Pondok Modern Darussalam Gontor ditinggalkan salah seorang kiainya: KH Syamsul Hadi Abdan. Beliau menghadap Sang Khalik pada hari Senin, 18 Mei 2020, pukul 09.15 WIB. Kepergian beliau menghadap ke hadirat Ilahi Rabbi membuat kita kehilangan sosok yang menginpirasi. Beliau sosok seorang kyai, guru, ayah, dan mertua yang bisa menjadi panutan dalam segala aspek kepribadiannya.
Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, kepribadian beliau nyaris membuat siapa pun akan menaruh hormat dan segan. Bahkan, saya yakin seandainya founding fathers Pondok Modern Gontor masih hidup akan merasa bangga bahwa Pancajiwa yang selama ini menjadi dasar normatif yang diusung Pondok, secara empirik telah mampu diejawantahkan beliau dalam kehidupan nyata.
Ada beberapa sisi kepribadian beliau yang kiranya perlu diungkap. Bukan dalam konteks menyanjung dan mengultuskan, tapi agar kita bisa meneladaninya.
Keikhlasan
Konsep keikhlasan telah mandarah daging dalam diri beliau. Dalam berbagai kesempatan beliau senantiasa menekankan keikhlasan ini, entah kepada keluarga, asatidz, santri, dan siapa pun. Seringkali kali dalam berbagai kesempatan, beliau berulang-ulang menyitir ayat yang berkaitan dengan ikhlas, agar sifat mulia menjadi landasan hidup dan menjalani kehidupan. Indikator keikhlasan bagi beliau sangat sederhana. Saat seseorang mengabdi, mengajar, bekerja, dan melakukan aktivitas lantas tidak tersanjung ketika ada yang memuji dan tidak tersinggung saat ada yang memaki maka itulah keikhlasan sesungguhnya.
Cara pandang keikhlasan tersebut berimplikasi pada sikap beliau untuk tidak membalas perilaku sebagian orang yang tidak suka dengan sepak terjang beliau dalam membina dan mendidik masyarakat. Jiwa keikhlasan telah menjadi bagian dari hidup beliau. Sebagai contoh, walaupun telah menjadi pimpinan pondok dengan puluhan ribu santri, beliau masih secara istiqamah mengajar di Madrasah Tarbiyatul Islam Mambil yang beliau rintis tanpa mendapatkan bayaran sepeser pun. Justru beliaulah yang turut menanggung memberikan insentif bagi guru-guru yang mengajar. Banyak contoh lain yang tidak mungkin diungkap dalam tulisan sederhana ini.
Kesederhanaan
Beliau selalu menekankan kesederhanaan kepada siapa pun; santri, keluarga, bahkan diri sendiri. Dalam hal berpakaian misalnya, nyaris tidak pernah dijumpai beliau mengenakan pakaian mewah. Dalam kesehariannya, jika sedang mengenakan kaos, senantiasa mengenakan kaos yang berlabel “Gontor”. Bukan apa-apa. Hal ini disebabkan karena kaos beliau mayoritas kaos pemberian Pondok. Model dan bahannya sama persis dengan yang dikenakan oleh ustadz maupun santri. Hal ini pula yang membuat rombongan IKPM Tasikmalaya trenyuh, bahkan menangis tersedu-sedu saat mereka silaturrahmi sekaligus menjenguk beliau saat sakit. Ternyata beliau sedang mengenakan kaos IKPM Tasikmalaya pemberian mereka. Polos apa adanya.
Dalam hal menu makanan, beliau nyaris tidak pernah meminta menu yang aneh-aneh, apalagi mewah. Apa pun yang disediakan oleh Bu Syamsul, beliau makan nyaris tanpa protes. Tidak jarang menunya sama persis dengan yang disajikan kepada santri, berupa nasi keras dan sayur sederhana.
Membincang tentang makan, ada sebuah cerita unik. Suatu ketika dalam sebuah kesempatan bepergian, beliau sekeluarga mampir di sebuah warung makan. Beliau penasaran dengan Nasi Rames, maka dipesankanlah untuk beliau menu ini. Saat itulah beliau baru mengetahui yang disebut Nasi Rames. Padahal itu hanyalah menu sederhana, namun bagi beliau merupakan sebuah menu yang istimewa. Bila dirunut, ini sesungguhnya wajar karena beliau sejak kecil hidup serba kekurangan. Beliau diasuh oleh seorang janda miskin karena sang bapak wafat saat Kiai Syamsul masih seusia anak SD.
