وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (QS. Adz-Dzāriyāt: 49)
Interpretasi para mufasir
Dalam Tafsir Al-Baghawi dikatakan bahwa Allah menyebutkan nikmat-nikmat-Nya yang lain bahwa semua makhluk yang berada di bumi diciptakan berpasang-pasangan. Ada langit dan bumi, timur dan barat, hitam dan putih, laki-laki dan perempuan, jantan dan betina, positif dan negatif, api dan air, semuanya berpasang-pasangan. Tujuannya agar manusia mengetahui bahwa yang tidak berpasang-pasangan hanyalah Allah. Allah SWT berfirman:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa’.” (QS. Al-Ikhlas: 1)
Kemudian dalam Tafsir Al-Qurthubi dikatakan bahwa yang namanya berpasang-pasangan memiliki arti saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lain. Seorang lelaki tidak akan sempurna kecuali dengan pasangannya yaitu seorang perempuan. Adapun Allah tidak butuh kepada pasangan. Dia sudah Mahasempurna tanpa pasangan. Maka dari itu, Allah SWT berfirman:
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (QS. Adz-Dzāriyāt: 49)
Artinya agar manusia mengingat kebesaran Allah bahwasanya Allah tidak sama dengan ciptaan-Nya yang berpasang-pasangan.
Pada ayat di atas, kata “zawj” memiliki makna pasangan ketika disandingkan dengan kata “khalaqnā” yang berada sebelumnya.
Maksud makna pasangan ialah segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan bukan hanya makhluk biologis seperti manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan mempunyai pasangan, laki-laki dan perempuan, jantan dan betina, tetapi juga makhluk-makhluk lain seperti makhluk kosmologis.
Alquran juga sering kali menyebutkan fenomena kosmologis seperti halnya langit dan bumi, siang dan malam, musim dingin dan musim panas, dunia dan akhirat.
Allah SWT berfirman:
سُبْحٰنَ الَّذِيْ خَلَقَ الْاَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَ
“Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yasin: 36)
Nilai-nilai pendidikan
Adz-Dzāriyāt: 49 di atas mengandung nilai-nilai pendidikan bagi manusia. Di antaranya, pertama, mendidik kita agar senantiasa bersyukur atas karunia Allah. Kedua, mendidik kita agar senantiasa menjaga keharmonisan dalam keluarga dan masyarakat sekitar sebagai makhluk ciptaan-Nya yang saling membutuhkan. Ketiga, mendidik kita untuk selalu mentafakuri segala kebesaran Allah agar bertambah keimanan dan ketakwaan. Keempat, mendidik kita agar memiliki akhlak mulia dan rasa kasih sayang kepada sesama makhluk-Nya.
Makna keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil dari sebuah bangsa. Kebahagiaan sebuah keluarga merupakan miniatur dari kebahagiaan masyarakat dan bangsa. Ungkapan ini mengilustrasikan kepada kita bahwa negara yang thayyibah akan terwujud apabila masyarakat sudah marhamah. Masyarakat marhamah akan terbentuk apabila keluarga sudah sakinah, dan keluarga yang sakinah akan tercipta bila dihiasi dengan akidah, mawaddah war-raḥmah.
Dengan profil seorang ayah yang bijaksana dan berwibawa, dengan figur seorang ibu yang penyayang, penyantun dan mau membesarkan anak-anaknya. Inilah yang dimaksud dengan keluarga sebagai sekolah pertama dan utama bagi anak-anak.
Konsep rumah tangga harmonis dalam Islam dikenal dengan keluarga istilah sakinah, mawaddah waraḥmah. Konsep sakinah (ketenangan) dapat dilihat tuntunannya melalui firman-Nya:
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ۗ
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)
Terkait makna mawaddah waraḥmah yang berkenaan dengan rasa kasih sayang kepada keluarga dan pasangan, dapat ditemukan dalam firman-Nya:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat tersebut menginformasikan kepada kita bahwa di antara tanda-tanda kebesaran Allah ialah Dia telah menciptakan manusia secara berpasang-pasangan dengan tujuan agar membentuk kehidupan keluarga yang sakinah, sedangkan modal dasar yang disediakan untuk menggapai tujuan tersebut ialah mawaddah war-raḥmah.
