Sao Paolo, Gontornews — Menteri Kesehatan Brazil, Nelson Teich, memutuskan untuk mundur dari kursinya, Jumat (15/5). Kepada para wartawan, Teich mengungkapkan keputusannya untuk mundur dari kursi Menteri Kesehatan adalah karena alasan pribadi.
“Hidup terdiri dari pilihan dan hari ini saya memutuskan untuk pergi,” ungkap Teich sebagaimana dilansir Washington Post.
Sekretaris Kabinet, Jenderal Braga Netto, mengamini pernyataan Teich yang mundur dari kursi Menteri Kesehatan karena alasan pribadi. Presiden Brazil, Jair Bolsonaro, belum mengomentari pengunduran diri Teich.
Meski demikian, ada dugaan yang menyebutkan bahwa pengunduran diri Teich karena tidak adanya keselarasan tindakan Kementerian dengan kebijakan Presiden. Bolsonaro bersikukuh untuk menggunakan klorokuin, hydroxychloroquine, sebagai obat COVID-19. Tidak hanya itu, Bolsonaro bahkan lebih memiilh untuk mempertahankan ekonominya ketimbang memberlakukan pembatasan guna mengendalikan penyebaran COVID-19.
Kementerian Kesehatan Brazil, dilansir Reuters, mengonfirmasi 15.305 kasus baru dan 824 kasus kematian dalam 24 jam terakhir, Sabtu (16/5). Secara total, Brazil telah mengonfirmasi 218.223 kasus dengan 14.817 di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
Teich menjelaskan bahwa klorokuin bukanlah obat yang tepat untuk mengobati pasien COVID-19. Dalam sejumlah kesempatan, Teich tidak segan menyebut klorokui sebagai ketidakpastian dan mengingatkan efek samping penggunaan obat malaria tersebut.
Gubernur negara bagian Ceara, Camilo Santana, menyebut pengunduran diri Teich telah membawa ketidaknyamanan dan kekhawatiran bagi warga Brazil.
“(Pengunduran diri Teich) tidak dapat diterima bahwa dalam menghadapi krisis kesehatan yang serius ini, pemerintah masih menggelara diskusi politik dan ideologi. Itu merupakan penghinaan terhadap bangsa,” kata Camilo Santana.
Teich sendiri bukan Menteri Kesehatan kabinet Bolsonaro. Ia merupakan pengganti Menteri Kesehatan lawas , Luiz Henrique Mandetta, yang dipecat Bolsonaro. Pemecatan Mandetta tidak lepas dari kebijakan karantina wilayah di tingkat gubernur dan pembatasan kegiatan bisnis di Brazil, sesuatu yang ditolak oleh Bolsonaro. [Mohamad Deny Irawan]






















