Queensland, Gontornews — Sebuah penelitian tentang terumbu karang menyebutkan, karang yang sudah memutih akibat kenaikan suhu permukaan laut pada tahun 2016 dipastikan tidak akan memutih untuk kedua kalinya meski suhu permukaan laut terus meningkat tiap tahunnya.
“Karang tidak bisa mati dan memutih untuk kedua kalinya. Di wilayah utara, jutaan karang hilang akibat kenaikah suhu air laut pada thaun 2016. Sebagian besar yang selamat dari pemutihan tersebut adalah spesies karang yang lebih keras. Akibat pemutihan, campuran spesies juga berubah dengan sangat cepat,” ungkap penulis utama Teryy W Hughes sebagaimana dilansir Science Daily.
“Kami terkejut karena melihat pemutihan pada tahun 2017 tidak parah meski suhu jauh lebih ekstrem,” tambah Direktur the Australian Research Council Centre of Excellence for Coral Reef Studies (Coral Coe) yang berpusat di James Cook University itu.
Dalam penelitiannya, mereka mencatat bahwa gelombang panas telah menyebabkan pemutihan masal di Great Barrier Reef (GBR) untuk keempat kalinya sejak terjadi pertama kali pada tahun 1998, 2002, 2016 dan 2017 yang lalu.
Meski demikian, para ilmuwan menemukan bahwa setelah peristiwa pemutihan pada tahun 2017 terjadi, sekitar 61 persen terumbu karang di GBR mengalami pemutihan setidaknya satu kali.
“Dengan menggunakan satelit dari National Oceanic and Atmospheric Administration’s (NOAA), terumbu karang yang terdapat di GBR sebelah utara mengalami pemutihan paling parah pada tahun 2016. Setahun kemudian, GBR tengah terlihat mengalami pemanasan lebih lama,” kata salah seorang tim penulis, Dr Mark Eakin dari Coral Reef Watch NOAA.
Sementara itu, sepertiga wilayah GBR selatan hanya mengalami pemutihan lebih sedikit karena kondisi cuaca lebih dingin di tahun 2017.
“Ini hanya masalah waktu sebelum kita melihat pemutihan masal lain yang dipicu oleh gelombang panas laut akibat pemanasan global,” papar Andrew Hoey.
“Salah satu skenario terburuk yang mungkin terjadi adalah melihat karang-karang di wilayah selatan mati akibat pemutihan dalam waktu dekat,” tambah Hoey.
Terakhir, Prof Hughes Β meminta kepada semua pihak agar mewaspadai pemutihan terumbu karang secara masal di GBR dalam dua musim panas berturu-turut. Ia juga mendesak seluruh negara agar mengurangi emisi gas rumah kaca untuk menyelamatkan terumbu karang dunia termasuk Australia.
“Seharusnya, Australia berada di garis depan dalam mengatasi pemanasan global, tapi sayangnya tidak,” pungkas Hughes. [Mohamad Deny Irawan]






















