacauan iklim, mulai dari gelombang panas, kebakaran hutan, kekeringan hingga banjir.
“Kami memperlakukan alam seperti toilet. Pada akhirnya, kami melakukan bunuh diri dengan perantara tersebut,” tutup Guterres. [Mohamad Deny Irawan]




















