Jakarta, Gontornews β Bulan suci Ramadhan menjadi momentum penguatan sinergi antara perguruan tinggi dan pesantren. Dalam rangkaian kegiatan “Takjil Pesantren, Talkshow dan Ngaji Bareng Santri” , jajaran pimpinan Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta menghadiri forum diskusi strategis bertajuk “Dari Pesantren untuk Dunia: Proyeksi Santri Masa Depan” yang diselenggarakan oleh Direktorat Pesantren Kementerian Agama RI di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat (27/2/2026) sore hingga waktu berbuka.
Dalam sambutannya, Direktur Pesantren Kemenag RI, Dr Basnang Said, memaparkan data mengejutkan tentang perkembangan pesantren di Indonesia. “Saat ini tercatat hampir 43.000 pesantren dengan total santri mendekati 17 juta jiwa di seluruh Indonesia. Ini kekuatan besar yang tidak bisa diabaikan dalam pembangunan bangsa,” ujar Basnang Said di hadapan para peserta talkshow.
Dengan potensi demografi sebesar itu, lanjutnya, transformasi visi santri menjadi keniscayaan. “Di masa depan, santri tidak hanya dituntut menjadi mutafaqqih fi ad-diin (ahli ilmu agama), tetapi juga harus mampu mengisi ruang-ruang profesional strategisβmenjadi dokter, teknokrat, hingga ilmuwanβtanpa menanggalkan identitas keislaman dan ke-Nusantara-annya,” tegas Basnang Said.
Acara yang berlangsung khidmat di bulan Ramadhan ini menghadirkan dua pembicara utama: Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI Prof Dr Phil H Kamaruddin Amin MA serta cendekiawan Muslim Prof Dr KH Said Aqil Siroj MA.
Delegasi Universitas Darunnajah yang hadir terdiri dari Muhammad Irfanudin Kurniawan, Fajar Suryono, dan Wisnu Bilqisty. Kehadiran mereka menjadi simbol komitmen UDN dalam menjembatani tradisi pesantren dengan pendidikan tinggi modern.
Pesan Sekjen Kemenag
Dalam pemaparannya, Sekjen Kemenag Prof Kamaruddin Amin menegaskan bahwa santri masa kini tidak cukup hanya mendalami ilmu agama (tafaqquh fiddin), tetapi juga dituntut menguasai ilmu kebangsaan dan ketatanegaraan.
“Santri masa kini jika bisa tidak hanya memiliki target tafaqquh fiddin tetapi bisa belajar ketatanegaraan juga sehingga bisa sukses di pos-pos strategis,” ujar Kamaruddin dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (28/2/2026).
Lebih lanjut, Kamaruddin memaparkan lima poin penting yang harus menjadi pegangan santri dalam menghadapi tantangan global. Pertama, Tafaqquh Fiddin dan Wawasan Kebangsaan. Santri harus mendalami ilmu agama hingga ke akar, sekaligus memahami ketatanegaraan untuk membangun negeri. Pemahaman agama yang kuat harus beriringan dengan komitmen kebangsaan yang kokoh.
Kedua, Peran di Posisi Strategis. Santri masa kini didorong untuk tidak hanya menjadi kiai besar, tetapi juga mengisi pos-pos strategis di birokrasi, pendidikan, dan sektor publik lainnya. “Mereka harus mampu menjadi dokter, teknokrat, hingga ilmuwanβtanpa menanggalkan identitas keislaman dan ke-Nusantara-annya,” tegasnya.
Ketiga, Kerja Keras dan Akhlak Mulia. Kesuksesan membutuhkan kerja keras dan perjuangan, yang harus dibarengi dengan akhlak mulia sebagai landasan utama. Santri harus memiliki etos kerja tinggi namun tetap rendah hati.
Keempat, Solidaritas dan Persatuan. Penting bagi santri untuk menjaga solidaritas internal guna kepentingan bersama. Kekuatan umat terletak pada kebersamaan dan saling mendukung.
Kelima, Melek Digital. Santri diharapkan menggunakan teknologi untuk menyebarkan kebaikan dan menjadi penggerak peradaban. Di era digital, santri tidak boleh tertinggal, justru harus menjadi pelopor konten-konten positif yang mencerahkan.
Pesan-pesan ini menegaskan bahwa santri merupakan tulang punggung masa depan bangsa yang harus cerdas, shalih, dan berwawasan luas.
Tiga Pilar Karakter Santri Global
Sementara itu, Prof Said Aqil Siroj dalam pemaparannya menjabarkan tiga pilar karakter utama yang wajib dimiliki santri dan mahasiswa untuk memenangkan persaingan global. Pertama, Kecerdasan Akal (Al-Quwwatun Natiqah): Memiliki nalar kritis, analitis, cerdas, dan berwawasan luas.
Kedua, Mental Pemenang (Himmah wa Azimah): Memiliki tekad baja dan kemauan keras untuk berprestasi, terinspirasi semangat pantang menyerah dari sejarah perjuangan Islam.
