Palembang, Gontornews — Palembang yang dikenal dengan julukan Kota Pempek memiliki beberapa ikon kota yang menjadi ciri khas kota ini. Ada Sungai Musi, Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, Masjid Agung Palembang dan lain sebagainya.
Sungai Musi, sungai terpanjang di Pulau Sumatera ini selain menjadi urat nadi perekonomian masyarakat Sumatera Selatan, khususnya Palembang, juga memiliki berbagai destinasi wisata sejarah yang sarat makna. Sayang dilewatkan jika Anda berkunjung ke kota ini.
- Pasar Baba Boentjit di Pinggir Musi
Pasar Baba Boentjit merupakan destinasi baru yang ada di tepian Sungai Musi. Pasar ini dikenalkan langsung oleh Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Sumatera Selatan. Lokasinya berada di Rumah Oeng Boen Tjit, Lorong Saudagar Yucing, Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang.
Rumah ini diketahui sudah berusia 300 tahun dan masih berdiri kokoh di tepian Sungai Musi dengan ukiran khas Kota Palembang dengan nilai sejarah tersendiri dan khas Tiongkok.
Dalam perjalanan menuju lokasi, pengunjung akan disuguhkan pemandangan indah, baik Jembatan Ampera, Kampung Warna Musi Bercorak dan Jembatan Musi VI yang berdiri megah. Hanya butuh waktu sekitar 3-5 menit untuk bisa menyeberang ke lokasi.
Pasar ini juga menyajikan banyak kuliner yang menjadi khas Palembang, seperti Pempek, Pindang Daging dan Es Kacang Merah yang dijual masyarakat sekitar.
Untuk mencapai lokasi ini, pengunjung dapat menyeberang dari dermaga Benteng Kuto Besak (BKB), menggunakan speedboat atau perahu kecil yang bisa disebut masyarakat sekitar sebagai ketek. Untuk sekali menyeberang, pengunjung akan dikenakan tarif Rp 5.000-10.000, tergantung jumlah pengunjung yang akan menyeberang.
- Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya
Masih di tepian Sungai Musi, ada juga Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya atau sebelumnya dikenal dengan nama Situs Karanganyar. Situs taman purbakala ini bekas kawasan permukiman dan taman yang dikaitkan dengan kerajaan Sriwijaya yang terletak tepi utara Sungai Musi di kota Palembang, Sumatera Selatan.
Di kawasan ini ditemukan jaringan kanal, parit dan kolam yang disusun rapi dan teratur yang memastikan bahwa kawasan ini adalah buatan manusia, sehingga dipercaya bahwa pusat kerajaan Sriwijaya di Palembang terletak di situs ini.
Di kawasan ini juga ditemukan banyak peninggalan purbakala yang menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat permukiman dan pusat aktivitas manusia. Namun kini ada yang baru, wisatawan juga dapat melihat dan merasakan suasana di dalam replika kapal Laksamana Cheng Ho.
Namun objek wisata di taman ini tidak hanya itu saja. Ada sebuah taman yang baru dibangun di dalam kawasan TPKS, yakni Taman Pulau Cempaka. Taman ini diresmikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumsel, pada 15 Desember 2017 lalu.
- Plaza Benteng Kuto Besak (BKB)
Benteng Kuto Besak saat ini ditempati oleh Komando Daerah Militer (Kodam) Sriwijaya. Pembangunan dan penataan kawasan di sekitar Plaza Benteng Kuto Besak diproyeksikan akan menjadi tempat hiburan terbuka yang menjual pesona Musi dan bangunan-bangunan bersejarah.
Pesona wisata Jika dilihat dari daerah Seberang Ulu atau Jembatan Ampera, pemandangan yang tampak adalah pelataran luas dengan latar belakang deretan pohon palem di halaman Benteng Kuto Besak, dan menara air di kantor Wali Kota Palembang.
Pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang populer di Kota Palembang.Β Tempat ini sudah ditata sedemikian rupa oleh pemerintah setempat sehingga pelataran Benteng Kuto Besak digunakan sebagai plaza atau alun-alun kota.
Saat ini, masyarakat Kota Palembang memang benar-benar menjadikan area sekitar Benteng Kuto Besak sebagai lokasi berkumpul yang nyaman. Bahkan setiap sore dan malam hari, tempat ini akan ramai dikunjungi oleh masyarakat Kota Palembang.
