Jenewa, Gontornews — Badan kesehatan dunia, WHO, Selasa (24/5/2022), melaporkan 131 kasus cacar monyet (monkeypox) di luar negara tempat lokasi virus ini biasa menyebar. Namun, WHO menegaskan bahwa fenomena ini tidak biasa dan tetap bisa terkendali.
WHO sendiri terus menyelenggarakan pertemuan lebih lanjut untuk mendukung negara-negara anggota untuk mendapatkan saran tentang cara mengatasi situasi tersebut.
Virus cacar monyet (monkeypox) merupakan infeksi ringan yang biasa dijumpai di Afrika Barat dan Tengah. Virus ini menyebar melalui kontak dekat sehingga virus ini jarang terlihat di bagian dunia lain sebelum akhirnya merebak di Eropa beberapa waktu terakhir.
βKami mendorong Anda semua untuk meningkatkan pengawasan terhadap virus cacar monyet untuk melihat sampai mana tingkat penularan dan memahami ke mana arah (penyebarannya),β kata Direktur WHO untuk Kesiapsiagaan Bahaya Penyakit Menular Global, Sylvie Briand, kepada Reuters.
Briand juga belum dapat menjelaskan apakah kasus-kasus yang muncul tersebut merupakan puncak dari gunung es atau puncak penularan telah berlalu.
Berbicara di hadapan Majelis Kesehatan Dunia, Briand juga mengatakan bahwa WHO telah menegaskan bahwa virus cacar monyet tidak mungkin bermutasi. Sebaliknya, WHO menduga penularan virus terjadi karena perubahan perilaku manusia pasca pencabutan pembatasan Covid-19 di banyak negara.
Meski bukan mayoritas, WHO menemukan bahwa penyebab penularan virus adalah hubungan seks pria dan pria. Briand pun mengatakan sangat penting untuk mencegah penularan virus secara seksual.
Virus cara monyet memiliki sejumlah gejala yaitu demam dan ruam bergelombang yang khas. Jenis cacar ini biasa ditemukan di Afrika Barat dengan tingkat kematian sekitar 1 persen dari jumlah kasus. [Mohamad Deny Irawan]





















