Kairo, Gontornews – Ikhwanul Muslimin, dalam sebuah pernyataan di situs webnya, menolak rencana AS yang akan menetapkan kelompok itu sebagai organisasi teroris. “Ikhwanul Muslimin akan tetap lebih kuat – melalui rahmat dan kekuatan Tuhan – daripada keputusan apapun.”
Ia menambahkan, “Kami akan tetap teguh dalam pekerjaan kami sesuai dengan pemikiran kami yang moderat dan damai, dan apa yang kami yakini benar, untuk kerjasama yang jujur dan konstruktif untuk melayani masyarakat dan kemanusiaan sebagai satu kesatuan.”
Didirikan di Mesir pada tahun 1928, Ikhwan merupakan salah satu gerakan Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia. Saat Mesir menggelar Pilpres yang bebas rahasia untuk pertama kalinya pada 2012, setahun setelah Presiden Hosni Mubarak terpaksa mengundurkan diri di tengah pemberontakan rakyat, kader Ikhwan, Muhammad Mursi, terpilih sebagai Presiden Mesir.
Namun ia tak lama menjabat karena pada tahun 2013 dikudeta oleh militer di bawah pimpinan Abdel Fattah el-Sisi yang akhirnya menjadi presiden.
El-Sisi kemudian menetapkan Ikhwan sebagai “kelompok teror”.
Ribuan anggota kelompok itu ditangkap. Ratusan anggotanya dihukum mati dalam apa yang digambarkan oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia sebagai persidangan palsu.
Dua sekutu terdekat Mesir, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, juga memasukkan kelompok itu sebagai organisasi teroris. Tapi negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, tidak, karena alasan hukum dan kebijakan.
Namun sejak Trump menjadi Presiden AS, el-Sisi telah berulang kali mendesak AS untuk menetapkan kelompok itu sebagai teroris. Pada bulan Maret 2017, Kairo mengirim lusinan anggota parlemen, mantan diplomat dan pakar hukum internasional ke Washington untuk meyakinkan AS tentang hal itu. [Rusdiono Mukri]






















