Massachusetts, Gontornews — Perguruan tinggi terkemuka di dunia, Harvard University, Kamis (9/9/2021), memutuskan untuk menghentikan investasi pada bahan bakar fosil. Sebagai gantinya, Harvard menggunakan dana abadi pendidikan, yang mencapai 42 miliar dolar Amerika Serikat atau setara 596 trilipun rupiah, untuk mendukung ekonomi hijau.
Harvard Management Co, yang mengelola dana abadi, tidak lagi memiliki investasi di perusahaan pengeksplor atau pengembang bahan bakar fosil. Presiden Harvard Management Co, Larry Bacow, memastikan pihaknya tidak akan berinvestasi pada bidang tersebut di masa mendatang.
“Kami tidak berniat untuk melakukan investasi semacam itu di masa depan,” kata Bacow sebagaimana dilansir Bloomberg.
Kebijakan ini merupakan tidank lanjut dari upaya dan langkah bertahun-tahun yang dilakukan oleh para aktifis lingkungan. Mereka meminta Harvard untuk melakukan divestasi dari industri bahan bakar fosil.
Selain Harvard, University of California dan Cambridge University Inggris yang berkomitmen untuk melepas dana abadi mereka dari industri bahan bakar fosil.
Sejak tahun lalu, Harvard terus bekerja untuk mencapai target ‘Net Zero’ atau bebas emisi pada tahun 2050. Namun, langkah Harvard tidak cukup cepat ketimbang kelompok mahasiswa yang mengajukan gugatan kepada Kejaksaan Massachusetts. Sekumpulan mahasiswa Harvard meminta perguruan tingginya untuk menjual kepemilikan saham, senilai 838 Juta Dollar Amerika Serikat, perusahaan pengelola dan penghasil bahan bakar fosil.
“Mengingat kebutuhan untuk melakukan dekarbonisasi ekonomi dan tanggungjawab kami sebagai fidusia, kami membuat keputusan investasi jangka pandang yang mendukung misi pengajaran dan penelitian kami. Kami tidak percaya investasi (bahan bakar fosil) seperti itu bijaksana,” ucap Bacow.
Sebagai informasi, Harvard memiliki investasi warisan dalam dana ekuitas swasta yang berkaitan dengan bahan bakar fosil. Meski nilainya kurang dari 2 persen dari total dana abadi pendidikan yang mereka kelola. [Mohamad Deny Irawan]


















