Tripoli, Gontornews — Sedikitnya lima dokter tewas dan tujuh lainnya luka-luka setelah serangan udara yang dilancarkan pasukan Khalifah Aftar yang dibantu sekutu menargetkan sebuah Rumah Sakit di dekat Ibukota, Tripoli Selatan.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Libya, Lamine al-Hashemi mengatakan, Rumah sakit lapangan yang terletak di jalan bandara [Tripoli selatan] dilanda serangan udara.
“Lima dokter tewas dan tujuh orang lainnya, termasuk tim penyelamat, terluka dalam serangan,” katanya, dikutip Aljazeera.
Menurut al-Hashemi serangan yang terjadi Sabtu (27/7) kemarin dilakuknan dengan menggunakan pesawat tanpa awak (drone) milik Aftar.
Dibantu oleh pasukan sekutu, Perancis, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Rusia, pasukan yang setia pada Khalifah Aftar terus melancarkan serangan sejak awal April lalu untuk merebut kendali Tripoli.
Sementara itu Pasukan Pro-GNA (Pemerintah yang diakui PBB) terus melawan untuk mempertahankan wilayah di pinggiran ibukota itu namun serangan tetap menemui jalan buntu.
Tidak ada konfirmasi atau penolakan tanggung jawab langsung dari pasukan Haftar.
Wartawan Aljazeera, Mahmoud Abdelwahed yang berada di lokasi ledakan menjelaskan, sejak serangan April lalu, pasukan Haftar telah menargetkan fasilitas medis, termasuk rumah sakit lapangan dan ambulan.
“Para pekerja medis menunjukkan kepada kami sisa-sisa roket berpemandu yang mengenai fasilitas itu. Mereka mengatakan bahwa itu kemungkinan besar diluncurkan dari sebuah drone. Kami memahami bahwa drone Emirati telah mendukung pasukan Haftar sejak awal pertempuran.” jelasnya.
Serangan yang terjadi Sabtu kemarin merupakan serangan ketiga yang menargetkan rumah sakit di selatan Tripoli.
Sebelumnya, pada 16 Juli lalu, tiga dokter dan seorang paramedis terluka dalam serangan udara di Rumah Sakit Swani di dekat ibukota. Serangan itu yang kedua kalinya menjadi sasaran.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan kelompok-kelompok hak asasi manusia telah berulang kali meminta kedua belah pihak yang terlibat dalam konflik untuk menyelamatkan personel medis, klinik dan rumah sakit.
Organisasi Dunia itu juga mengatakan bahwa Pertempuran yang terjadi sejak April lalu telah menewaskan hampir 1.100 orang dan melukai lebih dari 5.750. Lebih dari 100.000 warga sipil telah meninggalkan rumah mereka.[Devi Lusianawati]





