Ketiga, Kearifan Spiritual (An-Nafkhatur Rabbaniyah): Mengimbangi kecerdasan intelektual dengan kebersihan hati, ketangguhan menghadapi ujian, serta steril dari sifat sombong dan dengki.
“Ketiga pilar ini harus tumbuh simultan. Jangan sampai santri cerdas secara intelektual tetapi kering spiritualitas, atau sebaliknya hanya shalih secara ritual tetapi miskin wawasan,” pesan Prof Said.
Syair Abu Thayyib
Momen paling mengharukan terjadi ketika Prof Said membacakan sebuah bait syair klasik dari kitab Ta’lim al-Muta’allim karya Syekh al-Zarnuji, yang hingga kini menjadi rujukan utama pesantren Nusantara: “Ala qadri ahlil ‘azmi ta’til ‘azaim… Wa ta’zhumu fi ‘ainish shagiri shigharuha wa tashghuru fi ‘ainil ‘azhimi al-‘azha’im” (Menurut kadar ahli cita-cita, cita-citanya akan didapati… Hal yang kecil tampak besar di mata orang bercita-cita kecil, hal yang besar tampak kecil di mata orang bercita-cita besar.)
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Universitas Darunnajah yang juga hadir sebagai peserta, mengaku termotivasi dengan pesan-pesan tersebut. Dalam refleksinya, ia menuliskan bahwa bait tersebut mengajarkan tentang relasi antara kapasitas batin seseorang dengan cara ia memandang realitas.
“Orang dengan cita-cita kecil akan melihat gunung kecil sebagai penghalang besar. Sebaliknya, orang dengan cita-cita besar mampu melihat gunung besar sebagai anak tangga. Inilah kedalaman ajaran pesantren: mereka tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga membentuk cara pandang. Dan cara pandang inilah yang menentukan seberapa jauh seorang santri akan melangkah,” ujarnya.
Setelah pemaparan keilmuan dan sesi tanya jawab yang komprehensif, rangkaian acara Takjil Pesantren dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Suasana keakraban semakin terasa ketika forum berlanjut ke diskusi santai antara pimpinan perguruan tinggi dan para tokoh.
Pada momen istimewa tersebut, delegasi Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta menyerahkan cinderamata berupa buku berjudul “Manajemen Pondok Pesantren” kepada Prof Said Aqil Siroj. Penyerahan buku ini merupakan wujud apresiasi sekaligus simbol komitmen bersama dalam memajukan literasi dan tata kelola pendidikan Islam di Nusantara, khususnya pesantren. 
Kembali ke Fitrah
Dalam konteks bulan suci, pesan-pesan yang digaungkan dalam forum ngaji bareng santri ini selaras dengan semangat Ramadhan sebagai titik awal reformasi diri. Irfanudin menegaskan bahwa hakikat reformasi dalam Islam yaitu tobat (kembali kepada Allah), muhasabah (introspeksi), dan kembali ke fitrah (kesucian asal).
“Allah berfirman dalam QS Ar-Ra’d ayat 11: ‘InnallΔha lΔ yughayyiru mΔ biqaumin αΈ₯attΔ yughayyirΕ« mΔ bi’anfusihim‘ (Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri). Ramadhan merupakan madrasah perubahan. Jika kita ingin santri dan mahasiswa berubah, kita harus mulai dari visi dan cita-cita besar,” jelasnya.
Acara Takjil Pesantren, Talkshow dan Ngaji Bareng Santri ini, menurut Irfanudin, bukan sekadar ritual tahunan. Ia aktivasi jaringan. Ketika para tokoh duduk bersama para santri, asatidz, dan alumni, terjadi aliran energi dan gagasan. Cita-cita besar dipertemukan, direkatkan, lalu disebarkan kembali.
Seorang santri yang ditemui usai acara mengaku matanya berbinar. “Prof Said dan Prof Kamaruddin tadi menyampaikan pesan yang sangat menginspirasi. Saya jadi ingat cita-cita saya waktu pertama kali masuk pesantren dulu.”
Sebesar apa cita-cita kita? Apakah kita masih melihat tantangan kecil sebagai penghalang? Atau kita sudah bisa berkata bersama Abu Thayyib: hal yang besar tampak kecil di mata orang bercita-cita besar.”
Dengan semangat la’allakum tattaqΕ«n, Universitas Darunnajah berkomitmen menjadikan Ramadhan sebagai momentum kebangkitan spiritual dan penguatan jejaring. Kegiatan Takjil Pesantren, Talkshow dan Ngaji Bareng Santri akan terus menghadirkan dialog-dialog strategis antara perguruan tinggi dan pesantren, melahirkan generasi pemimpin masa depan yang kompeten, berintegritas, berwawasan kebangsaan, dan berjiwa besar. []





















