Bandung, Gontornews — “Bagi saya mendongeng dan bercerita sih mirip-mirip saja,” terang Eka Wardhana, penulis lebih dari 490 judul buku anak.
Kalaupun mau dibedakan, tambah Eka, kepada Gontornews.com, kisah dalam dongeng lebih bersifat imajinatif baik dari segi waktu, tokoh, dan logikanya. Sedangkan bercerita lebih pada kisah nyata seperti kisah Nabi dan Rasul.
Dalam Kuliah Whatsapp Rumah Pensil, pendongeng sekaligus ilustrator, ini pun turut berbagi tips mendongeng dan bercerita yang menyenangkan bagi anak. Berikut petikannya:
Pertama, semangat. Tanpa semangat semakin lama upaya mendongeng akan semakin berat. Ingat dongeng itu metode luar biasa, wajar bila metode luar biasa juga memerlukan upaya lebih untuk digunakan.
“Agar bisa bersemangat, Ayah dan Bunda harus mencintai dan memahami kisah-kisah yang disampaikan,” terang pria kelahiran Jakarta, 9 Mei 1971 itu.
Kedua, lebih baik singkat tapi sering, daripada lama tapi jarang. “Bercerita lima menit setiap hari lebih baik dari pada bercerita selama 30 menit tapi sebulan sekali,” papar Eka.
Ketiga, lakukan rutin (bercerita dan mendongeng) di waktu yang sama misalnya, saat sebelum tidur. Ingat salah satu ciri balita adalah suka melakukan hal yang rutin dengan urutan yang sama.
Keempat, ciptakan kebiasaan. Bila sudah terbiasa, akan terasa kurang bila tak dilakukan. Caranya, mendongeng selama 21 hari terus-menerus. In syaa Allah di hari ke-22, kebiasaan sudah terbentuk.
Kelima, tidak usah pedulikan bagaimana bersuara ini atau itu sesuai tokohnya. Berceritalah dengan hati. Ingat, anak akan lebih ingat siapa yang bercerita daripada isi ceritanya.
Keenam, buat persiapan ringan: baca lebih dulu ceritanya. Bayangkan bagian mana yang akan dijadikan titik keseruan, misalnya pada bagian ini pendongeng akan berekspresi sedih atau marah.
Ketujuh, lakukan di saat anak tengah tenang tidak sedang lapar, gelisah dan lainnya agar lebih efektif. Kedelapan, jangan bercerita kisah-kisah horor. Kisahkan cerita Islami, seperti kisah para nabi dan Rasul, atau kisah-kisah penggugah semangat, seperti anak miskin yang berjuang dan berhasil meraih cita-citanya. <Edithya Miranti>





















