Abu Dhabi, Gontornews – Meski telah menarik sebagian pasukannya dari Yaman, Uni Emirat Arab (UEA) menegaskan untuk tetap bersama pasukan koalisi lainnya yang tersisa dan Pemerintah Yaman dalam mempertahankan negara itu dari kelompok Houthi.
Menteri Luar Negeri UEA, Anwar Gargash mengatakan, penarikan pasuka UEA dari Yaman merupakan langka dalam menciptakan kepercayaan demi menghadirkan momentum baru dan kedamaian di Yaman.
“Hanya untuk memperjelas, bahwa UEA dan sisa koalisi tidak meninggalkan Yaman,” katanya dalam sebuah opini yang dipublikasikan pada hari Senin (22/7) kemarin di The Washington Post.
Menurutnya, meskipun daerah operasi berbeda namun kehadiran militer UEA di Yaman akan tetap ada. Hal itu tetap sesuai dengan Hukum Internasional.
“Kami akan terus memberi saran dan membantu pasukan Yaman setempat,” tegasnya.
UAE merupakan mitra kunci di koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi dalam melakukan intervensi di Yaman pada tahun 2015 lalu. Selain itu juga untuk membantu memulihkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang diakui secara internasional dari pemberontak Houthi.
Awal bulan ini, UEA telah mengumumkan penarikan dan penempatan kembali pasukan di Yaman.
Para pejabat Emirat menekankan bahwa UEA tidak akan meninggalkan kekosongan di Yaman. Negara itu telah melatih sekitar 90.000 pejuang lokal dan tetap berkomitmen pada koalisi serta pemerintah Yaman yang digulingkan.
“Tidak ada kemenangan yang mudah dan tidak akan ada kedamaian yang mudah. ​​Tetapi sekaranglah saatnya untuk menggandakan proses politik.” katanya.
Sementara itu, pasca penarikan pasukan UEA, Arab Saudi lebih memilih pindah untuk mengamankan dua pelabuhan Laut Merah yang strategis dan Selat Bab al-Mandeb.
Beberapa kesepakatan damai termasuk yang disponsori oleh PBB, hingga pada pembicaraan teralhir di Swedia, Desember lalu tidak membuahkan hasil dan belum berhasil mengakhiri perang.
Lebih dari empat tahun pertempuran antara kelompok Houthi dengan pasukan Pemerintah dibantu koalisi Arab Saudi -UEA, sebagian besar negara, termasuk Ibukota, Sanaa masih dikuasai Houthi.
Tercatat, Sejak 2015 lalu, puluhan ribu orang yang kebanyakan warga sipil telah terbunuh dalam konflik.
Pertempuran itu telah memicu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan sebanyak 3,3 juta orang terlantar dan 24,1 juta orang, lebih dari dua pertiga populasi masih membutuhkan bantuan.[Devi Lusianawati]






















