Jenewa, Gontornews — Badan Anak-anak PBB, UNICEF, Senin (03/04/2023), mengatakan ada lebih dari 500 anak tewas sejak Rusia meluncurkan agresinya di Ukraina. Direktur UNICEF, Catherine Russel, mengatakan bahwa angkanya bisa jauh lebih tinggi daripada angka yang berhasil diverifikasi oleh lembaganya.
“Tonggak tragis lainnya bagi anak-anak dan keluarga di Ukraina. Sejak eskalasi perang meningkat pada Februari 2022, setidaknya 501 anak telah terbunuh,” kata Russell sebagaimana dilansir Anadolu.
Tidak hanya itu, Russell juga mencatat hampir 1000 anak mengalami luka-luka, meninggalkan luka atau memiliki bekas luka permanen seumur hidup.
“Di balik setiap angka, ada keluarga yang tercabik-cabik dan ini sangat menyayat hati,” jelas Russell.
“Pada akhirnya, anak-anak dan keluarga membutuhkan perdamaian. Tetapi, itu tidak bisa terjadi dengan segera,” sambungnya.
Sebagai respons, sebagaimana dilansir UN News, UNICEF memberikan bantuan penting berupa perawatan dan dukungan psikososial. Analisis UNICEF menunjukkan presentasi anak yang hidup dalam kemiskinan di Ukraina meningkat hampir dua kali lipat dari 43 persen menjadi 82 persen. Situasi menjadi semakin akut bagi 5,9 juta orang yang saat ini mengungsi di Ukraina.
Sementara itu, akses pelayanan dasar untuk anak-anak dan keluarga sangat terbatas. UNICEF memperkirakan ada 1,5 juta anak yang berisiko mengalami depresi, kecemasan, gangguan stres pascatrauma dan masalah kesehatan mental lainnya dengan potensi efek dan efek jangka panjang.
Mereka juga melaporkan lebih dari 800 fasilitas kesehatan di Ukraina yang rusak dan hancur akibat pengeboman dan serangan udara Rusia. [Mohamad Deny Irawan]



















