Langkah Pemerintah dalam penerapan Pembelajaran Tatap Muka (TPM) terbatas sudah sangat tepat, karena pendidikan bukan hanya sekedar mentranfer ilmu saja, namun juga pembentukan karakter anak didik untuk dipersiapkan menjadi generasi tangguh di masa mendatang.
Membentuk karakter anak didik tidak dapat dilakukan dengan cara daring atau online sebagaimana pembelajaran ilmu. Namun dibutuhkan contoh dan praktik dalam melaksanakannya.
Dalam proses pembentukan karakter, peran guru sangat menentukan. Guru akan memberikan atau bahkan menjadi contoh dari perilaku-perilaku yang baik kepada anak didik. Anak didik akan melihat bagiamana guru-guru bersikap, berbicara dan bertindak, yang semua itu akan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar ilmu mungkin saja bisa dilakukan dengan cara daring, namun untuk ilmu yang harus didukung oleh praktik tentunya dibutuhkan kehadiran. Misalnya saja mempelajari Ilmu Fiqih mengenai Bab Berwudhu.
Anak-anak bisa saja memahami ilmu tentang berwudhu, seperti maksud dari berwudhu, rukun hingga sunnnah yang ada dalam berwudhu. Tetapi, anak belum tentu mengetahui bagaimana cara berwudhu yang baik, seberapa banyak air yang dibutuhkan dan bagian-bagian yang diwajibkan untuk tersentuh air saat berwudhu. Keseluruhannya membutuhkan praktik.
Guru, selain memberikan contoh juga harus memperhatikan setiap praktik yang dilakukan anak didik, jangan sampai mereka melakukan kesalahan, yang pada akhirnya akan menjadi kebiasaan yang salah di masa depan mereka.
Selain itu, dengan adanya tatap muka, guru akan dengan mudah memahami kebutuhan setiap anak didik, kemampuan hingga prestasi yang dimiliki mereka. Jangan sampai, bakat atau prestasi tersebut terpendam hanya karena kurangnya kemampuan guru untuk mengenal anak didiknya sendiri lantaran tidak adanya tatap muka.
Dalam pendidikan terdapat tiga aspek penting yang perlu dipahami. Pertama, aspek kognitif yaitu aspek pengenalan anak didik terhadap berbagai disiplin ilmu yang dipelajari. Aspek ini menjadi aspek paling utama sebab berkaitan dengan proses berpikir.
Aspek kognitif, misalnya mempelajari ilmu pengetahuan yang dipelajari bersama-sama, baik dengan teman maupun guru, dan aspek ini bisa saja dilakukan secara daring. Guru bisa mentransfer ilmu kepada anak didik tanpa harus dengan tatap muka, walaupun sebenarnya tidak efektif untuk proses pembelajaran yang baik.
Kedua, aspek afektif, yaitu aspek yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Seperti perilaku anak, perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Aspek inilah yang tidak bisa didapatkan jika proses pembelajaran dilakukan tanpa tatap muka.
Guru tidak akan bisa memahami anak didiknya jika tidak menyaksikan sendiri anak didiknya tersebut. Untuk memahami emosi anak, perilaku, sikap dan minat, guru harus hadir dan membersamai mereka secara fisik. Dengan demikian, aspek afektif ini hanya akan diperoleh jika ada tatap muka.
Ketiga, aspek psikomotor atau aspek yang berkaitan dengan keterampilan. Aspek ini sangat berkaitan dengan aspek afektif, sebab untuk bisa mengetahui keterampil anak, guru harus bisa memahami perilaku, minat dan perasaan anak didik.
Masa Pandemi
Pembelajaran Tatap Muka di masa pandemi memang bukan hal yang mudah. Ada kekhawatiran dan kecemasan, baik di kalangan guru maupun orantua siswa. Namun hal itu bisa dicarikan solusi, sebab bagaimanapun tatap muka sangat penting dalam proses pembelajaran. Karena itu protokol kesehatan harus tetap dijalankan, seperti mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak selama proses pembelajaran berlangsung.
Bagaimanapun guru tidak akan bisa memahami, mengerti kemampuan anak jika tidak adanya interaksi langsung. Dengan tatap muka itulah interaksi akan terjadi. Guru akan mudah mengenal setiap perilaku dan sikap anak didik, dan anak didik akan merasa diawasi dan dikontrol oleh guru.[]