Lalu apakah mawaddah waraḥmah itu? Ibnu Abbas dalam Tanwirul Miqbas fi Tafsir Ibnu Abbas menjelaskan, mawaddah adalah kecintaan seseorang terhadap pasangannya secara fisik atau jasmaniyah, sedangkan rahmah yaitu rasa kasih sayang seseorang terhadap pasangannya secara psikologis dengan tanpa melihat fisik pasangannya itu sedikit pun. Dua modal inilah yang mampu menciptakan kekuatan lahir batin pasangan suami istri untuk mendayung bahtera rumah tangga supaya hidup tenang, saling peduli, saling mencintai dan saling menyayangi.
Makna sakinah mawaddah dan rahmah
Sakinah berasal dari bahasa Arab yang artinya ketenangan, ketenteraman, aman atau damai. Sedangkan mawaddah berasal pula dari bahasa Arab yang artinya perasaan kasih sayang, cinta yang membara, dan menggebu.
Kata rahmah juga berasal dari bahasa Arab yang artinya ampunan, rahmat, rezeki, dan karunia. Rahmah terbesar tentu berasal dari Allah yang diberikan pada keluarga yang terjaga rasa cinta, kasih sayang, dan kepercayaan melalui adanya saling membutuhkan, saling menutupi kekurangan, saling memahami, dan memberikan pengertian.
Sedangkan makna kata kawaddah menurut Imam Al-Asfahani adalah cinta (mawaddah) sekaligus keinginan untuk memiliki (tamanni kaunihi), ingin selalu bersama, dan kasih sayang.
Dalam Alquran, Allah SWT menggambarkan relasi suami dan istri dengan firman-Nya:
هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ
“Mereka pakaian bagimu, dan kamu pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Allah SWT juga berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Imam Ali Ash-Shabuni dalam Shafwa at-Tafasir menjelaskan ayat tersebut, “Jagalah dirimu, dan peliharalah istri-istri dan anak-anakmu dari siksaan neraka yang panas dan pedih, dengan cara memerintahkan mereka meninggalkan maksiat, mengerjakan ketaatan, serta mendidik dan mengajari mereka.”
Dengan demikian, ayat tersebut merupakan landasan teologis dan metodis bagi orangtua dalam menjaga anak-anaknya sebagai amanah Allah. Yaitu, orangtua selain berkewajiban memenuhi kebutuhan materi kepada anak, berkewajiban pula memenuhi kebutuhan imateri berupa pendidikan dan bimbingan. Kenapa demikian? Sebab materi tidak menjamin anak hidup bahagia bila tanpa kasih sayang sang orangtua, materi tidak menjamin anak sukses di masa depan bila tanpa pedidikan dan bimbingan.
Model keteladanan Rasulullah SAW
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Karena itulah Rasulullah SAW berpesan kepada setiap istri bahwa rumah tangga akan berbahagia, jika istri taat pada suami. Karena istri seperti inilah yang akan menyenangkan hati suami. Rasulullah SAW bersabda:
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
“Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapakah wanita yang paling baik?’ Jawab beliau, ‘Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci’.” (HR. An-Nasai, No. 3231)
Sedangkan kepada setiap suami, Rasulullah SAW berpesan melalui sabdanya:
أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ أَوِ اكْتَسَبْتَ وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ
“Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian atau engkau usahakan, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasihat) selain di rumah.” (HR. Abu Daud, No. 2142)
Berikut cara membangun rumah tangga yang harmonis untuk menciptakan sakinah, mawaddah warahmah: Pertama, jadikan pasangan sebagai sahabat untuk menjalani kehidupan dengan turut mengedepankan kesetaraan. Allah SWT berfirman:
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ اِلَيْهَاۚ
“Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan dari padanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. (QS. Al-’Araf: 189)
Kedua, saling mendukung untuk bersemangat dalam beribadah kepada Allah. Allah SWT berfirman:
وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) bagi orang yang bertakwa.” (QS. Taha: 132)
Ketiga, bertakwa kepada Allah dan menjaga hubungan kekeluargaan. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
”Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. (QS. An-Nisa’: 1)
Keempat, mendidik keluarga agar rajin bersyukur. Allah SWT berfirman:
وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّجَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْ بَنِيْنَ وَحَفَدَةً وَّرَزَقَكُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِۗ اَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُوْنَ وَبِنِعْمَتِ اللّٰهِ هُمْ يَكْفُرُوْنَۙ
“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?” (QS. An-Nahl: 72)
Kelima, saling mendoakan pasangan dan keluarga. Allah SWT berfirman:
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al-Furqan: 74)
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74) []





















