Jakarta, Gontornews — Menanggapi Aksi Bela Islam 4 November 2016, Wakil Sekjen MUI KH Tengku Zulkarnain menegaskan, aksi tanggal 4 November merupakan gerakan dalam rangka menegakkan hukum di Indonesia. Menurutnya, MUI tidak melarang Aksi Bela Islam selama tidak anarkis.
“Saya agak kecewa dengan polisi yang menembak para pengunjuk rasa,” paparnya kepada Gontornews.com.
Ulama asal Sumatera ini kecewa dengan tindakan polisi yang sebelumnya mengancam menembak masa yang ikut berunjukrasa.
“Polisi harus sadar, dia digaji dari rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia ini 88 persen orang Islam, kok mengancam ulama dan umat Islam akan ditembak mati. Teroris saja tidak boleh ditembak mati,” paparnya.
Ia menegaskan, aksi 4 November hanya meminta supaya penista al-Qur’an dan ulama ini diproses secara hukum. Massa umat Islam yang datang pada aksi damai 4 November tersebut tidak akan takut dengan ancaman karena mereka orang yang siap mati demi membela agama dan penegakan hukum di Indonesia.
“Apa iya Habib Rizieq, Habib Ali, Aa Gym, Bahtiar Nasir, Arifin Ilham menyampaikan aspirasinya mau ditembak mati. Ini konyol. Bisa meletus resolusi jihad kedua dan tumpah ruah rakyat Indonesia,” paparnya.
Kiai Zulkarnain kembali menegaskan, peran umat Islam di sini membantu pemerintah supaya berhati-hati mencari jalan keluar dari masalah bangsa. Aksi bela Islam ini juga menjadi pelajaran bagi rakyat Indonesia supaya memilih pemimpin dan DPR/RPRD, orang-orang yang membela agama.
“Pembela mafia dan pembela bandit ini harus segera disingkirkan dari negeri ini kalau ingin Indonesia aman. Ini menjadi pelajaran bagi seluruh rakyat Indonesia,” paparnya. [Ahmad Muhajir/Rus]


















