London, Gontornews — Media internasional Reuters mengatakan Asia menjadi benua kedua setelah Amerika latin yang menyumbang mayoritas kasus infeksi Covid-19 global. Reuters mencatat Asia melaporkan lebih dari 10 juta kasus Covid-19 dengan India sebagai negara penyumbang kasus infeksi tertinggi.
Secara global, Asia berkontribusi seperempat dari 42,1 juta kasus infeksi global tercatat oleh Reuters. Sementara angka kematian akibat Covid-19 di Asia mencapai lebih dari 163.000 kasus atau 14 persen total angka kematian Covid-19 secara global.
Meskipun Asia mencatatkan lonjakan kasus yang signifikan, Asia terus melaporkan peningkatan dalam penanganan pandemi dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah kasus di negara-negara dengan infeksi Covid-19 tertinggi, seperti India, terus mencatatkan tren pelambatan. Tren positif ini terlihat sangat kontras dengan kondisi sebagian besar negara-negara Eropa yang terus melaporkan peningkatan kasus Covid-19 secara masif.
Sejauh ini, India masih menjadi negara penyumbang kasus infeksi Covid-19 tertinggi di Asia. India berkontribusi hampir 21 persen jumlah kasus infeksi Covid-19 serta 12 persen total kasus kematian global.
Tidak hanya itu, India juga menjadi negara yang paling parah terdampak Covid-19 setelah Amerika Serikat. India melaporkan lebih dari 57.000 kasus infeksi setiap hari dengan 58 kasus baru terkonfirmasi per 10.000 pengujian. Sementara rata-rata angka kematian akibat Covid-19 di India mencapai 764 kematian perhari atau satu dari 13 kematian akibat pandemi secara global.
Selain India, Bangladesh, yang bertetangga dengan India, juga melaporkan peningkatan kasus Covid-19 terparah kedua di Asia. Meski mencatatkan hampir 400.000 kasus baru, tren infeksi harian Covid-19 di Bangladesh juga mengalami pelambatan dengan 1.453 kasus per hari atau kurang dari 40 persen kasus infeksi yang memuncak pada Juli.
Sementara di Asia Tenggara, Indonesia ‘akhirnya’ melampaui kasus infeksi Covid-19 tertinggi yang sebelumnya diraih Filipina. Berbeda dengan sejumlah negara dunia, Indonesia memilih untuk mengamankan pasokan vaksin vaksin sekalipun masih berada dalam masa pengujian.
Sejumlah epidemolog mengkritik kebijakan tersebut. Epidemolog menyebut Indonesia lebih memilih untuk mencari solusi “peluru perak” sebelum kemanjuran dan keamanan vaknsin diketahui secara lengkap. [Mohamad Deny Irawan]






















