Oleh KH Hasan Abdullah Sahal, Pemimpin Pondok Modern Gontor
Kita semua manusia. Kita kembalikan diri kita sebagai manusia. Manusia yang sempurna. Manusia yang sempurna mengaktifkan segala potensi kemanusiaannya. Ya perasaan, ya pikiran, ya fisik, ya kebutuhan biologisnya dan sebagainya, serta kebutuhan untuk menjalankan ide, cita-cita, perasaan, dan potensinya.
Pondok kita ini, mengerahkan segala potensi yang kita miliki secara utuh dan adil. Sebab, biasanya kalau kita sudah mempunyai pakaian, pakaian itu berupa data dan fakta, bisa cita-cita, macam-macam, terkadang kita lupa. Ada beberapa potensi yang tidak kita pakai, sehingga kita lupa Allah, lupa ajaran Allah. ”Wa fii anfusikum afala tubsirun“.
Bahwasanya di dalam diri kamu itu ada banyak potensi yang bisa digali. Menunjukkan Allah itu Mahakuasa. Mutlak Allah kaya, besar, tinggi. Tidak ada yang lebih kaya, besar dan tinggi daripada Allah. Dan barangsiapa yang menyalahkan ini, ia membuka “bab syirik” (pintu syirik), membikin manusia tidak ada rasa takut kepada Allah.
Ia mengorupsi hak Allah untuk dipertuhankan. Orang yang memuji manusia membuka bab syirik. Karena yang memiliki pujian hanya Allah saja. Jadi kalau kita dipuji, wah ganteng sekali, gagah sekali, ini bahaya, karena menuju kepada syirik. Harusnya ia mengatakan, “Kamu ganteng karena karunia Allah.”
Oleh karenanya dalam hadis dikatakan, orang yang melakukan kegiatan jual beli tiap harinya, tidaklah lebih baik dari orang yang melakukan shalat, karena shalat itu meninggikan Allah. Memuji-muji Allah. Memberikan hak Allah sebagai yang disembah.
Nah, penyakit yang ada pada zaman ini adalah orang-orang yang ingin dibesarkan, dimuliakan, ditinggikan, dihormati, dipuji melebihi Allah. Minta ditaati, diagung-agungkan melebihi Allah.
Padahal orang musyrik di dalam Al-Qur’an adalah najis. Dan jangan sampai kita membuka pintu najis itu. Di bawah kita hanya tanah, di atas kita hanyalah Allah. Inilah yang perlu kita bina di dalam diri kita sendiri. Sehingga kita tidak merasa takut, sedih, kecewa, bangga kalau dipuji dan tidak merasa kecewa kalau diejek atau dihina.
Ini pelajaran paling penting. Karena manusia dengan harga dirinya, dengan jatidirinya, kadang-kadang mereka lupa. Hanya karena harga diri, jatidiri seakan-akan dia itu Tuhan. Penyakit ini adanya di syaithan, dibisikkan kepada manusia. Semua manusia itu baik, tapi syaithan itu yang tidak mau pensiun. Maka kita harus selalu bina hati ini sebagai hamba Allah.
Kita diminta untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi apa-apa yang dilarang oleh-Nya. Allah menyuruh itu sampai mati. Begitupun juga syaithan, merayu manusia sampai mati pula. Syaithan maunya sebaliknya. Tidak rela manusia melakukan itu. Kita harus pintar-pintar jaga diri, tahan diri. Jangan sampai kita didorong olehsyaithan. “Ya bani aadam la ta’buduu syaitaana innahu lakum aduwwun mubin.”
Syaithan selalu membisiki untuk meninggalkan shalat. Wah sudah jam sekian, sudah tidak usah shalat, kalau perlu shalatnya ditumpuk saja nanti malam. Jadi satu. Memangnya malaikat bisa diajak kerjasama. Menjama’ shalat Dhuhur dan Ashar ya tidak apa-apa, seperti saya yang musafir. Tapi kalau dia menggabungkan Ashar dan Maghrib, ya tidak bisa.
Ya inilah, kita harus selalu tahan diri. Terkadang orang benar dijelek-jelekkan, disalahkan. Yang salah malah dibiarkan. Ya itulah dunia.
Sekali lagi tahan diri terhadap bujuk rayu syaithan. Yang mutlak itu hanya milik Allah. Agama Allah itu mutlak. Tapi memperjuangkannya tidak mutlak-mutlakan. Sabar itu bukan di atas mimbar, di depan papan tulis, di bangku sekolah. Tetapi di dalam kehidupan ini. Jadi Allah akan menguji kita ini, lulus atau tidak. Dan ujiannya itu sampai mati. Kita harus yakin bahwa Allah itu benar, agama Allah benar. Jadi semua itu bukan milik manusia, tetapi milik Allah. Pendidikan Allah itu seumur hidup. Mawas diri adalah pekerjaan kita semua. Tidak perlu sibuk-sibuk menyuruh orang untuk mawas diri, tetapi lupa akan diri sendiri. []
Polres Poso, Rabu 11 Juli 2007





















