Jakarta –Gontornews—Kini ada dua ratus pesantren di Indonesia yang dikendalikan oleh Syi’ah namun ironisnya digerakkan oleh Aswaja di indonesia. “Ini harus menjadi perhatian kita.”Demikian kata Sekjen Forum Umat Islam (FUI) KH. Muhammad Al Khaththath dalam pengajian bulanan FPI di Markaz Syariah FPI Petamburan, Ahad 1/1/2017.
Al Khaththath mengatakan Aswaja sudah established, sudah eksis di Indonesia sejak lama. Sultan Agung yaitu Sultan Kerajaan Mataram yang pertama, dan juga Sultan-Sultan di Indonesia umumnya adalah Aswaja. Tapi kemudian kekuasaannya dipreteli oleh penjajah Belanda, sehingga identitas Aswaja semakin lama semakin hilang.
Kalau kita ke masjid-masjid, terutama masjid yang lama-lama selalu ada tulisan lafadz Allah SWT, Muhammad SAW, lalu keempat Sahabat Nabi yaitu Sayidina Abubakar, Umar, Usman dan Ali. “Tetapi kini tulisan-tulisan itu sudah banyak menghilang terutama di masjid-masjid baru, padahal lambang-lambang tulisan itu sangat penting, itu juga merupakan identitas Aswaja.”jelasnya.
Lanjut ia mengatakan eksistensi lambang tulisan Allah, Muhammad dan empat khalifah adalah sangat penting karena kini sudah mulai dihapuskan. Icon atau nama-nama itu harus dibuka dan ditampilkan kembali di masjid-masjid. “Umat Islam apabila melihat masjid tak ada tulisan nama-nama tersebut wajib untuk segera memasangnya kembali.”jelasnya.
Ustadz Khaththath juga menekankan pentingnya pengajaran kitab Al Ahkam Al Sulthoniyah di pesantren-pesantren supaya faham Aswaja tetap mayoritas di Indonesia. Ajarkan kitab Al Ahkam Al Sulthoniyah dipesantren-pesantren kita supaya tetap Aswaja. Insya Allah Aswaja akan menguasai negeri ini kembali.
“Aswaja harus tidak sekedar ilmiah tapi juga hamasa. Mari pelajari Al-Qur’an dan Sunnah, juga kitab Al Ahkam, dan menerapkannya”, demikian tutup ustadz Khaththath yang juga merupakan Sekretaris Gerakan Nasional Pengawal Fatwa – Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) ini. (Muh Khaerul Muttaqien)




















