Kehadiran pondok pesantren di wilayah perkotaan menyimpan beragam peluang dan tantangan. Selain kultur masyarakat yang relatif lebih heterogen, arus informasi yang diterima oleh masyarakat mengambil peran penting dalam eksisten sebuah pesantren.
Suasana pembukaan Bimbingan Masuk Gontor (Bimasgo) oleh Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor cabang Bogor berlangsung Khidmat. Sekitar 35 calon santri mengikuti kegiatan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Hikam, Tanah Sareal, Bogor.
Ketua IKPM Bogor, Ustadz Asep Sopian, mengatakan kegiatan yang berlangsung selama 10 hari (22-31 Desember 2019) itu bermaksud untuk memberikan pembelajaran bagi calon santri agar merasakan hidup sebagai santri.
“Selama sepuluh hari ke depan, kalian akan belajar menjadi santri. Belajar hidup mandiri, jauh dari orangtua,” kata Ustadz Asep Sopian di hadapan calon santri dan orangtuanya.
“Orang-orang sukses biasanya jauh dari orang tua,” tambahnya.
Pimpinan Ponpes Darul Hikam, Bogor, Ustadz Deden Supriadi Abdullah, pun mengamini bahwa salah satu alasan berdirinya Darul Hikam karena permintaan masyarakat yang ingin putra-putrinya merasakan iklim belajar di pesantren. Meski demikian, pesantren yang berdiri pada tahun 2013 ini bermula dari Majelis Taklim Darul Hikam.
“Nama Darul Hikam tidak lepas dari adanya kajian rutin yang dilaksanakan bersama masyarakat sekitar. Kala itu kitab yang dibahas adalah kitab Al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah,” ujar Ustadz Deden kepada Majalah Gontor.
Ia menjelaskan, Ponpes Darul Hikam berawal dari pengajian anak-anak di sekitar rumah pada tahun 1999. Pengajian ini lantas berkembang dengan didirikannya madrasah diniyah pada tahun 2008 yang diikuti dengan pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu.
Namun, permintaan masyarakat agar majelis taklim ini dikembangkan menjadi pesantren terus menggema. Walhasil, pada tahun 2013, ada lima santri tercatat bermukim di kediaman keluarga besar Ustadz Deden.
“Pada tahun 2013, ada santri mukim berjumlah lima orang. Karena ada masyarakat sekitar yang ingin menitipkan putra-putrinya untuk mondok,” jelasnya sambil menjelaskan keinginan masyarakat untuk menciptakan lingkungan pesantren di sekitar rumah.
“Belum lama ini, kami mendapatkan tempat yang lebih luas sebagai sarana belajar santri di daerah Munjul, Tanah Sareal, Bogor,” imbuhnya.
Secara sistem dan kurikulum, Pondok Pesantren Darul Hikam menggunakan kurikulum Gontor, Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI). Kurikulum dan sistem pendidikan yang digunakan juga dipadukan dengan pendidikan bahasa asing, kedisiplinan dan program tahfidz Al-Qur’an.
Saat ini, santri yang bermukim di Ponpes yang terletak di Kampung Munjul, Tanah Sareal, Bogor tersebut berjumlah 120 orang yang terdiri dari murid Madrasah Diniyah dan santri KMI. Mereka berasal dari wilayah Jabodetabek, Sukabumi, Cianjur hingga Bangka Belitung. Mereka dibimbing oleh tenaga pengajar alumni Ponpes Darul Hikam dan Pondok Modern Darussalam Gontor.
Lokasi Ponpes Darul Hikam yang berada di wilayah perkotaan juga menciptakan tantangan tersendiri. Bagi alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor 1997 tersebut, lokasi berdirinya Ponpes Darul Hikam dinilai strategis dan kondusif.
“Keadaan iklim pesantren kondusif dan strategis. Tantangan pesantren di wilayah perkotaan seperti kami adalah terbatasnya pembiayaan yang menyangkut pengembangan serta pembangunan sarana dan prasarana,” katanya.
