Aksi Bela Islam dari jilid pertama hingga seterusnya memang cukup membuat takjub mata manusia di seluruh dunia. Lebih-lebih lagi aksi damai 212 yang berhasil menghadirkan tujuh juta Muslimin dari berbagai pelosok Tanah Air.
Mereka datang tanpa diiming-imingi bayaran. Alih-alih dibayar, mereka bahkan datang dengan membawa sumbangan sukarela. Sebelum berangkat pun, niat mereka banyak dikecam. Tak sedikit mendapat hambatan dari aparat kepolisian hingga kaum nyinyir. Tetapi, kecaman itu tak meluluhkan niat dan semangat untuk membela al-Qur’an. Antusias kaum Muslimin semakin terbukti setelah hadirnya rombongan long march para santri dari Ciamis, Jawa Barat, menuju Monas Jakarta. Sehari semalam mereka jalan kaki menempuh jarak lebih 260 km.
Kejutan demi kejutan kekuatan umat Islam memang tampak jelas kala itu. Bangkitnya nilai persaudaraan, persatuan, dan perjuangan, telah lahir bersamaan dengan semangat menuntut keadilan atas kasus penistaan al-Qur’an yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama, mantan Wagub Jokowi yang naik menjadi Gubernur DKI setelah Jokowi terpilih menjadi Presiden RI.
Namun lagi-lagi, hal itu belumlah cukup. Nyatanya, selang aksi tersebut, pihak lawan justru melayangkan berbagai strategi politik untuk mengkriminalisasikan para ulama. Berikut beberapa kisah nyata perjuangan para alumni Aksi Bela Islam dalam memerangi musuh-musuhnya:
Polisi Asal Seret Ketua Yayasan Keadilan Untuk Semua
Adnin Armas MA, ketua Yayasan Keadilan Untuk Semua, pada (15/2) lalu dipanggil pihak kepolisian atas tuduhan kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dan pelanggaran pasal UU Yayasan. Polisi pun menuding adanya dugaan penyelewengan dana yayasan yang ia pimpin.
Sebagaimana diberitakan media massa sebelumnya, pihak kepolisian telah menetapkan Islahuddin Akbar, salah seorang pegawai bank swasta, atas tuduhan melanggar UU Nomor 28 tahun 2004 tentang Yayasan dan UU Nomor 8 tahun 2010 tentang pemberantasan tindak pencucian uang.
Islahuddin, selaku orang yang dipercaya oleh Bachtiar Nasir (Ketua GNPF), dianggap bersalah karena telah mencairkan dana Yayasan Keadilan Untuk Semua setelah mendapat kuasa dari Adnin selaku ketua yayasan.
Alumnus International Islamic University Malaysia, ini menuturkan, “Yayasan telah meminjamkan rekeningnya untuk membantu melancarkan Aksi Bela Islam 410, 411, dan 212.”
Karena menjelang aksi 4 November (411) dan 2 Desember (212) lalu, pihak GNPF telah meminta tolong kepadanya untuk meminjamkan rekening yayasan yang ia pimpin guna menampung dana dari masyarakat yang akan membantu pelaksanaan Aksi Bela Islam tersebut.
Yayasan itu sendiri, kata Adnin, bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan seperti membantu para pengungsi akibat konflik dan bencana alam. Sedangkan uang itu jelas adalah sumbangan masyarakat untuk Aksi Bela Islam.
“Saya tak mungkin tak mendukung aksi ini. Semua masyarakat berlomba-lomba ingin mendukung Aksi Bela Qur’an dan bela ulama. Saya juga ingin membantu,” katanya.
Saat pencairan dana inilah, Adnin ikut dipersalahkan. Tindakannya memberikan kuasa kepada Islahudin dianggap salah oleh pihak kepolisian. Padahal, kata Adnin, justru ia tak mungkin menahan-nahan uang umat di dalam rekening yayasannya.
“Kalau saya menahan-nahan dana itu, baru saya bersalah. Tapi kalau saya memberikan akses kepada GNPF atas dana umat tersebut, kenapa justru saya disalahkan?” tanya Adnin lagi.
Dengan begitu, polisi telah salah kaprah menuduh yayasan melakukan pencucian uang. “Polisi hanya ingin melemahkan gerakan umat dengan melakukan berbagai upaya pelemahan,” jelas Pemred Majalah Gontor ini (7/11).
Mirisnya lagi, di Komisi III DPR RI Kapolri telah menyebut Adnin Armas sebagai tersangka. Namun, kenyataannya ucapan kapolri tersebut keliru. Karena hingga kini tidak ada penetapan tersangka secara tertulis.
Bahkan hingga berita ini diturunkan, tidak ada penetapan tersangka secara tertulis kepada Adnin Armas. “Tentu ucapan verbal Kapolri di Komisi III DPR RI kemaren yang menyatakan saya (Adnin Armas) sebagai tersangka sangat merugikan nama baik saya,” pungkas Ketua Institute for Study of Islamic Thought and Civilization (INSIST) kepada Majalah Gontor.