Kemandirian
Beliau tidak pernah menggantungkan secara ekonomi kepada Pondok, kecuali apa yang memang telah diatur oleh Pondok. Oleh karenanya, di awal beliau mengabdi di Pondok Modern Gontor hingga berjalan waktu yang lama saat beliau memasuki masa tua, dengan sekuat tenaga —bahkan rela berhutang— agar mampu membeli maupun menyewa sawah garapan. Setelah shalat Shubuh beliau telah ada di sawah untuk bekerja. Saat matahari mulai naik sepenggalah, barulah beliau beranjak pulang untuk mengajar di Pondok. Di usia beliau yang telah uzur, masih sering tampak ke sawah, menjemur padi di sela-sela kesibukan mengabdi di Pondok.
Kedisiplinan
Semua penghuni Darussalam Gontor paham tentang komitmen beliau dalam hal kedisiplinan. Saat masih menjadi wakil maupun direktur KMI, seringkali beliau telah ada di kantor mendahului yang lain. Konon selama menjadi Wakil Direktur maupun Direktur KMI, tidak pernah sekalipun absen dalam kondisi apa pun dan keadaan bagaimana pun. Begitu juga ketika mendapatkan undangan menghadiri acara-acara Pondok, beliau tidak pernah datang terlambat.
Kedisiplinan yang beliau tekankan tidak sebatas retorika, tapi lebih kepada keteladanan nyata. Bagi siapa pun tanpa menunggu arahan maupun perintah akan merasa malu jika tidak berlaku disiplin sebagaimana yang beliau contohkan. Perilaku disiplin ini bukan saja diterapkan di Pondok, tapi juga di internal keluarga.
Ada sebuah cerita unik tentang komitmen disiplin yang beliau implementasikan. Suatu ketika, saat jam istirahat, beliau diminta Bu Syamsul untuk mengantar berbelanja ke Pasar Gandu. Beliau menyanggupi dengan syarat durasi berbelanja tidak melebihi tenggat waktu yang telah beliau tetapkan. Singkat cerita, walaupun sudah berusaha menepati kesepakatan waktu, tapi ternyata Bu Syamsul terlambat sekian menit keluar dari pasar. Saat telah berada di parkiran, Kyai Syamsul telah menyalakan sepeda motornya menuju ke Pondok. Sontak Bu Syamsul memanggil beliau seraya melambaikan tangan karena memang hanya berjarak sekian meter dari posisi Bu Syamsul berdiri. Bukan berarti tidak mendengar, tapi karena dianggap telah dianggap tenggat waktu dan kesepakatan sebelumnya, beliau terus melaju. Bu Syamsul pun terpaku berdiri di parkiran. Akhirnya Bu Syamsul pulang dengan mengendarai becak. Walau ada sedikit kekecewaan, namun Bu Syamsul memahami bahwa memang demikianlah komitmen beliau dalam kedisiplinan.
Istiqamah
Beliau adalah sosok yang layak diteladani dalam hal keistiqamahan dalam segala hal. Sebagai salah satu buktinya, sejak tahun 1980-an, beliau mengajar kajian Tafsir al-Qur’an setiap bakda Shubuh di Masjid Baiturrohmah Mambil Gandu nyaris tidak pernah libur. Walau sepadat apa pun acara Pondok dan sepenat apa pun yang beliau rasakan, mengajar tetap dilakukan. Tidak banyak yang disampaikan. Pada setiap kali pertemuan hanya sekadar 2-3 ayat. Kiranya beliau memegang teguh prinsip adwamuha wa in qalla.
Seringkali walaupun beliau baru pulang dari tugas Pondok ke luar kota dan tiba di Pondok hingga larut malam, namun tidak menyurutkan semangat beliau mengisi kajian ini. Yang lebih mengagumkan, sepulang dari masjid alih-alih beristirahat karena capai dan kurang tidur, beliau justru duduk di meja kerja sederhana di teras rumah untuk mengaji al-Qur’an maupun melayani tamu yang datang, utamanya ustadz yang memerlukan bertemu dengan beliau.
Kedermawan
Saya menyaksikan sendiri bagaimana beliau merupakan sosok dermawan yang jarang ditemui padanannya. Nyaris di dompet beliau tidak pernah ada uang karena beliau cenderung menaruh uang di antara sela-sela buku. Tujuannya jika setiap saat ada orang yang meminta bantuan atau beliau hendak memberi kepada seseorang tinggal mengambilnya.
