Addis Ababa, Gontornews — Uni Eropa (European Union/EU), Rabu (25/11), menyoroti pertempuran antara militer Ethiopia dengan pasukan regional di Tigray. Bagi EU pertempuran di Tigray mengganggu stabilitas wilayah Afrika Timur seraya menghimbau semua pihak agar pertempuran dihentikan.
Sejak pertempuran pecah pada 4 November lalu, ratusan warga sipili dilaporkan tewas sementara lebih dari 41.000 pengungsi pergi ke Sudan untuk mencari keamanan. Kepala kebijakan Luar Negeri EU, Josep Borell, mengungkapkan keprihatinannya terhadap pertempuran di Tigray.
“Saya ingin mengungkapkan keprihatinan tentang meningkatknya angka kekerasan yang menargetkan kelompok etnis, jatuhnya korban jiwa serta pelanggaran hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional,” kata Borell kepada Reuters.
Namun, Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ali Ahmed, menegaskan bahwa pertempuran di Tigray merupakan urusan dalam negeri. PM Ahmed enggan melibatkan pihak luar negeri dalam konflik dalam negeri Ethiopia tersebut.
“Kami menolak segala bentuk campur tangan (asing) dalam urusan internal kami,” kata PM Ahmed dalam sebuah keterangan resmi, Rabu (25/11).
Sejauh ini, Ethiopia berhasil melucuti senjata ratusan etnis Tigray yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika. Sebuah sumber diplomatik dan keamanan yang dilansir Reuters melaporkan tiga etnis Tigray yang tergabung dengan pasukan perdamaian PBB di Sudan Selatan telah dipulangkan.
Juru bicara Perdana Menteri Ethiopia, Billene Seyoum, menjelaskan kebijakan di Sudan Selatan akan diberlakukan seperti halnya yang terjadi di Somalia. Artinya, penyelidikan tentara perdamaian PBB yang terkait dengan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), aken dipulangkan. [Mohamad Deny Irawan]




