Ratusan Santri Gelar Aksi Jalan Kaki dari Ciamis ke Jakarta
Beberapa hari sebelum aksi 212 terjadi, masyarakat Indonesia sempat dikagetkan dengan aksi jalan kaki ratusan santri asal Ciamis menuju Ibu Kota Jakarta. Aksi long march santri Ciamis ini bukanlah tanpa sebab.
“Aksi ini digelar sebagai bentuk kekecewaan mereka karena perusahaan otobus menolak menyewakan armadanya ke Jakarta, jelas Kabid Humas Polda Jabar Kombes (Pol) Yusri Yunus.
Aksi massa berjalan kaki ini dimulai pada pukul 10.20 WIB, Senin (28/11/2016). Sementara kalangan pengusaha otobus sebelumnya mendapat edaran untuk menolak melayani pesanan peserta aksi.
Peserta lantas mengawali aksinya dari Masjid Agung Ciamis dan tiba di Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Huda Utsmaniyah, Cihaurbeuti, pada sore hari. Ponpes ini berada di perbatasan Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya.
Selasa malam (29/11), rombongan tersebut telah tiba di Kampung Nagreg, Jalan Raya Nagreg KM 34, Cicalengka, Bandung. Mereka bermalam dan beristirahat, kemudian kembali melanjutkan aksi long march menuju Jakarta pada Rabu pagi (30/11).
Menariknya, di sepanjang jalan, para peserta aksi terus dibanjiri dengan makanan dan minuman dari para relawan. Tidak hanya itu, sejumlah tim medis juga disediakan untuk memantau kesehatan mereka.
Kobaran semangat para santri Ciamis ini, ternyata berhasil menularkan api semangat kepada Muslimin lainnya. “Setelah melihat rombongan Ciamis datang dengan berjalan kaki, hati saya bergetar, tersentak, dan ikut terpanggil untuk ikut andil dalam aksi 212,” jelas Dodi Ariyandi, MPdI, kepada Majalah Gontor (7/11).
Meski kala itu, Dodi -guru sekolah swasta- bertugas mengawasi ujian muridnya. Namun setelah tugas terlaksana, meski hujan deras, ia dan temannya langsung bersegera menuju ke lokasi aksi 212. Perjalanan mereka akhirnya terhenti ketika melalui jalur Tugu Tani karena telah dibanjiri lautan manusia pejuang al-Qur’an.
“Kami hanya dapat berdiri agak jauh dari pusat aksi (Tugu Monas),” terang alumnus Pondok Modern Gontor tahun 2002 tersebut. Ia pun menambahkan bahwa hanya Allah SWT yang bisa menggerakkan jutaan hati hamba-Nya hingga bisa berkumpul di tempat ini demi membela kitab suci-Nya.
Guru Ngaji Syahid Saat Aksi Bela Islam Jilid 2
Seorang guru ngaji, peserta Aksi Bela Islam jilid 2 (4/11), M Syachrie Oemar Yunan (65), akhirnya meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Diduga korban terkena semburan gas air mata. Sehingga mengakibatkan asma yang dideritanya kambuh.
Sebelumnya, pihak kepolisian secara membabi buta melepaskan tembakan gas air mata ke arah massa untuk membubarkan aksi di istana negara. Para ulama pun turut menjadi korban atas penyerangan tersebut.
Sayangnya, peristiwa itu ternyata menelan korban jiwa yakni M Syachrie, warga Curug Banten. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Awi Setiyono (5/11) mengklaim, “Korban meninggal dunia dikarenakan penyakit asma. Tidak ada luka atau tanda kekerasan di tubuh korban.”
Setelah dinyatakan tak bernyawa, jenazah M Syachrie pun dibawa ke rumah duka di Binong Permai, Kelurahan Binong, Curug, Banten. Duka mendalam juga turut dirasakan oleh para ulama dan segenap Muslimin Tanah Air atas kepergian seorang syahid pembela al-Qur’an tersebut.
ABI Menggerakkan Manusia Berbagai Profesi
Jutaan masyarakat Muslim di Indonesia berkumpul dalam rangka menggelar Aksi Bela Islam (ABI) dengan tuntutan tindakan hukum atas penistaan ayat suci al-Qur’an oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.
Berpusat di Monas, aksi-aksi damai Umat Islam digelar dengan harapan Pemerintah Indonesia bisa menegakkan hukum dengan adil terhadap si penista agama. Dengan menggunakan pakaian putoh dan pengikat kepala merah putih, manusia dari berbagai ras, profesi dan latar belakang berkumpul menjadi satu. Bahkan, di antara jutaan manusia itu ada beberapa orang dengan keterbatasan fisik penuh semangat bergabung dalam aksi damai.
Salah satunya adalah Anugerah, seorang santri Ma’hadul Qur’an wal Qiroat Az-Zikra, yang harus dengan susah payah berjalan dengan kedua kaki dan tangannya demi menjaga kesucian al-Qur’an yang saat itu tengah ternodai oleh mulut yang tidak bertanggung jawab.
