Ponorogo, Gontornews — Tim Peneliti Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor mengembangkan aplikasi pembelajaran bahasa Arab berbasis kecerdasan buatan yang diberi nama Tahseen. Para peneliti berharap aplikasi ini dapat menjawab kebutuhan intelektual sekaligus pedagogik dalam pembelajaran bahasa Arab.
Penelitian yang dipimpin oleh Wakil Rektor 1 UNIDA Gontor Dr Abdul Hafiz Zaid tersebut dikembangkan dengan pendekatan Research and Development (R&D). Aplikasi Tahseen ini tersedia dalam perangkat mobile sebagai penunjang pembelajaran bahasa Arab yang singkat dan interaktif berdasar pada kemampuan pengguna.
Salah seorang tim pengembang Tahseen, Dr Mohammad Ismail, mengakui bahwa aplikasi Tahseen dikembangkan sebagai aplikasi self-adaptive learning, dengan sistem kecerdasan buatan menyusun jalur belajar (learning path) yang berbeda bagi setiap pengguna.
βSiswa tidak lagi dipaksa mengikuti satu pola belajar yang seragam, tetapi diarahkan sesuai kemampuan, gaya belajar dan progres masing-masing,β ungkapnya kepada gontornews.com.
Secara pedagogik, Tahseen mengintegrasikan empat kemampuan bahasa Arab sekaligus, yaitu: maharatul istimaβ (keterampilan mendengar), maharatul qiraβah (keterampilan membaca), maharatul kalam (keterampilan bicara) dan maharatul kitabah (keterampilan menulis). Adapun pembelajaran dirancang dengan basis mastery-based learning. Siswa hanya dapat melanjutkan pembelajaran saat mereka menguasai materi sebelumnya.
Meski demikian, penelitian yang mendapatkan dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi itu tetap menempatkan manusia, dalam hal ini guru, sebagai subjek utama pendidikan. Peneliti pun menyiapkan Tahseen sebagai pendamping belajar yang memberikan umpan balik (feedback), penguatan dan rekomendasi pembelajaran secara personal.
βPendekatan ini sejalan dengan filosofi pendidikan Gontor yang menempatkan manusia sebagai subjek utama pendidikan. Teknologi hanyalah alat (wasilah) dan bukan tujuan. Tahseen berupaya memadukan kecanggihan tekonologi modern dengan nilai-nilai empati, kemandirian dan tanggung jawab belajar,β sambung Doktor lulusan University of al-Qurβan Al Karim and Islamic Science Khartoum Sudan itu.
Tidak berhenti sampai di situ, Tahseen juga hadir dengan mengintegrasikan kosakata Al-Qurβan dan konteks keislaman dalam materi pembelajarannya. Tujuannya, agar pembelajaran bahasa Arab tidak lepas dari makna dan nilai spiritualnya.
βIntegrasi ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar UNIDA Gontor dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Teknologi dimanfaatkan untuk memperkuat dan bukan mengikis identitas pendidikan Islam,β tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]






















