Gibraltar menjadi saksi kebesaran Islam di Spanyol pada era Thariq bin Ziyad. Dia merupakan salah satu jenderal tangguh dalam sejarah Islam yang masih dikenang hingga sekarang.
Gibralter memiliki luas 6,8 kilometer persegi yang terletak di selatan Semenanjung Iberia, Eropa Barat. Daerah tersebut berbatasan dengan Laut Mediterania di sebelah Timur, Selat Gibraltar di sebelah Selatan, Teluk Gibraltar di sebelah Barat, dan negara Spanyol di sebelah Utara.
Meski kondisi Gibraltar kecil dan miskin Sumber Daya Alam (SDA), tetapi tidak lantas membuat Gibraltar menjadi daerah yang tidak diminati sama sekali. Faktanya, Gibraltar merupakan tanah sengketa internasional antara Spanyol dan Inggris hingga sekarang. Bahkan jauh sebelum itu, Gilbraltar menjadi ajang perang suci antara Muslim dan Kristen.
Gibraltar pernah dikuasai oleh orang-orang Islam. Thariq bin Ziyad pernah menaklukkan daerah cikal bakal Gibraltar pada tahun 711 M. Nama Thariq lalu diabadikan untuk menyebut gunung kecil yang terdapat di kawasan semenanjung tersebut dengan nama “Gibraltar” merupakan nama versi Spanyol dari Gunung Tariq (Jabal Tariq).
Thariq bin Ziyad adalah seorang jenderal perang kaum muslimin yang bertugas pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah. Dia adalah pahlawan Islam yang ikut terlibat dalam pembebasan wilayah Andalusia pada tahun 711 M. Thariq memiliki jasa besar dalam penyebaran agama Islam, terutama di Andalusia.
Menurut catatan sejarah, kemenangan pasukan muslim dalam penaklukan Andalusia banyak dipengaruhi semangat juang yang dikobarkan oleh Thariq. Dia memerintahkan untuk membakar semua kapal sehingga tidak ada jalan melarikan diri selain bertempur habis-habisan untuk meraih kemenangan atau mati syahid.
Setelah berhasil memenangkan perang, Thariq bin Ziyad kemudian mengirimkan surat kepada Musa bin Nusayr. Kemudian Musa bin Nusayr menerima kabar kemenangan Thariq bin Ziyad, dan berangkat ke Andalusia untuk membantu Thariq dalam membebaskan wilayah-wilayah lain di Andalusia.
Hingga akhirnya pasukan muslimin berhasil menguasai Barcelona, Arbunah (Narbonne), dan Cadiz. Setelah berhasil menguasai Andalusia, Thariq bin Ziyab dan Musa bin Nusayr pun memimpin Andalusia dengan nilai-nilai Islam. Andalusia pun menjadi tenteram dan damai. Toleransi beragama dijunjung tinggi antara umat Islam, Katolik, Kristen dan Yahudi.
Kini, masa kejayaan Islam di Gibraltar pudar hanya meninggalkan sisa-sisa bangunan. Semua bangunan yang berkaitan dengan kejayaan Islam hancur nyaris tak berbekas. Salah satu bangunan yang masih ada adalah sisa-sisa benteng Moor. Tampak sisa bangunan menara yang menjulang berikut gerbang dan dinding benteng yang kokoh.
Menurut catatan sejarah, benteng ini dibangun oleh penakluk Gibraltar Thariq bin Ziyad pada abad ke-8. Istana tempat penguasa Muslim menetap kini digantikan Masjid Ibrahim Al-Ibrahim. Shrine of Our Lady of Europe yang terletak tak jauh dari Masjid Ibrahim Al-Ibrahim dulu merupakan masjid kecil kaum Moors pada abad ke-15.
Tak jauh dari keduanya terdapat Mercusuar Eropa Point yang tampak megah dan indah. Kejayaan Islam di masa lalu memang memudar. Yang tersisa adalah sejumlah bangunan yang hancur selama peperangan. Kini, bangunan itu banyak dikunjungi para wisatawan, baik yang berasal dari dunia Islam maupun Eropa.





















