Jenewa, Gontornews — Badan kesehatan dunia, WHO, Selasa (29/11/2022), menjelaskan 12.000 orang meninggal dunia karena cedera dan kekerasan. Secara khusus, WHO meminta dunia memperhatikan kelompok masyarakat miskin yang rentang mengalami cedera atau pun kekerasan.
Dalam laporannya, WHO menjelaskan 3 dari 5 penyebab kematian teratas di antara orang yang berusia 5-29 tahun meninggal dunia adalah cedera lalu lintas, pembunuhan dan bunuh diri. Setelahnya ada meninggal karena tenggelam, jatuh, luka bakar hingga keracunan.
Dari total 4,4 juta kematian terkait cedera tahunan, kira-kira 1 dari 3 kematian ini diakibatkan karena kecelakaan lalu lintas, 1 dari 6 kematian akibat bunuh diri, 1 dari 9 akibat pembunuhan dan 1 dari 61 akibat perang dan konflik.
“Orang yang hidup dalam kemiskinan secara signifikan lebih mungkin menderita cedera dari pada orang kaya,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
“Sektor kesehatan memiliki peran utama dalam mengatasi ketimpangan kesehatan ini,” sambungnya sebagaimana dilansir laman resmi WHO.
“Dalam mencegah cedera dan kekerasan, melalui pengumpulan data, pengembangan kebijakan, penyediaan layanan dan program untuk pencegahan dan perawatan, membangun kapasitas dan mengadvokasi perhatian yang lebih besar kepada komunitas yang kurang terlayani,” sambung Tedros.
WHO menjelaskan ada beberapa intervensi pemerintah yang efektif dan berbiaya murah yang tersedia. Misalnya penetapan batas kecepatan di jalan raya sebesar 30 km per jam untuk kendaraan di Spanyol. Ada pula Vietnam yang memberlakukan pelatihan berenang untuk mencegah kasus tenggelam. Ada pula di Filipina yang menaikkan usia pernikahan dari 12 tahun menjadi 16 tahun guna mencegah kekerasan seksual di bawah umur.
“Percepatan tindakan diperlukan untuk menghindari penderitaan jutaan keluarga yang tidak perlu ini setiap tahunnya,” ungkap Direktur Departemen Penentu Sosial Kesehatan WHO, Dr Etienne Krug.
“Kami tahu apa yang perlu dilakukan dan langkah-langkah efektif ini harus dibawa ke berbagai negara dan komunitas yang menyelamatkan nyawa,” tambah Krug.
Melalui laporan ini, WHO juga menyoroti langkah-langkah pencegahan dan panduan teknis WHO yang tersedia guna mendukung peningkatan upaya pencegahan. [Mohamad Deny Irawan]






















