Istanbul, Gontornews — Hagia Sophia di Istanbul kembali menjadi tempat shalat Jumat. Pertama setelah 85 tahun. Meskipun ada kritik keras internasional terhadap kebijakan pemerintah Turki mengembalikan bangunan itu menjadi masjid setelah selama beberapa dekade menjadi museum.
Bagi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, konversi yang banyak dipublikasikan itu mewakili “penaklukan” monumen berkubah berusia 1.500 tahun itu.
Arabnews.com merilis, mosaik dan simbol-simbol Kristen yang ada di dalam Hagia Sophia (Aya Sofia) ditutup dengan tirai selama shalat Jumat berlangsung.
Kepala Direktorat Urusan Agama Turki, Ali Erbas, memberikan khutbah Jumat dengan pedang Ottoman di tangan. Dia membaca ayat-ayat Al-Qur’an tentang penaklukan dan memberikan pidato yang menggugah. Hampir provokatif tentang “orang-orang” yang mengubah Aya Sofia menjadi museum. Secara tidak langsung ia menunjuk kepada pendiri Republik Turki, Mustafa Kemal Ataturk.
Pendukung kebijakan itu menilai, konversi itu sebagai sebuah kebanggaan nasional dan agama. Sementara yang tidak setuju dengan kebijakan itu menginginkan agar warisan Turki modern yang sekuler tetap terjaga utuh.
Monumen ini masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO. Tahun lalu berhasil menyedot 3,7 juta pengunjung. Aya Sofia menjadi salah satu tujuan utama wisata di Turki.
UNESCO serta pihak berwenang di Washington, Moskow, Brussels dan Athena menyatakan keprihatinan mereka terhadap tindakan sepihak Turki.
Berk Esen, seorang analis politik dari Universitas Bilkent, Ankara, mengatakan bahwa meskipun ada keberatan dari sejumlah negara terhadap konversi itu, tapi mayoritas internasional membisu.
“Jelas, keputusan itu umumnya tidak populer di luar negeri tetapi beberapa negara mempersoalkannya di tengah pandemi yang berkelanjutan,” katanya kepada Arab News.
“Meskipun demikian, mengubah status Hagia Sophia menjadi masjid akan dilihat oleh banyak pengamat internasional sebagai langkah Erdogan menghancurkan rezim sekuler Turki dan hubungannya dengan Barat.”
Saat umat Islam Turki melaksanakan shalat Jumat di Aya Sofia, di Yunani muncul demonstrasi anti-Turki. Mereka mempersoalkan konversi museum menjadi masjid.
Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis, mengatakan apa yang terjadi di Hagia Sophia “bukan indikasi kekuasaan” tetapi “tanda kelemahan.” Sebab, langkah itu “akan membakar jembatan antara Turki dan Barat.”
Esen menambahkan, Erdogan tampaknya gagal menarik simpati dan dukungan di dunia Muslim.
“Di pihak Erdogan, keputusan ini diambil langsung dari buku pedoman populis untuk mengubah debat publik dan memberi energi pada basis pemilih seseorang dengan mengeksploitasi masalah budaya yang signifikan.”
Dia menganggap itu sebagai upaya untuk menegaskan kembali kontrol atas debat publik dan meraih basis massa Islamis.
“Ketika kelompok oposisi di Turki tidak menentang langkah Hagia Sophia, Erdogan dibiarkan dengan beberapa peluang untuk mengeksploitasi masalah ini demi memobilisasi basisnya dan memolarisasi opini publik,” tambahnya.
“Keputusan pemerintah tidak menyelesaikan salah satu masalah besar yang dihadapi Turki dalam beberapa bulan mendatang dan dapat berubah menjadi kemenangan Pyrrhic untuk Erdogan, yang mendapati dirinya lebih tersingkir dari ayunan dan pemilih yang ragu-ragu.”
Menurut Ozgur Unluhisarcikli, direktur German Marshall Fund Amerika Serikat cabang Ankara, dorongan Erdogan untuk mengubah Hagia Sophia kembali menjadi masjid dan mulai digunakan untuk tempat shalat memiliki dua tujuan utama.
“Tujuan pertama Erdogan meninggalkan warisan yang kuat sebagai pemimpin yang mengislamkan ulang Hagia Sophia yang akan terus diingat oleh kaum konservatif sayap kanan untuk generasi yang akan datang,” katanya kepada Arab News. “Saya percaya bahwa dia telah mencapai tujuan ini.”
Tujuan kedua, untuk memicu perang budaya yang tidak bisa ia hilangkan dan oposisi tidak bisa menang.
“Namun, oposisi menolak untuk dipancing ke dalam kontroversi seperti itu. Mereka menyangkal perang budaya Erdogan. Dampak internasional dari keputusan itu akan terbatas karena citra Turki di Barat sudah sangat negatif,” tambahnya.
Hubungan Uni Eropa-Turki sudah tegang akibat eksplorasi energi Ankara di perairan Mediterania Timur yang disengketakan. Masalah Hagia Sophia telah menambah beban kasus, menunjukkan penolakan Turki pada masalah kontroversial yang menyibukkan masyarakat internasional.
Selama beberapa pekan terakhir, para diplomat Uni Eropa mendesak Ankara untuk menunda proyek konversi, tetapi Turki bersikeras itu masalah kedaulatan nasional. []






