Ponpes Darul Hikam mengadopsi visi dan misi yang sama dengan Pondok Modern Darussalam Gontor. Ponpes Darul Hikam bervisi sebagai lembaga pendidikan pencetak kader-kader pemimpin umat, menjadi tempat thalabu al-‘ilmi, dan menjadi sumber pengetahuan Islam, bahasa Al-Qur’an, dan ilmu pengetahuan umum dengan tetap berjiwa pesantren.
Sedangkan misinya, menetapkan realisasi visi dengan membentuk generasi unggul menuju terbentuknya khaira ummah; mendidik dan mengembangkan generasi Mukmin-Muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, bepengetahuan luas dan berpikiran bebas serta berkhidmat kepada masyarakat.
Ponpes Darul Hikam juga mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan umum secara seimbang menuju terbentuknya ulama yang intelek serta mewujudkan warga negara yang berkepribadian Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
Kegiatan-kegiatan penunjang ataupun kegiatan ekstrakurikuler meliputi: tahfidz, pramuka, latihan berpidato (muhadharah), olahraga, bercocok tanam, kajian kitab kuning, dan keputrian (nisaiyyah).
Kemandirian
Ponpes Darul Hikam juga berusaha untuk mandiri secara ekonomi. Dalam kegiatan perekonomian, Ponpes Darul Hikam memiliki sejumlah unit usaha seperti kantin, penjualan tanaman hias, dan kuliner.
Saat ini, Ponpes Darul Hikam telah memiliki sarana dan prasarana pembelajaran penunjang kegiatan kepesantrenan. Di antaranya masjid, asrama, kelas, lapangan, ruangan khusus tahfidz Al-Qur’an dan auditorium.
Ponpes Darul Hikam memiliki hubungan yang hangat dengan masyarakat sekitar. Kegiatan-kegiatan keagamaan, sosial dan pendidikan digelar berkolaborasi dengan para tokoh dan masyarakat setempat.
“Alhamdulillah, hubungan kami dengan masyarakat baik. Kami pun sering bekerjasama dengan sejumlah tokoh dan masyarakat dalam bidang keagamaan, sosial dan pendidikan,” ujar lulusan Fakultas Tarbiyah STAI Al-Masthuriyah, Sukabumi, itu.
Ustadz Deden menambahkan, kehadiran Undang-Undang Pesantren pada 2019 diharapkan makin memotivasi, meningkatkan ghirah dan eksistensi pondok pesantren secara umum.
Ia menjelaskan, perkembangan pesantren yang sedemikian pesat, terutama sejak tahun 2000-an sebagai hal yang sangat baik dan positif. “(Perkembangan pesantren yang sedemikian pesat) sangat baik dan diharapkan dapat berpengaruh positif sebagai benteng di dunia pendidikan,” jelas pria kelahiran Bogor, 6 Juni 1975, itu.
Kini, pesantren menjadi pilihan utama masyarakat. Pesantren, kata Ustadz Deden, memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan yang lain.
“Keunggulan pesantren saat ini adalah dapat memberikan solusi dalam penanaman akhlak, pembangunan karakter anak dan masyarakat, serta mengembangkan bakat keilmuan. Dan yang paling utama, tentu saja, meningkatkan keimanan dan ketakwaan,” tegasnya.
Kalaulah ada kekurangan yang dimiliki dunia pesantren saat ini adalah hal-hal yang terkait dengan eksklusivitas, publikasi dan sosialisasi yang lebih luas di kalangan masyarakat.
Baginya, eksistensi pesantren juga perlu dibarengi dengan peningkatan kualitas pesantren. Terkait hal ini Ustadz Deden memberikan beberapa masukan, yaitu: (1) Mempertahankan sistem pesantren; (2) Memahami kebutuhan masyarakat; (3) Meningkatkan kreativitas dan kemandirian dan; (4) Meningkatkan pelayanan dan keilmuan. “Saya berharap dunia pendidikan mengedepankan peningkatan pendidikan karakter,” ujarnya. [] Mohamad Deny Irawan






















