Depok, Gontornews — Di tengah antusias yang besar dari ratusan peserta Islamic Mini Bootcamp Sabtu (18/12), Ustadz Weemar Aditya berkesempatan menjadi pembicara pertama dalam seminar bertema Good People Good Habit.
Acara yang diselenggarakan oleh tiga komunitas pengusung perubahan yakni komunitas Teras Muda, Mau Bener Bareng, dan Merancang Cita ini memang sangat dinanti kawula muda. Tercatat ada sekitar 1.400 peserta yang telah mendaftar untuk mengikuti serangkaian kegiatan seru di dalamnya.
Berbicara tentang kebiasaan, ternyata habit juga mempengaruhi ketakutan, perasaan, kecenderungan, dan spontanitas kita. “Di sinilah pentingnya kita mempelajari satu hal (fokus), daripada banyak hal tapi tidak menguasainya,” tegas tim trainer YukNgaji itu.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah SWT adalah yang dilakukan terus menerus.” (HR. Bukhari Muslim). Tantangan dalam membentuk kebiasaan baru jauh lebih muda ketimbang meninggalkan kebiasaan lama.
Menurut Ustadz Weemar, kebiasaan baru dapat terbentuk setelah dikerjakan empat puluh hari secara terus menerus. Namun, meninggalkan kebiasaan lama ternyata membutuhkan waktu sekitar satu tahun lamanya dengan konsisten tidak melakukannya.
Ia pun lantas membocorkan rumus habits yang cukup diandalkannya yakni practice (berlatih hingga bisa) dan repetisi (diulang hingga terbiasa). “Sedangkan hal yang paling susah adalah meninggalkan habits lama daripada membangun habits baru,” tekannya.
Orang zaman sekarang itu, menurutnya, jadi tidak berkembang karena banyak informasi penyebab ketakutan yang diterima. Ustadz Weemar lantas memutarkan sebuah video seorang lelaki yang terus giat berlatih untuk memaksimalkan kemampuannya dalam bersepeda.
“Untuk sesuatu yang cuma sekedar fun saja, orang ini latihannya mati-matian begitu, tapi untuk sesuatu yang kelak akan kita bawa ke surga, kita tidak mati-matian,” pungkasnya kepada Gontornews.com. Artinya, Ustadz Weemar Aditya dengan tulus mengajak kita semua, untuk bisa semaksimal mungkin memanfaatkan waktu dan tidak menyia-nyiakannya agar maksimal pula bekal kita di akhirat nanti. [Edithya Miranti]





















