Beijing, Gontornews – Kementerian Pertanian Cina mengaku, wabah flu burung yang masuk di Cina pada Jumat (30/12) berhasil ditangani dengan baik. Otoritas Cina juga mengaku, kasus tersebut tidak mempengaruhi harga ayam di pasaran.
Sebagaimana dilansir reuters, situasi flu burung di Cina berhasil dikendalikan dan stabil.
Sejak flu burung tersebar di Korea Selatan, negara-negara tetangga di sekitar Korsel meningkatkan kewaspadaan terkait wabah flu burung yang sangat mematikan tersebut.
Cina sendiri telah mengambil lebih dari 170 ribu unggas dari empat provinsi sejak Oktober serta menutup beberapa pasar unggas yang diduga terinfeksi flu burung.
Pemerintah Cina telah mencatat sepuluh kasus unggas terinfeksi flu burung hingga Jumat (30/12).
“Setiap kasus telah ditangani dengan tepat dan efektif tanpa penyebaran. Para ahli percaya situasi flu burung akan stabil meski kasus individual terjadi di beberapa tempat,” kata otoritas pemerintah Cina.
Kementerian Pertanian Cina bersama instansi pertanian lokal telah memantau dan menyelidiki pasar unggas dan peternakan yang menginfeksi manusia dan unggas. Hal ini dilakukan untuk menemukan sumber virus guna dilakukan penanganan darurat untuk unggas yang terinfeksi. Langkah serupa juga dilakukan kepada para peternak, tukang daging dan pedagang untuk meningkatkan program sterilisasi.
Infeksi H7N9 yang menyerang manusia dan unggas kabarnya telah menewaskan dua orang di Provinsi Anhui, Cina. Otoritas pemerintah provinsi di wilayah tersebut menemukan ada sekitar 16 orang yang terinfeksi virus H7N9 terhitung sejak 21 Desember lalu.
Terakhir, wabah flu burung terparah di Cina terjadi pada akhir 2013 hingga awal 2014 yang menewaskan 36 orang warga dengan kerugian di sektor peternakan mencapai 6 miliar dolar Amerika. [Mohamad Deny Irawan/Rus]



















