Rio de Janeiro, Gontornews — Senator yang memimpin penyelidikan kongres tentang penanganan pandemi Covid-19 di Brazil menuntut pidana Presiden Jair Bolsonaro. Senator menjelaskan bahwa banyaknya kasus kematian karena Covid-19 di Brazil karena kesalahan pemerintah.
Sebuah draft dokumen setebal 1200 halaman yang disiapkan oleh Senator oposisi, Renan Calheiros, untuk Komite Senat menuduh Bolsonaro menolak peluang awal bagi pemerintah untuk memperoleh vaksin. Akibat penundaan tersebut, Brazil membayar sekitar 95.000 jiwa yang meninggal dunia akibat Covid-19.
Laporan tersebut menuduh Bolsonaro menggunakan pendekatan yang tidak berdasar tentang teori kekebalan kelompok melalui infeksi alamiah dan ketersediaan obat-obatan.
“Tanpa vaksin, kematian akan menjadi stratosfer seperti yang terjadi,” ungkap laporan yang dilansir Associated Press News Agency.
Laporan itu juga merekomendasikan 11 dakwaan bagi Presiden Bolsonaro mulai dari penipuan, melakukan hasutan kejahatan, pembunuhan dan genosida terhadap komunitas priibumi. Akan tetapi, tiga dari sebelsa senator terus melobi untuk menghapus tuduhan pembunuhan dan genosida.
Sebelumnya, pada hari Selasa (19/10/2021), Bolsonaro menolak penyelidikan tersebut dan menganggapnya sebagai lelucon. Ia pun meminta pendukungnya tidak khawatir dengan hal tersebut dan tetap akan menjalani kebijakan tersebut walau kritikan meningkat.
Laporan tersebut pun menuduh Bolsonaro dan kroninya telah menyebarkan informasi yang salah sehingga mendorong ketidakpatuhan terhadap langkah-langkah sanitasi untuk menahan pandemi.
Lebih dari 600.000 warga Brazil meninggal akibat Covid-19. Angka ini menjadikan Brazil sebagai negara dengan jumlah kematian akibat Covid-19 tertinggi kedua setelah Amerika Serikat.
Para pakar kesehatan masyarakat Brazil bahkan mengkritik kebijakan penanganan pandemi yang dilakukan Bolsonaro. Bolsonaro, secara terang-terangan, menolak untuk memakai masker di depan umum dan menyatakan bahwa ia menolak untuk divaksin. [Mohamad Deny Irawan]





















