Lviv, Gontornews — Sebuah rudal Rusia, Jumat (18/3/2022), menghantam sebuah pabrik pesawat di Lviv, Ukraina Barat. Padahal, selama ini, Lviv merupakan tempat berlindung paling aman bagi orang-orang yang melarikan diri dari peperangan. Meski demikian, tidak ada laporan jatuhnya korban jiwa yang terluka pascaserangan tersebut.
Pasca tiga ledakan keras tersebut terdengar, pemerintah Ukraina mengerahkan kendaraan darurat untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga dan ribuan pengungsi.
Sejak Rusia menyerang Ukraina Februari lalu, berbeda dengan wilayah Ukraina lainnya, Ukraina Barat merupakan wilayah yang lebih tenang. Selama ini, Rusia telah melancarkan invasi ke tiga wilayah, Utara, Timur dan Selatan. Sementara Lviv merupakan kota yang relatif tidak memiliki cedera.
“Ada alarm serangan udara di sini setiap pagi. Tetapi, sekarang serangan itu benar-benar telah tiba,” kata seorang warga Lviv, Valentin Vovchenko, kepada AFP.
“Kami melarikan diri Kyiv karena serangan itu. Tetapi, sekarang mereka mulai menyerang dari sini,” sambung Vovchenko.
Sementara itu, Walikota Lviv, Andriy Sadovy, membenarkan bahwa rudal tersebut menghancurkan salah satu fasilitas perawatan pesawat militer milik Ukraina. Meski sudah lama tidak beroperasi, fasilitas perawatan militer tersebut berada dekat dengan Bandara Internasional Danylo Halytskyi. Bagaimanapun, Sadovy memastikan bandara Halytskyi tidak terdampak serangan tersebut.
Angkatan udara Ukraina mencatat ada enam rudal jelajah Rusia yang berasal dari Laut Hitam, dua di antaranya hancur oleh rudal anti-pesawat. “Rusia mencari infrastruktur yang membuat pesawat Ukraina tetap terbang,” kata mantan Direktur Lembaga Pemikir Royal United Service Institue (RUSI), Prof Michael Clarke, kepada BBC.
Lviv hanya berjarak 80 km dari Polandia, sebuah negara yang menampung lebih dari dua juta pengungsi Ukraina.
“(Serangan rudal ke Lviv merupakan) upaya untuk menakut-nakuti Barat untuk tidak membantu Ukraina sebanyak yang mereka lakukan,” tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]






















