Kesan nilai kearifan ini penulis dapatkan baik melalui pengalaman pribadi ataupun penuturan seorang teman yang hidup semasa penulis ‘nyantri’ di ISID-Gontor medio 2007-2011, atau sekarang sudah berganti menjadi Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor. Tulisan ini berusaha merekam kembali beberapa nasehat yang diberikan oleh para asatidz (dosen) pada setiap moment ataupun kegiatan. Sebagai wujud dari tahaddust bi nikmat karena sudah diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan pada lembaga pendidikan ini. Diantara beberapa nasehat tersebut adalah sebagai berikut:
Acara ini digelar menjelang masa pengabdian kami habis di ISID, dilakasanan di CIOS selepas shalat isya’. Entah teman-teman kami ikut semua atau tidak; yang jelas penulis sangat ingat moment ini; dimana untuk pertama kalinya, seorang dosen memanggil kami dengan kata ‘adik-adikku sekalian’. Jarak kami seolah sangat dekat menjelang akhir pengabdian dengan beliau, yaitu Dr Hamid Fahmy Zarkasyi M Phil dan Dr Dihyatun Masqon MA.
Kami tidak mengetahui pasti mengenai acara ini, namun milliu yang ada pada acara ini ibarat seorang kakak yang akan ditinggalkan oleh adik-adiknya. Pesan-pesan yang beliau berikan kali ini jauh berbeda dengan yang diberikan di masa pekualiaahan, kajian atau pengarahan di masjid dan ditempat lainnya. Beliau berdua memberikan gambaran dan pembekalan mengenai perkualiahan. Bagi siapa saja yang meneruskan untuk pengabdian; Alhamdulillah sangat diharapkan. Namun jika keluar (tidak meneruskan) dari ISID; beliau memberikan nasehat dan sekaligus mendoakan agar sukses. Tiada paksaan untuk hidup di ISID (la ikaraha fi ISID).
Dr Hamid Fahmy Zarkasyi, misalnya, memberikan nasehat kepada kami, bahwa penting untuk meminta doa kepada orangtua kita. Beliau lantas menyatakan seperti ini, “saya ini suskes seperti sekarang ini karena doa para pendahulu saya.” Dengan demikian, merupakan suatu keharusan bagi kita untuk meminta restu dan doa orangtua. Salah satu kesan yang mendalam yang kami miliki mengenai dosen kami ini adalah concern beliau terhadap ilmu. Sampai-sampai jika terdapat perilaku mahasiswa yang kurang pas beliau akan memberikan ungkapan yang khas yaitu–‘nggak ilmiah’. Tentang hal ini, penulis selipkan beberapa pesan beliau yang ‘diriwayatkan’ oleh beberapa rekan sejawad yang mendengar nasehat dari beliau, salah satunya nasehat adalah, “orang yang bekerja untuk ilmu tidak akan miskin” ini nasehat yang diberikan oleh beliau kepada saudara Elvan, dan diceritakan kepada penulis ketika kami memperdalam bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare-Kediri.
Salah satu nasehat beliau yang lain adalah tentang menulis, entah dalam acara apa penulis tidak mengingatnya dengan pasti. Tetapi, dia lantas mengungkapkan seperti ini, “menulis itu ibarat bermain bola, semakin sering anda bermain bola, anda akan semakin bisa bermain bola. Begitu jugalah dengan menulis”. Dengan demikian, menulis menurut beliau berangkat dari praktik bukan teori. Dalam ungkapan Arab, menulis bukan masalah kaifa as-sabiil (bagaimana caranya), akan tetapi cenderung kepada usluk bihimmatika as-sabil (cobalah dengan penuh semangat). Thus, menulis? Adalah to practice, practice dan praktice –jarrib wa lahidz takun ‘arifan! (coba dan perhatikan, lakukan evaluasi dari percobaanmu, maka kamu akan tahu).
Terkait dengan menulis, juga terdapat nasehat dari Dr Dihyatun Masqon MA. Nasehat ini sebenarnya terjadi pada moment non-formal, yaitu konsultasi pribadi yang dilakukan oleh rekan sejawad menjelang akhir shalat berjamaah di Masjid ISID, ‘diriwayatkan’ dari saudara Adib Susilo. Beliau bercerita kepada penulis, bahwa beliau curhat kepada Dr Dihyah –nama panggilan beliau di antara mahasiswa ISID, meskipun beliau mencantumkan nama ‘Dimas’ di kaos olahraga beliau. Rekan Adib bertanya, “Ustadz bagaimana caranya agar saya tidak merepotkan kedua orang tua dalam membiayai kuliah, saya ingin mandiri’. Lantas beliau menjawab, “bisa, yaitu dengan menulis!”.
Masih dalam acara pembekalan menjelang akhir pengabdian. Setelah Dr Hamid berbicara. Dr Dihyah memberikan nasehatnya. Panjang lebar beliau berikan nasehat kepada kami. Namun satu hal yang penulis ingat, yaitu ketika beliau menjawab pertanyaan salah seorang rekan kami, “apakah belajar dari spesialist dulu baru generalist kemudian, atau sebaliknya?”. Beliau lantas menjawab, “menjadilah generalist dahulu, kemudian spesialist”. Pada saat itu, penulis atau mungkin kami yang hadir di CIOS kurang mengerti dari jawaban beliau. Namun, semakin lama, jawaban itu semakin jelas dan nampak. Dimana seseorang harus melahap habis dahulu mata pelajaran atau menu kuliah secara umum, kemudian akan jelas dan terang benderang mana mata kuliah yang menjadi intrerset seorang mahasiswa, dan yang bukan. Dari situlah spesialisasi seseorang akan terlihat.

















