Venezia, Gontornews — Sekitar 70 persen wilayah Venezia di Italia mengalami banjir akibat meningginya volume air laut, Jumat (15/11). Akibatnya, kota yang dikenal dengan kekayaan seni arsitektur kunonya tersebut terancam rusak karena air laut yang cenderung asin.
Walikota Venezia, Luigi Brugnaro, mengatakan bahwa fenomena ini merupakan fenomena terburuk yang pernah terjadi dalam 50 tahun terakhir. Padahal, banjir di Venezia baru terjadi hanya dalam 3 hari terakhir.
“Dengan air asin, semuanya menjadi lebih sulit bagi kami,” kata Brugnaro sebagaimana dilansir Reuters.
Lebih lanjut, Brugnaro mengungkapkan bahwa pascabanjir Venezia, sebagian besar sisa-sisa garam yang terbawa banjir berpotensi merusak, secara perlahan-lahan, bangunan bersejarah yang dibangun 15 abad silam.
Brugnaro memprediksi bahwa naiknya permukaan laut disebabkan oleh perubahan iklim serta penggalian kanal-kanal baru yang diperuntukkan bagi kapal tanker minyak untuk mencapai pabrik petrokimia Marghera, pelabuhan yang berjarak kurang dari 5 Kilometer dari pusat kota Venezia.
“Penggalian kanal, yang dibangun khusus bagi kapal tanker minyak, telah membuka jalan ke laut,” ungkap mantan Wali Kota Venezia, Gianfranco Bettin.
“Pemanasan global juga telah berkontribusi dalam meningkatkan permukaan laut. Kekuatan angin juga berperan dalam mendorong air menuju pusat kota,” tambah Bettin.
Sebagaimana diketahui, sejumlah bangunan bersejarah Basilika Byzantium terdapat di Gereja Saint Markus, Venezia. Di gereja tersebut, sejumlah bangunan kuno, mozaik kuno serta tiang-tiang marmer berdiri dan berpotensi rapuh karena usia.
Sejarah mencatat, gereja tersebut telah enam kali mengalami banjir dalam 1.200 tahun terakhir atau yang kedua hanya dalam rentang 13 bulan terakhir. Air laut hampir memenuhi ruang bawah tanah dan menutupi tiang-tiang marmer yang menopang gereja.
“Seharusnya air tidak membanjiri ruang bawah tanah setelah renovasi dilakukan pada tahun 1990-an. Tetapi, ombak sangat tinggi sehingga air mengalir masuk melalui jendela,” ungkap kurator gereja warisan dunia UNESCO, Pierpaolo Campostrini.
“Jika ruang bawah tanah menjadi kolam renang, kita akan menghadapi situasi yang sebelumnya tidak kita ketahui.”
“Garam bisa menyebabkan rusaknya lemari besi, risiko yang tidak ingin diambil oleh siapapun,” pungkas Campostrini yang juga merupakan akademisi Ca ‘Fooscari University, Venezia. [Mohamad Deny Irawan]




















