Harare, Gontornews — Krisis kolera di Zimbabwe terus memakan korban. Dalam tiga minggu terakhir saja, korban meninggal dunia mencapai hungga 45 orang.
Krisis korela telah memberikan sinyal masalah yang lebih tinggi bagi Negara Zimbabwe. Sanitasi dan infrastruktur air yang buruk khususnya di Kota Harare telah menyebabkan puluhan orang meninggal dunia dan ribuan lainnya telah terinfeksi penyakit menular tersebut.
Untuk menghindari penularan yang lebih luas, pemerintah setempat telah melakukan beberapa kebijakan seperti kewajiban mencuci tangan sampai peringatan tentang gejala yang disampaikan melalui radio setempat.
Selain itu, polisi juga terus berusaha membersihkan jalan-jalan di Harare dari para penjual buah dan sayuran segar. Namun tidak sedikit warga di sekitar lokasi yang melanggar dengan tetap berjualan di jalan-jalan.
Sekai Tawenga (43) salah seorang pedagang yang menjual kubis, kentang dan pisang tengah duduk tepat di seberang gerbang Glenview Poly Clinic Klinik yang merupakan situs perawatan kolera yang dibentuk oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan otoritas lokal.
Tawenga adalah salah satu dari beberapa vendor yang tetap tinggal dan terus menjual produk, meskipun ada pembatasan kesehatan masyarakat terhadap penjual makanan segar.
Dikutip laman Aljazeera, ia mengatakan bahwa kebutuhan untuk memberi makan keluarganya membuatnya enggan untuk memindahkan kiosnya. Risiko kelaparan, lebih besar daripada menghadapi kemarahan polisi.
“Saya tidak akan ke mana-mana. Masalah kami lebih besar daripada penyakit ini dan bahkan jika polisi datang untuk menyingkirkan saya, saya akan tetap kembali karena kami harus bertahan hidup,” kata Tawenga.
Salah satu alasan masih banyaknya warga yang berdagang adalah perekonomian yang sulit, dengan kurangnya bahan bakar, uang hingga kenaikan harga bahan pokok.






