Salah satu contoh bagaimana kedermawanan yang beliau tunjukkan saat pembangunan Masjid Baiturrohmah Mambil Gandu. Walaupun pembangunan masjid ini mendapat bantuan dana dari Yayasan Ar Rohmah Jakarta sebesar 115 juta rupiah, namun hingga masjid selesai ternyata menghabiskan dana 256 juta rupiah. Untuk menutupi kekurangan dana, takmir menyepakati untuk mengambil bahan material dari KUK Gontor dengan cara berhutang. Disepakati oleh seluruh jamaah untuk mengumpulkan donasi setiap bulan semampunya guna mencicil hutang tadi.
Agar tidak memberatkan masyarakat beliau lantas mengatakan bahwa berapa pun dapatnya dana untuk mencicil, kekurangannya beliau yang akan menanggung. Faktanya, dana yang terkumpul hanya kurang lebih 25% saja dari nominal yang seharusnya terkumpul. Hal ini berjalan hingga dua tahun.
Di samping itu, tidak terhitung berapa orang yang berhutang kepada beliau tanpa pernah sekalipun beliau menagih. Bahkan beliau melarang menagihnya. Belum lagi tak terhitung berapa lembaga pendidikan maupun lembaga sosial yang menjadikan beliau sebagai donatur tetap.
Tawadhu
Sifat tawadhu menjadi ciri khas KH.Syamsul Hadi Abdan. Beliau tidak pernah menunjukkan dirinya lebih hebat dan lebih mulia di hadapan orang lain. Sebagai orang Jawa, beliau lebih cenderung menggunakan Bahasa “Krama Inggil” jika sedang berbicara, tidak peduli yang dihadapi orang tua ataupun muda. Hal ini juga beliau terapkan saat mengisi pengajian bulanan internal keluarga Bani Qomariyah, yang audiennya dominan orang yang jauh lebih muda usianya dibandingkan beliau. Walaupun sempat beberapa kali dimohon memakai Bahasa Jawa “Ngoko”, namun tetap saja beliau menggunakan Bahasa Jawa “Krama Inggil”.
Nyaris semasa hidupnya tidak pernah menunjukkan sikap arogan di hadapan orang lain. Tidak jarang dalam beberapa kesempatan bertemu dalam acara-acara yang bersifat sosial kemasyarakatan, beliau lebih dahulu menyapa orang yang ditemui.
Religiusitas
Religiusitas beliau tidak perlu diragukan lagi. Komitmen menjalankan agama begitu kuat menancap. Hal ini karena perjalanan panjang beliau dididik dan ditempa oleh sang ayah, Mbah Ngabdan, seorang muadzin di Masjid Nido Besari Mambil. Hal ini diperkuat dengan proses menuntut ilmu di beberapa pesantren sebelum kemudian menuntaskan studi di Pondok Modern Gontor Ponorogo.
Untuk sekadar menyebut, beliau sempat “mesantren” di pondok salaf yaitu di Pesantren Bajang Kidul Balong, Pesantren Krempayang Tanjung Anom Nganjuk, dan sempat singgah sebentar di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar. Religiusitas yang beliau tunjukkan bukan dalam rangka mencari popularitas maupun sanjungan, tapi lebih bagaimana beliau berusaha mengimplementasikan ajaran Islam secara komperehensif.
Beliau terbiasa melaksanakan puasa sunnah secara konsisten. Saat diam, entah dalam perjalanan maupun sedang menanti sesuatu, nyaris mulut beliau senantiasa basah dengan zikrullah. Salah satu wiridan yang selalu beliau lakukan mengaji al-Qur’an 1 juz setiap pagi bakda Shubuh maupun bakda shalat Maghrib. Beliau kadang melakukannya di sela-sela menjalankan tugas menerima tamu. Kebiasaan membaca al-Qur’an senantiasa dijaga dan dilakukan bahkan di hari saat beliau terjatuh tak sadarkan diri yang menjadi wasilah kewafatan beliau menghadap Sang Khalik.
Di samping itu, yang menjadi ciri khas beliau yaitu menghindari dan enggan menggunjing atau ghibah membicarakan orang lain. Hal ini amini oleh salah satu murid kesayangan beliau, Dr KH Ikhwan Hadiyin MM, pimpinan Pondok Pesantren Darul Azhar Banten dalam sebuah tulisannya.
Kini beliau telah tiada. Jasad boleh terkubur, namun keteladanan beliau akan senantiasa dikenang, sepak terjang perjuangan beliau akan terus dilanjutkan. Semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosanya, memaafkan segala salah dan khilafnya, memberatkan mizan kebaikannya serta meringankan mizan keburukannya, menghadap Allah Sang Maha Pengasih dalam keadaan khusnul khatimah. Aamiin yaa mujibas saailiin. []
Mambil, 27 Ramadan 1441 H.




