- Kampung Arab Al-Munawar
Salah satu wisata yang mulai ramai menarik peminat yakni Wisata Al-Munawar atau yang biasa disebut Kampung Arab oleh warga Palembang. Kampung ini terletak di wilayah 13 Ulu, Palembang.
Asal usul Kampung Arab Al-Munawar tak terlepas dari peran Pemerintah Belanda yang pada ratusan tahun silam, sekitar 1825, melakukan pendekatan terhadap Etnis Arab, dengan menunjuk seorang pemimpin yang diberi pangkat Kapten. Kapten Arab terakhir di sini bernama Ahmad Al-Munawar yang wafat pada tahun 1970.
Di Kampung Al Munawar terdapat deretan rumah-rumah tua yang berusia mencapai hingga 250 tahun yang masih kokoh berdiri lantaran terbuat dari kayu-kayu ulin dan batu marmer yang didatangkan langsung dari Eropa.
Ada aturan tidak tertulis di Kampung Al-Munawar, yakni tidak boleh mengenakan celana pendek atau pakaian terbuka. Warga, terutama wisatawan sebaiknya menggunakan pakaian sopan dan tertutup.
Ada sekitar 30 kepala keluarga, kira-kira 300 penduduk yang mendiami Kampung Al Munawar. Sekolah di sini pada hari Jumat diliburkan, sedangkan hari Ahad pelajar bersekolah seperti biasa. Hal ini berkiblat pada kalender Islam karena hari Jumat merupakan hari yang istimewa.
- Kerlap-Kerlip Ampera di Malam Hari
Lain dulu lain sekarang, semenjak dicanangkannya program Visit Musi 2008 lalu maka semenjak itulah semua asset wisata yang ada di Sumsel pada umumnya dan di Palembang pada khususnya digarap dan direnovasi kembali.
Tidak terkecuali Jembatan Ampera, kalau dulu jembatan kebanggaan Wong Palembang cuma sekedar menjadi alat penghubung dari Palembang hulu dan Palembang hilir sekarang semuanya berubah, Jembatan Ampera kini menjadi objek wisata murah meriah dan wajib dikunjungi terutama bagi wisatawan luar kota. Bahkan untuk warga lokal pun Jembatan Ampera tidak bosan-bosannya untuk dikunjungi dan sekedar menikmati suasana pinggiran Sungai Musi dengan background Jembatan Ampera.
Lampu-lampu yang menghiasi Jembatan Ampera merupakan salah satu daya tarik sendiri bagi para wisatawan yang berkunjungun ke Plaza Benteng Kuto Besak dimana tempat ini merupakan spot terbaik bagi wisatawan untuk menikmati keindahan Jembatan Ampera terutama di malam hari.
Ditunjang dengan sarana yang memadai yaitu terdapatnya taman yang menghiasi keempat sudut Jembatan Ampera yaitu 2 sudut Taman di Hilir dan 2 sudut Taman yang kelak ada di Hulu menjadikan jembatan ini semakin menarik untuk dikunjungi.
- Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin
Masjid yang lebih dikenal sebagai Masjid Agung Palembang ini memiliki nilai historis yang tinggi. Mengutip Sistem Informasi Masjid Kementerian Agama, masjid ini menempati kompleks seluas 15.400 meter persegi di di kawasan 19 Ilir, dekat perkampungan penduduk asli Palembang dan keturunan Arab.
Masjid Agung Palembang merupakan warisan Kesultanan Palembang Darussalam. Bangunan ini pertama kali didirikan pada periode 1738-1748 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I. Saat pertama kali dibangun, luas masjid tersebut mencakup 1.080 meter persegi. Daya tampungnya mencapai 1.200 orang jamaah.
Masjid ini menjadi saksi perjuangan rakyat Palembang pada pertempuran lima hari melawan Belanda di pusat kota. Peristiwa tersebut kemudian di abadikan dalam perangko Republik Indonesia tahun 1975. Sedangkan lokasi pertempuran tersebut kini dibangun Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Sumatera Selatan.
Masjid yang letaknya tak jauh dari Jembatan Ampera ini mudah dijangkau, dan bisa menjadi wisata reliji ketika berkunjung ke Palembang. Taman yang indah menjadi pemandangan yang menarik untuk bisa beribadah dan istirahat di masjid ini. [Fathurroji]





