Sebagai seorang hafiz Qur’an, dia merasa terpanggil untuk bergabung bersama jutaan saudara seimannya di Jakarta. Dengan jarak yang cukup jauh dari tempatnya mengayom ilmu hingga ke jantung Ibu Kota, Anugerah mengaku bahwa jiwa dan dirinya telah menyatu dengan Al-Qur’an.
“Jadi kalau saya tidak ikut aksi damai (bela al-Qur’an) maka saya merasa terhina, ” ungkapnya. Dia melanjutkan, saat mengikuti aksi, ia bersama teman-temannya dari pesantren tidak bisa sampai di Monas lantaran lautan manusia yang begitu banyak. Dengan menggunakan angkutan umum, ia terpaksa turun di Markas Brimob dan melanjutkan hingga ke lokasi dengan berjalan kaki.
Meski demikian, ia tidak merasa susah dan khawatir walau berjalan dengan cara merangkak untuk bisa sampai di Monas. ‘’Harapan saya itu hanya satu, penegakan hukum terhadap penista agama yang telag menodai kitab sucinya segera ditegakkan,’’ tegasnya.
“Saya ikut aksi ini niatnya hanya karena Allah,” akunya. Keterbatasan fisik yang dimilikinya tidak lantas membuat Anugerah berdiam diri di pesantren saat al-Qur’an yang sangat ia cintai dinodai. Justru semangat yang menggebuh-gebuh hadir dalam hati dan dirinya, sehingga halang rintang berani ia terjang demi mengikuti aksi damai 212 di Jakarta.
Yang membuatnya antusias, juga karena Anugerah tidak sendiri dalam aksi damai tersebut. Ada juga peserta aksi yang memiliki keterbatasan fisik sepertinya yang juga ikut serta, yaitu Ajum Syah Putra, salah satu santri dari Ciamis, Jawa Barat.
Jika Anugerah datang bersama teman-temannya dengan menggunakan angkutan umum, Ajum justru dengan tekad yang sangat kuat datang untuk mengikuti aksi hanya dengan berjalan kaki. Tidak kurang dari 300 kilometer jarak yang ditempuhnya dari Ciamis menuju Jakarta.
Walaupun tidak dapat berjalan normal seperti orang pada umumnya, keputusan besar akhirnya membuahkan hasil dan sekarang si penista al-Qur’an sudah dipenjara, meski hanya dua tahun. Bahkan keberaniannya berjalan jauh telah menjadi perbincangan di media sosial hingga ke luar negeri.
Laki-laki yang akrab disapa Abah Ador ini menjelaskan tentang tujuannya mengikuti aksi damai 212 bersama-sama santri-santri lainnya. Yaitu untuk menunjukan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahkan kepada dunia bahwa Umat Islam bukanlah umat yang suka membuat makar, seperti yang diisukan sebelumnya.
Ia mengaku sempat mendengar isu bahwa aksi damai 212 disebut-sebut sebagai upaya makar. Oleh sebab itu, dengan kedatangannya ke Jakarta kala itu berupaya menunjukan bahwa isu itu tidak benar.
Ia mengatakan bahwa kehadirannya di antara jutaan manusia di bilangan monas bukan untuk menunjukan kekurangannya akan tetapi untuk mengajak seluruh umat Muslim Indonesia untuk sama-sama peduli dengan kesucian kitab mereka al-Qur’an.
“Yang seperti saya saja masih peduli. Masa yang muda, segar bugar tidak, ” tambahnya.
Ia juga mengatakan, melalui kehadirannya di dalam aksi tersebut berharap agar hukum di Indonesia benar -benar ditegakan dan tidak tebang pilih, termasuk hukum terhadap Ahok yang telah menodai al-Qur’an.
Sebagai anggota Front Pembela Islam (FPI) Ciamis Zona IV, dia yakin bahwa apa yang saat itu dilakukan seluruh peserta ABI adalah bagian dari jihad dalam membela agama Allah SWT. Dengan berpegang teguh kepada ayat-ayat Allah, bahwa barang siapa yang membela agama Allah maka akan mendapatkan pembelaan di akhirat kelak.
Selain itu, Kepala Madrasah Diniyah Awaliyah, Banyar Anyar, Ciamis, Jawa Barat ini juga menjelaskan bahwa ia bersama teman-temannya sempat mendengar kabar bahwa Kapolri memgeluarkan larangan kepada perusahaan bus (PO) bus untuk mengangkut para peserta aksi yang hendak menuju Jakarta.
“Sempat kaget juga, tapi karena niat kita berjuang jadi lillahi ta’ala, kita jalan kaki, tidak takut hujan, panas, ” ungkapnya.
Ia mengaku bahwa keberangkatannya menuju Jakarta tidak terlepas dari ridho sang Ibu. Sebelum keberangkatannya itu ia sempatkan untuk meminta doa agar aksi damai yang ia ikuti berjalan lancar tanpa kericuhan seperti yang terjadi pada aksi sebelumnya aksi 411.
“Jika nanti nau’udzubillah ada kericuhan, saya pasrah jika terjadi apa-apa dengan saya, ” akunya.
[Edithya Miranti/Devi Lusiana]






















