Jenewa, Gontornews — Badan pangan dunia, World Food Programme (WFP), menyebut sekitar 2,5 juta warga yang tinggal di wilayah Sahel, Afrika Tengah, membutuhkan makanan dengan segera. Hal ini dilakukan menyusul terjadinya peningkatan kematian, hingga empat kali lipat, warga sipil dalam konflik di Burkina Faso sepanjang tahun 2019 ini.
“Dunia belum sepenuhnya memahami sejauh mana krisis kemanusiaan di wilayah Sahel yang mencakup Burkina Faso, Mali dan Niger, meningkat,” ungkap Juru bicara WFP, Herve Verhoosel, sebagaimana dilansir Anadolu.
Lebih lanjut, Verhoosel mengatakan krisis pangan di wilayah Sahel dipicu oleh bentrokan keras antara kelompok-kelompok bersenjata, perpindahan penduduk, kelaparan serta angka kemiskinan yang cenderung meningkat dan meluas.
“Jika kita tidak bertindak untuk mengatasi kelaparan di Sahel, seluruh masyarakat akan berisiko (krisis pangan),” tambah Verhoosel.
Verhoosel melansir ada sektiar 20 juta orang yang hidup di wilayah konflik atau wilayah sekitar yang terdampak konflik. Para warga harus rela menanggung beban krisis yang tengah berlangsung dengan keadaan lapar dan kurang gizi.
WFP, kata Verhoosel, mencatat bahwa konflik yang terjadi di wilayah Sahel telah menghancurkan sektor pertanian dan ekonomi pedesan. Tidak hanya itu, hampir satu dari tiga anak yang tidak bersekolah berasal dari daerah yang yang terkena dampak konflik.
Secara khusus, Verhoosel menyebut Burkina Faso sebagai negara dengan peningkatan tajam akibat konflik. Sepanjang paruh pertama 2019, insiden kekerasan di Burkina Faso meningkat tajam ketimbang yang terjadi dalam waktu serupa pada 2018. Jumlah kematian warga pun meningkat hingga empat kali lipat ketimbang periode serupa tahun 2018. [Mohamad Deny Irawan]
























