Damaskus, Gontornews – Pemerintah Suriah menolak tegas gagasan soal Zona Aman oleh Turki dan AS beberapa waktu lalu. Menurut Suriah, kesepakatan zona aman adalah bagian dari agresi nyata bagi negara itu.
Sebuah pernyataan resmi Pemerintah Suriah soal sikapnya terhadap kesepakatan zona aman Turki-AS, seperti yang dikutip Kantor Berita SANA menyatakan bahwa Suriah menolak tegas perjanjian yang diumumkan oleh AS dan pendudukan Turki atas pembentukan zona aman, yang merupakan agresi terang-terangan dan nyata terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Republik Arab Suriah. Serta merupakan pelanggaran yang mencolok atas prinsip-prinsip negara tersebut.
Pernyataan yang dikeluarkan kementerian luar negeri Suriah itu juga menyatakan, perjanjian tersebut sangat jelas mengekspos kemitraan AS-Turki dalam agresi terhadap Suriah yang telah melayani kepentingan entitas pendudukan Israel.
“Dan itu juga merupakan ambisi ekspansionis Turki yang secara tegas mengekspos kesesatan dan penghindaran yang mengatur kebijakan rezim Turki,” tulis pernyataan itu.
Selain itu, dalam kesempatan itu, Pemerintah Suriah juga menyerukan kepada masyarakat internasional dan PBB untuk mengutuk agresi AS-Turki yang merupakan eskalasi berbahaya. Menimbulkan ancaman bagi perdamaian dan keamanan di kawasan dan dunia serta menghalangi semua upaya positif untuk menemukan solusi bagi krisis di Suriah.
Sebelumnya, Pada hari Rabu (7/8), Turki dan AS telah mencapai kesepakatan untuk mendirikan pusat operasi bersama yang bertujuan untuk mengoordinasikan dan mengelola pengaturan zona aman di Suriah Utara.
Pernyataan bersama oleh Kementerian Pertahanan Turki dan kedutaan besar AS di Ankara mengatakan bahwa kedua pihak telah sepakat untuk mendirikan pusat operasi yang berbasis di Turki dan sesegera mungkin zona aman akan menjadi koridor perdamaian.
Namun demikian pernyataan AS-Turki tidak merinci tentang bagaimana dan kapan zona itu akan dibuat, tetapi tampaknya akan menjadi upaya untuk mencegah operasi Turki yang terancam ke wilayah timur Sungai Eufrat di Suriah.[Devi Lusianawati]





















